Home / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 55: Badai Hati

Share

Chapter 55: Badai Hati

Author: KIKHAN
last update publish date: 2026-01-26 18:00:55

Raven memegang dahinya yang berdenyut nyeri. Ia tak mungkin mengawasi semuanya sendirian—Eira, Leona, dan kekacauan yang belum sepenuhnya reda—tanpa Rhys di sisinya. Namun, seperti dugaannya, Rhys tetap memilih pergi mengejar pelaku.

“Jika saya tidak pergi sekarang, luka seperti ini akan terulang,” ucapnya datar. “Saya tidak akan membiarkannya.”

Kini, Raven kembali ke kamar Eira. Leona sudah tidak ada—barangkali kembali ke kamarnya, tenggelam dalam tangis dan rasa bersalah yang tak ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 130: Waktu Terbongkarnya Rahasia Velian & Eira

    Melihat Velian yang tiba-tiba murung, Eira bertanya, “Kau sedih karena waktumu tidak banyak lagi?”Velian mengangguk lesu. “Aku sedih karena tidak bisa lagi melihat pria-pria tampan di negeri ini.” Ia menghela napas dramatis. “Apalagi suamimu.”Eira memutar bola mata dengan malas.“Manusia memang tidak ada yang sempurna.” Velian mendongak. “Tapi suami kalian sempurna di mataku.”Eira menatapnya datar. “Kau menyukai suami orang, padahal belum melupakan mantan kekasihmu?”Velian justru tersenyum menyipitkan mata. Tatapannya berubah jahil. “Cara bermain suamimu itu sangat mantap—”Eira langsung mengangkat satu kakinya, bersiap melepaskan sepatu hak tingginya. Belum sempat sepatu itu terlepas, Velian sudah berbalik dan lari terbirit-birit.Velian menghilang begitu saja, kembali ke raga Eira sebelum sempat menjadi sasaran lemparan.Eira berdiri dengan wajah memerah. Ia mengibaskan kedua tangannya di depan wajah, berusaha mendinginkan pipinya sendiri.“Mulutnya itu tidak bisa direm, apa?” E

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 129: Akhir yang Tak Pernah Usai

    “Aku bertemu ayah dan paman Tuan Dylen. Mereka membicarakan inti magis emas bersama kami, tetapi Nona Eira sedikit kesal.” Alverine sengaja menekankan kata sedikit.Raven tampak terkejut. Ia kemudian menepuk bahu Alverine dengan lembut. “Aku selalu bilang Nona Eira sangat menyayangimu. Pasti ada alasannya sampai ia kesal.”“Sedikit, Dame.”“Ya, maksudku sedikit kesal, sayang.”Alverine tersenyum lebar. “Baiklah. Aku mau mandi dulu, lalu istirahat sebentar sambil menunggu Papa pulang.”Ia berhenti sejenak sebelum kembali bertanya, “Kapan Papa pulang?”“Para pengawal bilang sebelum senja.”“Oh.” Mata Alverine berbinar. “Berarti sebentar lagi, ya?”Dame tertawa pelan. “Masih ada lima jam lagi.”Eira tidak sempat melakukan apa pun setelah memasuki kamar.Ia langsung merebahkan tubuh di atas kasur dan, begitu kepalanya menyentuh bantal, tertidur. Energi sosialnya benar-benar terkuras setelah seharian berhadapan dengan keluarga Caelmont.Namun, bahkan dalam tidurnya, Eira tidak benar-benar

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 128: Sampai di Mansion

    Eira tersenyum miring. Apa pun yang dikatakan Dytheron sama sekali tidak membantunya.“Lebih baik tutup mulutmu jika tidak bisa mencari solusi. Hidupku yang dipertaruhkan di sini, tetapi kau dan Dylen terus membicarakan sesuatu yang hanya membuatku semakin terganggu.”Dylen, Dytheron, bahkan Garrick dan Alverine yang telah duduk di dalam mobil, tercengang mendengar ucapan Eira kepada Dytheron.Jika orang lain mendengarnya, Eira sudah pasti akan menjadi buah bibir masyarakat. Ia bisa dicap tidak sopan karena berani bersikap demikian kepada penyihir tertua di Morwenia—seseorang yang begitu disegani, bahkan oleh para murid Marindor.Namun, bagi Eira, Dytheron memang sudah menyebalkan sejak dulu. Tanpa memberi salam ataupun hormat, Eira langsung berbalik dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil itu melaju meninggalkan mereka.Setelah mobil telah berjalan cukup jauh, Dylen meremas dadanya sambil memasang wajah tersakiti dengan ekspresi yang begitu dramatis.“Sakit sekali hatiku m

