Home / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 56: Demi Bertahan

Share

Chapter 56: Demi Bertahan

Author: KIKHAN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-28 18:00:07

Raven mendorong Rhys masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu rapat-rapat agar tak satu pun suara lolos ke luar. Tubuh Rhys sempoyongan ketika ia menjatuhkan diri ke tepi ranjang, satu tangannya memijit dahi seolah kepalanya hendak pecah.

“Kau sudah gila,” hardik Raven tertahan. “Kau lupa apa yang Eira katakan terakhir kali? Sekali saja kau menyentuhnya lagi, dia akan pindah ke Istana.”

Rhys menjawab pelan, nyaris bergumam. “Saya hanya … khawatir.”

Raven melangkah mendekat dan menega
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 77: Tabir yang Runtuh

    Tangan kanan Dylen terangkat setengah. Udara di sekitarnya bergetar tipis sebelum pusaran air kecil terbentuk, melingkari pergelangan tangannya seperti arus yang hidup.Dalam sekejap—Sebuah buku tebal muncul di genggamannya.“Kau beruntung,” desis Dylen pelan, setengah tak percaya, sambil menyerahkan buku itu pada Garrick. “Dan lebih dari itu … kau berhasil menjadi orang yang mereka percayai.”“Mereka?” ulang Garrick, menerima buku itu dengan alis berkerut.Dylen menatapnya lurus. “Keduanya memilihmu,” ujarnya. “Jika suatu saat rahasia itu tak lagi bisa ditutup … mereka akan memberitahumu lebih dulu, bukan Rhys.” Ia berhenti sejenak, seolah memberi waktu pada kata-katanya untuk meresap. “Kenapa?” lanjutnya pelan. “Karena Rhys bisa saja melabeli mereka sebagai pengkhianat.”Sorot matanya menggelap.“Ia tidak akan tahu siapa yang sebenarnya ia cintai. Antara yang asli … dan yang palsu,” tambah Dylen lirih. “Rhys akan kebingungan.”Garrick membuka buku itu.Kosong.Halaman demi halaman—

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 76: Retakan Dalam Kebohongan

    Tanpa sepengetahuan mereka, Garrick diam-diam mendatangi Dylen di Akademi Marindor.Kunjungan itu terjadi tak lama setelah Velian pingsan—di saat semua orang masih terfokus pada kondisinya.Namun bagi Garrick, ada sesuatu yang jauh lebih mengusik pikirannya.Sebuah bisikan.Samar, nyaris tak terdengar … namun cukup jelas untuk menghancurkan seluruh keyakinannya.“Aku … bukan ... Eira...”Sejak saat itu, ia tahu—ada kebenaran yang disembunyikan.Ketika Garrick memasuki Akademi Marindor, suasana terasa tidak seperti biasanya.Sejumlah murid laki-laki berhamburan keluar dari pintu utama, wajah mereka dipenuhi kebingungan sekaligus kecemasan. Suara gaduh memenuhi halaman, membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bertukar cerita dengan nada tegang.“Kristalnya sempat redup…”“Tiba-tiba saja, semua sihirku tidak bisa digunakan!”Kabar itu menyebar cepat.Kristal Marindor—sumber utama yang menjaga kestabilan aliran sihir di akademi—sempat kehilangan cahayanya selama beberapa saat.Insi

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 75: Garrick Tahu Velian Ardyn

    Pintu kamar tertutup keras.Velian masuk tanpa menoleh ke belakang, napasnya tidak beraturan. Langkahnya terhenti di samping meja rias, dan di sanalah—pantulan Eira muncul, wajahnya dipenuhi kegelisahan saat melihat kondisi Velian yang berantakan.“Mengapa kau kembali sebelum acara selesai?” tanya Eira, bingung.Namun Velian tidak menjawab, seolah tidak mendengar apa pun. Tangannya bergerak cepat, hampir gemetar, membuka laci nakas satu per satu dengan panik. Ia mengobrak-abrik isinya, mencari sesuatu—sesuatu yang bisa menenangkan dadanya yang terasa seperti akan meledak.Napasnya semakin pendek. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia butuh obat penenang. Sekarang. Sebelum tubuh lemah ini kembali menyerah.Eira ikut panik, langkahnya mendekat, namun tetap tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.“Velian, ada apa denganmu?!” suaranya mulai meninggi, penuh kecemasan.Namun Velian masih tidak menjawab.Ia hanya terus mencari—dengan tangan gemetar, dengan napas yang semakin tercekik, da

