Bu… buat apa Bu Selina mau memesan pria-pria seperti itu?” Shifa mengeja kalimatnya dengan susah payah. Jarinya saling meremas di depan perut, sementara tatapannya naik turun, antara rasa penasaran dan takut. Selina menatapnya sekilas. Sudut bibirnya terangkat pelan, membuat kedua pipinya semakin bergerak naik. “Orang itu akan aku sewa untuk dijadikan hadiah.” Namun, detik berikutnya senyum itu lenyap. Sepasang mata Selina berubah tajam, dingin, dan penuh tekanan. “Shifa, kamu tahu, kan? Sebaiknya kamu hanya lakukan tugasmu dan tidak perlu bertanya.” Mendapat tatapan seperti itu, Shifa langsung menunduk. Bahunya menegang. “Ba—baik, Bu. Saya akan carikan klub malam sesegera mungkin.” Usai berkata demikian, pegawai itu segera pamit dan undur diri dengan langkah tergesa. Di saat yang bersamaan, Selina mendengar bunyi notifikasi pesan masuk. Layar ponselnya menyala, menampilkan dua pesan yang datang hampir bersamaan, dari Dusan dan Marissa. Dusan: [Sayangnya Papa sudah istirahat? Ap
Terakhir Diperbarui : 2026-01-13 Baca selengkapnya