Home / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 46: Satu-satunya Untukku

Share

Chapter 46: Satu-satunya Untukku

Author: KIKHAN
last update publish date: 2026-01-12 12:01:53

“Baru kali ini aku merasa tersinggung,” kata Dylen, nada suaranya setengah serius, setengah bercanda.

Velian mengerutkan dahi. “Kapan aku menyinggungmu?”

Dylen menoleh, menatap Velian sebentar, lalu menarik napas pelan. “Aku datang bersamamu, Rhys juga ada di sini … tapi kau hanya melihatnya. Itu membuatku tersinggung.”

Velian menatap Dylen, sedikit terkejut.

Dylen hanya menggeleng, bibirnya tersungging. Ada rasa geli yang samar di balik tatapan seriusnya.

*

“Kalian me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 144: Raven Berhenti Berharap

    Cara Rhys memandang Eira.Cara pria itu selalu mencarinya di tengah keramaian. Cara suaranya berubah ketika berbicara kepada Eira. Cara ia melindungi, mengkhawatirkan, bahkan kehilangan ketenangannya ketika Eira terluka.Raven tidak perlu bertanya kepada Rhys untuk mengetahui jawabannya.Hati pria itu memang tidak pernah berada di tempat lain.Hatinya hanya untuk Eira.Dan untuk pertama kalinya, Raven tidak merasa marah karena menyadarinya.Ia justru merasa lega.Sebab selama ini, tanpa sadar, ia masih hidup dengan kemungkinan bahwa mungkin suatu hari Rhys akan melihatnya sebagai seorang perempuan, bukan sekadar ibu bagi Alverine atau istri yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan keluarga.Kini Raven tahu bahwa kemungkinan itu tidak pernah ada.Ia tidak ingin merebut tempat Eira.Tidak ingin menunggu seseorang yang hatinya sudah memilih perempuan lain.Dan yang paling penting, ia tidak ingin Alverine kelak tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta berarti bertahan di tempat yang tidak lagi

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 143: Keinginan Mundur dari Keluarga Vance

    “Alverine. Kau sudah tahu bahwa ibu kandungmu telah tiada setelah melahirkanmu, dan Dame datang atas perintah Raja Aethelred IV serta Ratu Isolde VI untuk menyusuimu.”Raven berhenti sejenak, memastikan Alverine masih menyimak setiap perkataannya.“Oleh karena itu, Dame kemudian diangkat menjadi istri Papa Rhys. Sebelumnya, Dame hanyalah seorang bangsawan biasa yang hidup sederhana di wilayah timur Morwenia. Mereka memanggil Dame ke istana dan mempercayakan satu hal kepadaku—menjadi ibu sambungmu.”Alverine masih diam. Tatapannya tidak beralih dari wajah Raven.“Ketika pertama kali melihatmu, kau begitu mungil, lucu, dan sangat cantik.” Senyum tipis terukir di wajah Raven saat mengingatnya. “Kulitmu sama seperti Papa Rhys. Sementara warna iris matamu yang biru indah sama persis dengan ibumu.”Tangannya perlahan meraih tangan kecil Alverine.“Dame menerimamu tanpa berpikir panjang. Sejak saat itu, Dame melihatmu tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Dari seorang bayi kecil yang ha

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 142: Leona dan Raven Sedang Mempertimbangkan Sesuatu

    Rhys mengangkat dagu Eira dengan lembut. Tatapan mereka bertemu, penuh cinta yang selama ini sempat tertutup oleh kesalahpahaman—seperti bunga peony yang kembali bermekaran setelah lama menunggu musimnya. “Malam ini saya tidur bersamamu, ya?” Eira terdiam sesaat. Tatapannya masih terpaku pada mata Rhys. Satu tangan Rhys terangkat, menyelipkan rambut Eira yang jatuh di sisi wajahnya ke belakang telinga. Wajahnya bergerak perlahan mendekat, sementara tatapannya sempat jatuh pada bibir Eira sebelum kembali menatap kedua mata wanita itu. Eira tanpa sadar memejamkan mata. Jarak di antara mereka menghilang. Bibir Rhys menyentuh bibirnya dalam kecupan lembut yang perlahan menjadi lebih dalam. Kedua tangan Eira ikut bergerak, melingkar di leher Rhys seolah tubuhnya tahu apa yang harus dilakukan bahkan sebelum pikirannya sempat menyadarinya. Rhys kemudian mengecup pipi kanannya, lalu pipi kirinya, keningnya, sebelum kembali menemukan bibir Eira. Setiap kecupan terasa seperti cara merek

