LOGINMobil melaju kencang menembus kabut pagi yang menyelimuti jalanan menuju pesisir utara. Di dalam kabin, keheningan terasa mencekik. Luna terus melirik ke arah kaca spion, sementara Adrian tampak gelisah, sesekali menyeka keringat dingin di dahinya meski udara pagi sangat menusuk. "Kenapa kita ke pelabuhan lama, Kak? Bukankah itu kawasan sepi?" tanya Luna, mulai merasakan firasat buruk saat melihat papan penunjuk jalan ke arah dermaga tua yang sudah tidak beroperasi. Adrian tidak menjawab, matanya lurus menatap aspal. "Hanya di sana kapal sewaan itu bisa bersandar tanpa menarik perhatian otoritas pelabuhan, Luna. Diamlah, kita hampir sampai." Satu kilometer sebelum mencapai titik koordinat, sebuah pesan masuk ke ponsel Adrian yang terletak di dashboard. Layarnya menyala, memperlihatkan pesan singkat dari nomor tanpa nama: "Pancing dia ke ujung dermaga. Hadiahmu sudah menunggu." Luna sempat melihat kilasan pesan itu. Jantungnya mencelos. "Hadiah? Apa maksudnya, Kak?" Adrian mengaba
Dua jam sebelum fajar menyingsing. Arkan duduk di kursi kerja kulitnya yang besar di dalam mansion Wijaya. deretan monitor menampilkan pergerakan saham serta titik GPS ponsel luna.Di depan meja Arkan, ia berdiri dengan bahu merosot dan wajah yang berkeringat meski AC ruangan sangat dingin.Arkan memutar-mutar sebuah pulpen Montblanc di jarinya, matanya tidak beralih dari layar tablet."Jadi, Adrian," suara Arkan memecah kesunyian, begitu rendah namun bergema. "Kamu pikir dengan membawanya ke rumah Sarah, aku tidak akan bisa menemukan kalian? Kamu meremehkan teknologi yang aku beli, atau kamu memang sebodoh itu?"Adrian menelan ludah dengan susah payah. "Arkan, tolong... Luna sangat ketakutan. Dia hanya butuh waktu untuk bernapas. Aku hanya ingin membantunya sebagai teman."Arkan menghentikan putaran pulpennya. Ia berdiri perlahan, berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Adrian. Arkan jauh lebih tinggi, dan auranya seolah menghisap oksigen di sekitar mereka."Teman?" Arka
Sarah berjengit, menepuk dahinya pelan sembari menghela napas lega. "Oh, astaga! Luna, maafkan aku. Aku lupa kalau tadi sebelum kamu sampai, aku sempat memesan martabak lewat aplikasi. Aku belum sempat makan malam karena lembur."Luna masih terpaku, tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku jarinya memutih. "Kamu yakin itu kurir makanan, Sar? Jam dua pagi?""Di kota ini, makanan tidak pernah tidur, Luna, kamu tau itu kan ?" Sarah berusaha mencairkan suasana meski jantungnya sendiri masih berdegup kencang. Ia berjalan menuju pintu, mengintip sedikit dari balik jendela. "Benar, itu jaket ojek online. Tunggu sebentar."Sarah membuka pintu sedikit, melakukan transaksi singkat, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik yang menyebarkan aroma manis mentega. Namun, Luna sama sekali tidak merasa lapar. Baginya, setiap suara di luar sana adalah ancaman yang bisa menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas Arkan."Makanlah sedikit, Luna. Kamu pucat sekali," ujar Sarah sambil membuka kot
Mobil itu melaju membelah kegelapan malam. Di dalam kabin yang sunyi, Luna terus menatap spion samping, melihat gerbang megah kediaman Wijaya yang perlahan menghilang ditelan bayangan. "Kamu sudah aman, Luna," ucap Adrian memecah keheningan. Matanya lurus menatap jalanan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat."K adrian, kita akan pergi ke mana?" tanya Luna. Suaranya serak. "Arkan benar, ibunya tidak akan diam saja. Kita tidak bisa hanya bersembunyi di dalam kota."Adrian melirik sekilas, wajahnya tampak kaku. "Aku sudah menyiapkan apartemen kecil di pinggiran kota. Atas nama salah satu stafku yang terpercaya. Untuk sementara, itu tempat paling aman dari jangkauan Arkan."Luna terdiam sejenak, memikirkan kata-kata itu. Apartemen milik staf Adrian? Itu artinya ia hanya akan berpindah dari satu pengawasan ke pengawasan lain."Tidak, k Adrian. Jangan ke sana," potong Luna tegas.Adrian menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut. "Maksudmu? Kamu tidak bisa kembali
Pukul sebelas malam , Luna berdiri di balik gorden kamarnya, menatap ke arah gerbang belakang yang tertutup. Tangannya gemetar, menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala menampilkan pesan dari Adrian. "Pilihan yang sulit, bukan?" Suara itu muncul dari kegelapan sudut kamar. Luna tersentak, jantungnya nyaris melompat keluar. Di sana, Arkan sedang menyesap segelas wiski. Cahaya bulan yang masuk menyinari separuh wajahnya, membuatnya tampak seperti predator yang sedang menunggu mangsa. "Arkan? Sejak kapan kamu di sana?" suara Luna bergetar. "Sejak kamu mulai menatap jam setiap lima menit sekali," Arkan bangkit, meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang mematikan. "Kamu pikir aku tidak tahu Adrian mengirimkan pesan? Kamu pikir sistem keamanan rumah ini membiarkan sinyal asing masuk tanpa terdeteksi?" Luna mundur selangkah, napasnya memburu. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu membiarkanku?" "Karena aku ingin tahu," Arkan melangkah mendekat, langkah kakinya tidak bersuara d
Malam semakin larut, namun amarah di dada Arkan justru semakin berkobar. Laporan medis itu masih menyala di layar tabletnya, seolah menertawakan kebodohannya yang sempat merasa "terikat" secara emosional semalam. Bodoh," desis Arkan pada dirinya sendiri. "Kamu pikir dia mulai menyerah, ternyata dia sedang membangun benteng." Tanpa mengetuk, Arkan membuka pintu kamar dengan kunci cadangan. Suara pintu yang membentur dinding membuat Luna yang sedang meringkuk di atas ranjang tersentak bangun. "Arkan? Apa yang kamu lakukan? Aku bilang aku butuh waktu sendiri!" Luna bangkit, mencoba menutupi kegugupannya. Arkan tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan tatapan sehitam jelaga, lalu melemparkan tabletnya ke atas kasur, tepat di depan Luna. "Jelaskan ini padaku, Luna. Sekarang." Luna meraih tablet itu. Begitu matanya membaca baris tentang jejak kontrasepsi, tubuhnya membeku. Warna di wajahnya hilang seketika. "Arkan, ini..." "Kamu meminumnya?" suara Arkan rendah, namun mengandung a