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 74: Wajah dari Masa Lalu

    Alverine menatapnya lurus, tanpa ragu. “Bukankah hubungan kalian sangat dekat?”Velian terdiam sesaat, lalu matanya membelalak tajam.Refleks, ia melirik ke arah lain. Rhys, Raven, dan Leona tampak tetap fokus pada hidangan mereka—namun jelas, mereka semua mendengar. Tatapan mereka sekilas mengarah ke Velian dan Alverine, sebelum kembali berpura-pura tidak peduli.Suasana yang semula tenang kini terasa berubah … lebih tegang, meski tak ada satu pun yang mengakuinya.“Ups!”Alverine nyengir lebar sambil menutup mulutnya sendiri, seolah baru sadar telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.Di sampingnya, Velian hanya bisa tertawa kecil—pahit, tipis, dan nyaris tak terdengar.“Pangeran akan menyusul setelah menyelesaikan urusannya, Alverine,” ujar Ratu Isolde lembut, menatap gadis kecil itu dengan gemas. “Kau sangat ingin melihatnya, ya?”Alverine menahan senyumnya, namun kilatan antusias tetap terlihat jelas di matanya.“Bolehkah aku bermain de

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 73: Di Tengah Meja yang Ramai

    Dari pantulan cermin rias, Velian membuka suara.“Besok ada jamuan. Kenapa tidak kamu saja yang hadir? Sekarang kita sudah bisa bertukar peran.” Suaranya tenang, tapi menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Namun jika ditarik beberapa langkah dari pantulan itu, kenyataan yang berbeda terlihat.Eira Shawn berdiri di sana, menyisir rambut gelombangnya yang indah dengan gerakan pelan dan teratur. Wajahnya tenang, seolah tak ada gejolak apa pun—berbanding terbalik dengan apa yang baru saja terjadi beberapa saat lalu.Sejak Velian pingsan karena sesak napas, sesuatu telah berubah.Kini, mereka benar-benar bertukar peran.Dan pagi itu masih terlalu dini untuk memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di antara mereka.“Aku tidak ingin. Kau saja yang berada di sana.” Eira menjawab tanpa menoleh. Nada suaranya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Baginya, satu hal sudah cukup—ia telah meminta maaf pada Rhys.Velian mengembuskan na

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 72: Maaf, Rhys...

    Leona menoleh terkejut ketika pelayan datang tergopoh-gopoh dari luar ruang makan, wajahnya pucat dan napas tersengal. "Nona … Nona Eira… jatuh pingsan di kamar," lapor pelayan terbata-bata."Lagi?!" seru Leona, kata pertama yang keluar dari mulutnya penuh kecemasan. Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dari kursi, langkahnya cepat. "Bagaimana dengan tabib? Cepat panggil sekarang!"Setelah menerima konfirmasi bahwa tabib sedang dalam perjalanan, Leona langsung melesat ke kubah kaca, tempat Rhys dan Raven berdiri dari jauh. Dari sana, ia sudah bisa merasakan ketegangan di antara keduanya.Begitu Leona tiba, Rhys dan Raven kompak bungkam, menatapnya seolah menyadari sesuatu yang tak perlu diucapkan.Napas Leona tersengal, dada terasa sesak karena berlari secepat mungkin. "Kalian sibuk bertengkar di sini, sampai tidak tahu Eira pingsan?!" suaranya meninggi, setengah membentak penuh kemarahan dan kepanikan.Detik itu juga, Rhys langsung melesat meninggalkan kubah kaca

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 70: Halaman yang Tidak Dituliskan

    Raven memimpin jalan menuju bagian mansion yang jarang dijaga pengawal, dekat kubah kaca tempat Velian sering singgah untuk sekadar merenung. Cahaya pagi menembus kaca tinggi itu, jatuh lembut di lantai batu yang dingin.Begitu tiba, Raven berhenti. Ia menarik napas panjang, seolah menahan se

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 9: Alverine Marah & Menangis

    Ruangan mendadak senyap. Leona yang mendengar ucapan itu menegang; dahinya berkerut, bibirnya menahan amarah. Seandainya Rhys tidak ada di sana, mungkin ia sudah menyeret anak itu ke luar.Leona hanya bisa menatap pahit dan bingung. Apakah ia memaksa anak itu menyukainya? Tidak, kan?Rh

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 8: Alverine Tidak Suka Leona

    Hanya Leona yang tampak tidak terlalu peduli dengan nasib Eira di mansion ini, kecuali jika hal itu bisa menarik perhatian Rhys.Bahkan ketika siang bolong tadi seluruh penghuni mansion geger karena Rhys menghunuskan pedang pada Eira, Leona justru terusik oleh alasan yang berbeda: itu adalah

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 7: Rhys yang Sedikit Curiga dengan Perubahan Eira

    Velian menahan napas, tubuhnya menegang. Tatapannya panik, ketakutan, sekaligus tak mengerti.“Tu-Tuan Rhys!” Tabib dan Garrick langsung berlutut, berseru panik. “Mohon jatuhkan pedang, Tuan!”Velian mundur perlahan, suara gemetar ke luar dari bibirnya. “Beraninya pakai senjata pada per

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status