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 127: Ada Alasan KIsah Eira Terulang Kembali

    Alverine mendongak, sementara Dylen menundukkan kepala sejenak, seolah baru teringat sesuatu.“Mereka belum mengatakan alasan ingin bertemu denganku, Tuan Dylen,” ujar Alverine.Dylen langsung mengangkat wajahnya. “Oh, iya.” Ia menoleh kepada ayah dan pamannya. “Ayah, Paman, kalian bilang ingin bertemu Alverine. Alverine baru saja menanyakannya.”“Kami mendengar bahwa inti magismu telah bangkit,” ujar Dyvar.Alverine menatap Dylen, seolah bertanya apakah dialah yang memberitahukan hal tersebut kepada ayah dan pamannya. Dylen hanya tersenyum kepadanya.“Jawab saja. Tidak apa-apa.”Eira menyimak percakapan itu dalam diam. Entah mengapa, ia sudah bisa merasakan bahwa akan ada sesuatu yang hendak mereka sampaikan—dan firasatnya mengatakan, itu bukan sesuatu yang menyenangkan.Alverine menggenggam ibu jari Eira. “Benar, Paman.”Eira segera menggenggam balik tangan kecil itu. Ia tahu Alverine sedang gugup.“Apa kau sudah bersedia mempelajari sihir?” tanya Dytheron.Dylen segera angkat bicar

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 126: Alverine Mendadak Pemalu

    Eira mengangkat wajah hingga tatapan mereka bertemu.“Maukah kau ikut masuk bersamaku?”Garrick terkekeh kecil. “Aku bukan tidak mau. Tapi tidak bisa. Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu dan Alverine dalam jarak tertentu.”Eira semakin gelisah. Jemarinya bahkan mulai meremas ujung pakaian yang dikenakannya.Garrick menangkap perubahan itu.Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas kecil.“Baiklah. Aku masuk.” Ia menunjuk ke belakang Eira. “Tapi aku akan berdiri di belakangmu saja. Bagaimana?”Wajah Eira seketika melunak. Ia tersenyum lega. “Terima kasih, Garrick.”Garrick hanya mengangguk, lalu mengikuti Eira masuk ke dalam ruangan.“Oh, Garrick. Kau datang juga.” Dyvar Caelmont menyapa begitu melihat Garrick berdiri di belakang sofa. Garrick hanya menundukkan kepala sebagai tanda hormat.“Ini pertama kalinya aku melihat putri Duke Rhys Vance.” Tatapan Dyvar kemudian beralih kepada Alverine. “Dylen bilang namamu Alverine, ya?”Alverine mengangguk malu. Separuh wajahnya bahk

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 125: Alverine Mengunjungi Akademi Marindor

    Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, Alverine berkali-kali melirik Eira yang sibuk memandangi pemandangan di luar jendela. Mereka duduk berdampingan, tetapi jarak di antara keduanya terasa cukup jauh karena tidak ada percakapan.Alverine kemudian meraih botol minumannya yang berbentuk seperti ransel kecil berwarna merah muda, lengkap dengan penutup menyerupai kepala beruang dan tali yang tersampir di bahunya. Ia meneguk air di dalamnya tiga kali sebelum kembali menatap Eira.“Mami merindukan Tuan Dylen?”Pertanyaan spontan itu langsung membuat Eira menoleh.“Hah?” Eira mengerjap. “Tentu saja bukan begitu maksud kedatanganku.”“Papa bilang begitu,” jawab Alverine polos.Eira masih belum memahami maksudnya.“Papa selalu menemui Mami karena merindukan Mami.”Eira terdiam sesaat, lalu tersenyum geli. “Tidak selalu seperti itu, Alvie.”Alverine memiringkan kepalanya, seolah masih belum percaya. “Benarkah?”Eira hanya terkekeh kecil, lalu kembali memandang ke luar jendela. “P

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 4 : Eira yang Lain

    Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 3: Lepas Kendali

    Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status