MasukDalam beberapa jam, Velian akhirnya kembali mengambil alih tubuh Eira Shawn ketika perempuan itu tertidur lelap.Jam digital berbentuk kotak di atas meja, yang menampilkan prediksi cuaca serta suhu terkini, menunjukkan pukul empat sore.Velian segera bangkit hingga duduk. Ia mengatur napasnya perlahan, memastikan ekspresi dan pikirannya kembali terkendali sebelum keluar kamar dan berhadapan dengan orang-orang di mansion.Namun, ia tidak menyangka Lucien masih berada di sana.Dari jendela kamar, Velian melihat sosok pangeran itu berada di taman bunga mansion bersama Alverine. Mereka sedang bermain dengan Xuu, anjing kecil berbulu putih bersih milik Dame Raven.Alverine melempar sebuah piringan kecil ke arah taman, dan Xuu langsung berlari mengejarnya dengan lincah. Setelah berhasil menangkapnya, anjing kecil itu kembali membawa piringan tersebut dengan ekor yang bergoyang penuh semangat.Permainan itu kemudian bergantian dilakukan bersama Lucien.Hal yang
“Jangan.” Larangan Lucien terdengar tegas, hampir memotong gerakan Alverine.Tangan kecil yang semula hendak meraih gagang telepon antik milik Eira langsung berhenti di udara. Alverine menoleh dengan tatapan bingung.Sementara itu, Eira memperhatikan perubahan ekspresi Lucien. Wajah pria itu mendadak menjadi datar, seolah sedang menahan sesuatu. Ada ketegasan yang berbeda dalam suaranya, tetapi ia masih berusaha menjaga sikap lembut di hadapan mereka.Lucien kemudian beralih menatap Alverine. Ekspresinya kembali melunak, disertai senyum tipis. “Tidak perlu menelepon ayahmu,” ujarnya. “Sebaiknya kita pergi saja berdua dan memberikan ruang bagi Nona Eira untuk beristirahat.” Ia melangkah mendekat, lalu mengangkat Alverine turun dari kursi dengan hati-hati. “Bukankah itu lebih baik?”Alverine menatap Eira sebentar, lalu mengangguk kecil meski terlihat sedikit kecewa. “Pangeran benar,” jawabnya pelan.Eira hanya diam memperhatikan mereka. Ada sesuatu dalam cara Lucien bertindak yang membu
“Eira.”Suara Lucien akhirnya memecahkan keheningan setelah Eira terpaku lebih dari lima detik.Di sampingnya, Alverine ikut mendongak heran. Melihat Eira terus menatap Lucien tanpa berkedip, ia langsung menghentakkan kaki sekali ke tanah. “Mami Eira!” Nada suaranya terdengar kesal. Ada sedikit rasa cemburu karena untuk pertama kalinya ia melihat seseorang berhasil merebut perhatian penuh Eira.“H-huh?” Eira mengerjap beberapa kali. Kesadarannya yang sempat melayang akhirnya kembali. “Maaf,” ujarnya pelan. “Aku terkejut melihatmu datang.”Lucien hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti yang diingat Eira. “Tidak apa-apa.” Ia kembali mengulurkan tangan. “Jadi, mau menerima uluran tanganku atau tidak?” Tangannya bergerak sedikit ke depan, mengundang Eira untuk berdiri.Eira balas tersenyum, meski sangat tipis. “Ada banyak mata yang melihat di sini,” katanya hati-hati. “Kalau Rhys salah paham, itu hanya akan menambah masalah di antara kalian berdua. Aku hanya membutuhkan bantuan untuk me
“Mami, apa Mami tidak ingin punya bayi seperti Nona Leona?” “Huh?” Eira langsung tercengang. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. “Kalau peri kecil semakin banyak, rumah kita pasti jadi lebih berwarna, bukan?” Eira terdiam sesaat. Ucapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sesederhana yang dibayangkan Alverine. Ia akhirnya mengusap lembut kepala anak itu. “Luruskan pandanganmu ke depan,” ujarnya pelan. “Jangan terus menatapku atau nanti kamu menabrak tiang rumah.” “Baiklah...” gumam Alverine patuh, meski sesekali masih mencuri pandang ke arah Eira sambil tersenyum sendiri. Mereka akhirnya tiba di taman depan mansion. Namun baru berjalan sebentar, Eira mulai merasakan tubuhnya melemah. Napasnya perlahan terasa lebih berat, sementara detak jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tanpa sadar, genggaman tangannya pada Alverine sedikit mengendur sebelum akhirnya ia menarik pelan tangan anak itu untuk menghentikan lan