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 141: Eira dan Rhys Membicarakan Lucien dan Garrick

    Eira duduk bersama Rhys di tepi kasur.Suasana yang sejak awal terasa berjarak dan dingin kini tidak lagi begitu kentara. Meski begitu, keduanya masih duduk berdampingan dalam diam, sama-sama kebingungan harus memulai percakapan dari mana.Wajah mereka masih sembab. Setidaknya, masalah yang selama ini membebani hati akhirnya terselesaikan lebih cepat dari yang mereka bayangkan.“Setelah malam ini berakhir, apakah tidak masalah jika Velian yang kembali?” tanya Eira.“Ada apa memangnya?” Rhys menoleh.“Velian harus mengambil salah satu pusaka Morwenia di istana agar bisa kembali ke dunianya.” Eira sendiri masih belum memahami bagaimana mekanismenya. “Namun, begitulah yang Lucien katakan.”Rhys menyimak penjelasannya sebelum akhirnya bertanya, “Lucien? Putra Mahkota?”“Ya.”Baru sekarang Rhys mengetahui bahwa Pangeran Lucien ternyata telah mengetahui rahasia mereka selama ini.Tatapannya beralih kepada Eira dengan ekspresi tak percaya. Rupanya, orang yang seharusnya paling dekat denganny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 140: Semua Telah Terucap

    “Aku takut kehilanganmu bahkan setelah aku mati.”Rhys membawa Eira ke rumah ini bukan semata-mata untuk memenuhi janjinya kepada Maren Shawn.Ia membawanya kemari karena berharap Eira tidak lagi merasa sendirian. Ia ingin memberinya tempat untuk memulai kembali, membangun kebahagiaan dari hal-hal kecil yang bisa mereka bagi bersama.Namun, seiring waktu berjalan, Rhys justru tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati Eira.Wanita itu begitu tertutup. Ia jarang berbicara lebih lama dengannya, seolah selalu ada jarak yang tidak boleh ia lewati.Rhys mengira Eira hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. 'Mungkin ia masih berduka'. Mungkin suatu hari nanti, ketika luka di hatinya perlahan melebur bersama waktu, Eira akan kembali menjadi dirinya yang ceria.Namun, bukan duka yang melebur. Melainkan hubungan mereka yang perlahan kehilangan kehangatan.Tanpa disadari, keduanya membangun benteng masing-masing.Rhys takut jika terlalu memaksakan diri untuk mendekati Eira, wani

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 139: Eira Menjelaskan Takdirnya

    Setelah kembali ke tubuhnya, Eira segera mencari Rhys.Namun, kamar pria itu kosong.Ia mengetuk pintu kamar Alverine, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Kosong juga.Eira menutup pintu dan kembali melangkah. Langkahnya terburu-buru, pikirannya terlalu penuh untuk menentukan ke mana harus pergi. Ia bahkan tidak tahu harus mencari Rhys di mana.Di tengah lorong, ia berpapasan dengan Leona. Namun, Eira sama sekali tidak sempat menoleh ataupun menyapanya.Leona langsung memahami siapa yang sedang dicari Eira. Meski Eira telah melewatinya beberapa langkah, ia tetap memanggil dengan suara yang cukup keras.“Kau mencari Rhys?”Eira berhenti seketika dan berbalik. “Kau melihatnya?”“Dia baru saja pergi ke halaman belakang.” Leona menunjuk ke arah lorong di sebelahnya. “Mungkin ke kubah kaca paviliun.”“Terima kasih.”Eira langsung berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.Seharusnya ia tetap berjalan lurus.Eira menoleh ke belakang, kemudian

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 4 : Eira yang Lain

    Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 3: Lepas Kendali

    Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status