Mag-log inAlverine menatapnya lurus, tanpa ragu. “Bukankah hubungan kalian sangat dekat?”Velian terdiam sesaat, lalu matanya membelalak tajam.Refleks, ia melirik ke arah lain. Rhys, Raven, dan Leona tampak tetap fokus pada hidangan mereka—namun jelas, mereka semua mendengar. Tatapan mereka sekilas mengarah ke Velian dan Alverine, sebelum kembali berpura-pura tidak peduli.Suasana yang semula tenang kini terasa berubah … lebih tegang, meski tak ada satu pun yang mengakuinya.“Ups!”Alverine nyengir lebar sambil menutup mulutnya sendiri, seolah baru sadar telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.Di sampingnya, Velian hanya bisa tertawa kecil—pahit, tipis, dan nyaris tak terdengar.“Pangeran akan menyusul setelah menyelesaikan urusannya, Alverine,” ujar Ratu Isolde lembut, menatap gadis kecil itu dengan gemas. “Kau sangat ingin melihatnya, ya?”Alverine menahan senyumnya, namun kilatan antusias tetap terlihat jelas di matanya.“Bolehkah aku bermain de
Dari pantulan cermin rias, Velian membuka suara.“Besok ada jamuan. Kenapa tidak kamu saja yang hadir? Sekarang kita sudah bisa bertukar peran.” Suaranya tenang, tapi menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Namun jika ditarik beberapa langkah dari pantulan itu, kenyataan yang berbeda terlihat.Eira Shawn berdiri di sana, menyisir rambut gelombangnya yang indah dengan gerakan pelan dan teratur. Wajahnya tenang, seolah tak ada gejolak apa pun—berbanding terbalik dengan apa yang baru saja terjadi beberapa saat lalu.Sejak Velian pingsan karena sesak napas, sesuatu telah berubah.Kini, mereka benar-benar bertukar peran.Dan pagi itu masih terlalu dini untuk memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di antara mereka.“Aku tidak ingin. Kau saja yang berada di sana.” Eira menjawab tanpa menoleh. Nada suaranya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Baginya, satu hal sudah cukup—ia telah meminta maaf pada Rhys.Velian mengembuskan na
Leona menoleh terkejut ketika pelayan datang tergopoh-gopoh dari luar ruang makan, wajahnya pucat dan napas tersengal. "Nona … Nona Eira… jatuh pingsan di kamar," lapor pelayan terbata-bata."Lagi?!" seru Leona, kata pertama yang keluar dari mulutnya penuh kecemasan. Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dari kursi, langkahnya cepat. "Bagaimana dengan tabib? Cepat panggil sekarang!"Setelah menerima konfirmasi bahwa tabib sedang dalam perjalanan, Leona langsung melesat ke kubah kaca, tempat Rhys dan Raven berdiri dari jauh. Dari sana, ia sudah bisa merasakan ketegangan di antara keduanya.Begitu Leona tiba, Rhys dan Raven kompak bungkam, menatapnya seolah menyadari sesuatu yang tak perlu diucapkan.Napas Leona tersengal, dada terasa sesak karena berlari secepat mungkin. "Kalian sibuk bertengkar di sini, sampai tidak tahu Eira pingsan?!" suaranya meninggi, setengah membentak penuh kemarahan dan kepanikan.Detik itu juga, Rhys langsung melesat meninggalkan kubah kaca
Velian mendengar seluruh percakapan itu dari balik pintu.Ia berdiri membeku di sana, satu tangannya menenteng sepatu heels agar langkahnya tidak berbunyi saat diam-diam membuntuti mereka. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu saja sudah cukup untuk membocorkan keberadaannya.Namun yang ia dengar justru membuat dadanya terasa sesak.Ketika Raven menyebut bahwa Rhys mungkin sudah terpikat pada Eira bahkan sebelum Selphira hadir dalam hidupnya, mata Velian perlahan berkaca-kaca.Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan berlari pergi.Garrick yang berjaga di depan pintu sempat menegakkan tubuhnya ketika melihat Velian melintas dengan tergesa-gesa. Ia hampir saja memanggil dan mengejarnya, tetapi raut wajah gadis itu membuatnya urung.Velian tampak … tidak baik-baik saja.Akhirnya Garrick hanya diam di tempatnya, membiarkan Velian pergi tanpa pertanyaan.Sesampainya di kamar, Velian langsung menjatuhkan dirinya berlutut di lantai. Tangannya buru-buru meraih buku mis