Setelah menemui Garrick, Eira kembali memasuki mansion. Langkahnya melambat saat melewati aula besar yang dipenuhi hiasan bunga dan cahaya lilin mewah. Meski kini suasananya telah sunyi, ia masih bisa membayangkan bagaimana ramainya jamuan semalam berlangsung di tempat itu.Ruang makan yang biasanya terasa tenang dan datar pasti dipenuhi percakapan para bangsawan, tawa basa-basi, serta intrik yang tersembunyi di balik senyum sopan mereka.Eira pernah menghadiri jamuan semacam itu sebelumnya, tetapi tidak pernah bertahan sampai akhir. Tubuhnya selalu terlalu lelah untuk mengikuti semua formalitas yang melelahkan itu.“Kamu di sini.”Suara berat Rhys terdengar dari koridor di samping aula, jalur yang mengarah ke ruang makan. Eira menoleh, lalu keduanya berjalan saling mendekat. Dalam sunyinya mansion, suara heels milik Eira dan langkah sepatu Rhys terdengar jelas beradu di lantai marmer.Begitu berhenti saling berhadapan, Rhys langsung menatapnya lekat, memastikan keadaan Eira lewat sor
Arlan Pradipta adalah sosok pria yang penuh kasih sayang—tenang, namun selalu hadir pada waktu yang tepat. Ia bertanggung jawab, tidak banyak bicara, tetapi setiap tindakannya terasa nyata. Velian mengenalnya hampir tiga tahun lalu, dalam sebuah acara bedah buku. Pertemuan itu sederhana. Namun, dari sanalah semuanya bermula. Velian, seorang penulis novel romansa dan fantasi yang hidup dalam imajinasi, bertemu dengan Arlan—pria yang mahir merangkai prosa, menciptakan kalimat-kalimat romantis sekaligus ironis dengan cara yang begitu jujur. Mereka jatuh pada dunia yang sama. Dan perlahan … jatuh satu sama lain. Hubungan mereka berjalan seperti pasangan pada umumnya. Hangat. Nyaman. Tenang. Namun, ada jarak tak kasatmata yang perlahan tumbuh di antara mereka. Kesibukan masing-masing membuat waktu terasa bergerak lebih cepat daripada yang mampu mereka kejar. Meski begitu, tidak pernah ada keraguan di antara keduanya. Pada masa itu, Duke of Morwenia bahkan belum lahir sebagai sebuah
Pikiran Velian seketika kosong.Sebagai penulis, ia baru menyadari satu hal yang mengusik—ternyata ada begitu banyak rahasia yang bahkan tak ia ketahui dari novel yang ia ciptakan sendiri. Termasuk isi hati para tokoh di dalamnya.Setahunya, Eira tak pernah mengatakan hal itu pada Garrick
“Perjanjian Rhys dengan Raja dan Ratu jauh lebih serius daripada yang kamu bayangkan,” ujar Eira dingin. “Jika Rhys gagal membunuh siapa pun yang diperintahkan, ia akan dianggap berkhianat.”Eira menatap Velian tanpa berkedip.“Kamu menulis novel ini. Kamu tahu sendiri apa yang terjadi pada pengkhi
Pagi masih terlalu dini ketika Raven Sinclair tampak mondar-mandir gelisah di depan bangunan utama mansion. Wajahnya tegang, langkahnya tak pernah benar-benar berhenti.Tak lama kemudian, tiga pengawal datang dari arah berbeda. Raut mereka seragam—bukan panik karena kehilangan benda, melainkan ses
Velian duduk di dekat balkon. Sebelah sisi wajahnya bersandar di pembatas, wajahnya menatap ke langit malam. Hamparan bintang terlihat indah. Pergerakan awan di Morwenia lebih terlihat cepat karena tidak ada polusi yang menghalangi penglihatannya. Langit di Morwenia sangat alami dan jernih—Velian s







