Adrian melirik ke arah dapur. Pintu akses sudah tertutup rapat. Para pegawai bergerak cepat dengan langkah terkoordinasi, suara instruksi saling bersahutan pendek, menandakan SOP berjalan sesuai prosedur.Di bagian depan, Renata sudah lebih dulu sigap. Ia mencondongkan tubuh ke meja terdekat dari lintasan tikus tadi. Di sana, seorang ibu paruh baya duduk kaku, tas bermerek dipeluk erat di pangkuannya. Wajahnya pucat, matanya membesar, napasnya belum sepenuhnya stabil.“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, Bu,” ujar Renata dengan suara lembut namun tegas, nada yang biasa dipakai untuk menenangkan situasi genting. “Kami paham ini mengejutkan. Mohon beri kami waktu sebentar. Kami akan pastikan keamanan dan kenyamanan Ibu.”“Ini tidak bisa ditoleransi,” balas sang ibu, suaranya bergetar antara marah dan takut. “Restoran seperti ini, dengan harga mahal, masa ada tikus?”Renata mengangguk, menerima kemarahan itu tanpa menyela. “Kami bertanggung jawab penuh, Bu. Untuk sementara, mohon Ibu pinda
더 보기