Raven memimpin jalan menuju bagian mansion yang jarang dijaga pengawal, dekat kubah kaca tempat Velian sering singgah untuk sekadar merenung. Cahaya pagi menembus kaca tinggi itu, jatuh lembut di lantai batu yang dingin.Begitu tiba, Raven berhenti. Ia menarik napas panjang, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dadanya, lalu berbalik menghadap Rhys."Aku dengar sesuatu dari pelayan—""Ya." Jawaban Rhys keluar begitu saja, memotong kalimatnya.Raven menatapnya tajam. "Iya apa? Kau lupa … atau memang bodoh, Rhys?"Emosinya mulai naik. Rhys berdiri di sana dengan wajah tenang, seolah tidak ada hal besar yang sedang dipertaruhkan."Jika sampai Eira hamil—!" Raven mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarahnya hampir meledak hingga ia memejamkan mata sejenak, menghitung dalam hati satu sampai tiga agar tidak kehilangan kendali. Saat membuka mata lagi, suaranya memang lebih pelan, tapi ketegangannya masih terasa jelas. "Kau tahu konsekuensi yang harus d
Urusan di istana selesai. Rhys dan Velian berpamitan dengan raja dan ratu, lalu melangkah menuju agenda masing-masing. Velian akan beristirahat, sementara Rhys hendak berburu bersama Garrick."Langsung?" Velian spontan bertanya, langkah mereka berhenti kompak di depan pintu rumah.Rhys menatapnya tenang, tapi matanya menaruh rasa ingin tahu. "Ya. Ada apa?""Kamu tidak lelah seharian di istana?"Rhys mengangkat alis, setengah tersenyum. "Kamu … peduli dengan saya?"Velian menunduk sebentar. "Kesehatanmu."Di bawah anak tangga, Garrick sudah menunggu, matanya mengamati interaksi mereka. Rhys sekadar melirik, menandakan dia tak keberatan, lalu menoleh kembali pada Velian.Velian melipat kedua tangan di depan dada, nada suaranya bercampur canda dan skeptis. "Lagipula, apa yang kamu buru di malam hari? Gelap, sunyi, sepi…"Rhys tersenyum tipis, nada santai tapi tajam. "Saya tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaanmu. Malam ini saya tidur sendiri, jadi t
Lalu, apa yang sebenarnya dilakukan Velian?Dugaan Garrick tak meleset. Gadis itu benar-benar tersesat di dalam hutan sejak dini hari, entah bagaimana awalnya bisa sejauh ini. Dalam ingatannya, ia yakin telah memilih jalur yang benar menuju Marindor.Udara pagi menusuk dingin. Velian tidak mengenak
Pagi masih terlalu dini ketika Raven Sinclair tampak mondar-mandir gelisah di depan bangunan utama mansion. Wajahnya tegang, langkahnya tak pernah benar-benar berhenti.Tak lama kemudian, tiga pengawal datang dari arah berbeda. Raut mereka seragam—bukan panik karena kehilangan benda, melainkan ses
Dalam sekejap, cahaya padat terbentuk—memadat, memanjang—hingga menjelma sebilah pedang yang berkilau oleh energi yang sama dengan yang mengalir di tubuh Dylen. Ia menggenggam gagangnya erat, sorot matanya mengerasTubuh Dylen melesat dan berhenti tepat di depan kristal. Dalam satu ayunan, i
Velian duduk di dekat balkon. Sebelah sisi wajahnya bersandar di pembatas, wajahnya menatap ke langit malam. Hamparan bintang terlihat indah. Pergerakan awan di Morwenia lebih terlihat cepat karena tidak ada polusi yang menghalangi penglihatannya. Langit di Morwenia sangat alami dan jernih—Velian s







