LOGINIbu Rina mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tentu tidak, Ayah. Aku hanya... memikirkan protokol keluarga," jawabnya dengan suara yang dipaksakan tenang, meski api kemarahan berkobar di matanya. Tuan Besar Wijaya tidak menghiraukan pembelaan menantunya. Beliau beralih kembali pada Luna, lalu menepuk punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Ingat, Luna. Di keluarga ini, kekuatan bukan hanya berasal dari nama belakang, tapi dari apa yang kamu miliki secara sah. Jaga saham itu, dan saham itu akan menjagamu." Setelah Tuan Besar masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap menuju bandara, suasana di taman mendadak membeku. Ibu Rina melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Luna hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Jangan merasa menang, Luna," desis Ibu Rina, suaranya begitu rendah hingga Arkan yang berdiri dua langkah di belakang pun hampir tak mendengarnya. "Saham itu bisa menjadi berkah, namun bisa juga menjadi surat kematianmu. Aku akan memastikan Kak
Tuan Besar Wijaya tersenyum puas melihat cincin itu melingkar di jari manis Luna. Baginya, permata itu telah menemukan pemilik yang tepat, namun bagi Ibu Rina, kilauan berlian itu terasa seperti bara api yang membakar harga dirinya. "Terima kasih... Kakek," bisik Luna. Berat cincin itu seolah melambangkan beban baru yang harus ia pikul di rumah ini. "Sudah, jangan sungkan. Arkan, bawa istrimu istirahat setelah makan . Wajahnya masih pucat," perintah Tuan Besar sambil menyeka bibirnya dengan serbet sutra. " Rina, ikut aku ke ruang kerja. Ada beberapa dokumen yayasan yang ingin aku bahas bersamamu." Ibu Rina tersentak. Ia sempat melirik tajam ke arah tangga, teringat bahwa Dokter Hendra mungkin masih bersembunyi di atas. Namun, perintah mertuanya adalah titah yang tak terbantahkan. Dengan langkah kaku, ia mengekor di belakang Tuan Besar, meninggalkan Arkan dan Luna di ruang makan yang mendadak terasa hampa. Begitu mereka masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, Arkan langsung mele
Langkah kaki Tuan Besar Wijaya yang berat dan detak tongkatnya terhenti tepat saat pintu di lantai atas terbuka. Arkan muncul sambil merangkul bahu Luna dengan sangat protektif. Meski wajah Luna masih terlihat pucat di balik bedak tipisnya, ia berusaha memberikan senyum kecil yang dipaksakan. "Kakek!" seru Arkan, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap berwibawa. Tuan Besar Wijaya mendongak. Pandangan matanya yang semula tajam dan penuh selidik, perlahan-lahan berubah menjadi cerah saat melihat sosok wanita yang berdiri di samping cucu kesayangannya. "Arkan... jadi ini istrimu?" gumam Tuan Besar. Senyum tipis mulai muncul di wajah tuanya yang keras. Saat Arkan memandu Luna turun dan sampai di hadapan Tuan Besar, Arkan segera memperkenalkan istrinya. "Kek, perkenalkan. Ini Luna, istri Ku. Maaf kami belum sempat sowan ke kediaman Kakek." Luna membungkuk dengan sangat hormat, mencoba menyembunyikan tangannya yang masih sedikit gemetar di balik gaunnya. "Selamat siang, Tuan
"Tidak! Jangan sentuh aku!" jerit Luna, tubuhnya meronta saat tangan-tangan dingin para pelayan mencengkeram bahunya. Namun, kekuatan mereka jauh melampaui tubuhnya yang sudah lemas karena tekanan batin. Dokter Hendra mendekat, wajahnya tanpa ekspresi saat ia menyiapkan alat suntik dan tabung baru. Cahaya lampu kamar yang mewah kini terasa seperti lampu ruang interogasi yang menyilaukan. "Ibu, hentikan! Ini penghinaan bagi istriku!" Arkan berteriak dari ambang pintu, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua pengawal bertubuh kekar. "Apakah Ibu sudah tidak mempercayai putra Ibu sendiri?" Ibu Rina berbalik perlahan, menatap Arkan dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku lebih percaya pada fakta medis daripada pada putra yang matanya telah dibutakan oleh wanita rendahan. Jika dia memang bersih, kenapa kamu harus gemetar, Arkan? Lakukan, Hendra!" Tepat saat jarum itu nyaris menyentuh kulit Luna, pintu kamar terbuka . Alex masuk dengan napas tersengal-sengal, wajahnya menu
Pintu kamar itu terbuka dengan derit pelan, Seorang wanita berseragam medis putih bersih masuk, diikuti oleh dua perawat yang membawa nampan berisi peralatan pengambilan darah dan spekulum yang berkilat dingin di bawah lampu kristal."Selamat pagi, Nyonya Luna," sapa dokter itu dengan nada profesional yang mekanis. "Saya Dokter Hana. Nyonya Besar meminta saya melakukan pemeriksaan reproduksi menyeluruh pagi ini."Luna mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Matanya liar mencari sosok Arkan, namun pria itu sudah berdiri di sudut ruangan, bersedekap dengan wajah yang kembali membeku seperti patung es."Arkan... tolong," bisik Luna dengan bibir gemetar.Arkan tidak menjawab secara lisan. Ia hanya memberi kode singkat pada seorang perawat pria di belakang Dokter Hana—perawat yang wajahnya sedikit lebih muda dan tampak gelisah. Itu adalah orang kiriman Alex. Arkan kemudian melangkah maju, memposisikan dirinya di samping tempat tidur, menghalangi pandangan langsung dari kamera pe
Arkan mematikan mesin mobilnya dengan sentakan kasar . Layar dashboard masih menyala, menampilkan notifikasi dari Alex yang seolah menjadi lonceng kematian bagi rencana isolasi yang baru saja Arkan susun di kepalanya. Matanya yang tajam melirik Luna yang tampak rapuh di kursi penumpang, lalu beralih menatap gerbang vila pribadinya yang tersembunyi di balik kabut bukit. "Rencana berubah," desis Arkan. Suaranya terdengar seperti gesekan logam yang dingin, tajam dan tidak terbantahkan. Luna tersentak, bahunya menegang saat ia menatap profil samping wajah Arkan yang mengeras. "Apa maksudmu? " tanya Luna dengan suara bergetar. "Kenapa kita tidak masuk? Tanpa menjawab, Arkan memutar kunci dan menyalakan kembali mesin. Bukannya turun menuju vila, ia justru memutar balik kendaraan itu dengan gerakan drift yang sangat tajam, Mobil sport itu kini melesat kembali ke arah kota, membelah kabut yang mulai menipis oleh sinar fajar. "Kita pulang ke mansion ," ucap Arkan datar. Pandangannya







