Bastian duduk dengan tubuh tegak, namun pikirannya tak sepenuhnya hadir di ruang meeting itu. Di depannya, layar proyektor masih menampilkan grafik dan angka-angka performa bulanan. Suara Laras terdengar jelas, sistematis, dan profesional, tapi entah mengapa semua itu hanya berlalu begitu saja di telinganya.Yang justru terus menarik perhatiannya adalah Olivia. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa waktu lalu.Perempuan itu duduk sedikit menyerong darinya, jari-jarinya lincah mengetik di atas keyboard laptop. Sesekali ia berhenti, membaca ulang, lalu kembali menulis dengan fokus penuh menjalankan tugasnya sebagai notulen meeting.Tangannya yang tadi memegang pulpen perlahan berhenti bergerak. Ia hanya menatap Olivia, lama sekali, sampai suara Laras tiba-tiba memotong lamunannya.“Jadi, Pak. Ada yang ingin ditanyakan?”Bastian tersentak kecil.“Eh? Oh…” Ia berdeham, buru-buru menegakkan duduknya. “Eum… cukup, Ras.”Laras mengangguk, “Baik, Pak. Kalau masih ada yang kurang, f
더 보기