LOGIN
“Bai, ini aku bawakan minuman untukmu. Cepat diminum, ya,” ucap Xia We lembut, sambil menyerahkan segelas air kepada adiknya.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Xia Bai menerima gelas itu. “Terima kasih, Jie Jie. Kau memang tahu saja, aku sedang haus.” Ia meneguk air itu dengan tenang. Namun baru beberapa teguk, tiba-tiba tubuhnya menegang. Gelas di tangannya terlepas, jatuh dan pecah di lantai, bersamaan dengan rasa sesak yang mendadak menghantam dadanya. Xia Bai terbatuk keras. Darah segar memuncrat keluar dari mulutnya. Kedua matanya melebar, menatap tak percaya ke arah kakaknya yang berdiri di hadapannya dengan tersenyum menyeringai. “Jie… Jie…” suaranya lirih, bergetar di sela napas yang tersengal. Ia mengulurkan tangan, seolah meminta pertolongan. Namun Xia We justru melangkah mundur, menatapnya dengan pandangan dingin. “Kau tahu, Bai? Hari yang kutunggu akhirnya datang. Sekarang kau akan pergi… menyusul ibumu.” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan senyum miring. “Dan aku… akan menjadi satu-satunya putri yang diakui semua orang. Tak perlu lagi berbagi dengan siapa pun.” Mata Xia Bai membulat sempurna. Ia menatap kakaknya tak percaya. Ia tak pernah menyangka, sosok yang selama ini tampak lembut dan penyayang ternyata menyimpan kebusukan sedalam itu. “Kenapa…” Xia Bai berusaha berbicara di tengah napas yang tersendat. “Kenapa kau melakukan ini padaku, Jie Jie? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja…?” Suara itu nyaris tak terdengar. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah dewa kematian tengah menarik nyawanya perlahan. “Kau tanya kenapa?” Xia We menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan jijik. “Karena aku membencimu, Xia Bai. Semua orang hanya memperhatikanmu. Mereka tak pernah melihatku!” Nada suaranya meninggi, penuh emosi. “Dan yang paling membuatku muak, pria yang kucintai ternyata mencintaimu. Aku membencimu, Xia Bai… sungguh aku membencimu.” Ia berhenti sejenak, menatap tubuh adiknya yang kini gemetar lemah di lantai. Kemudian ia berjongkok, mendekat ke telinga adiknya, berbisik dingin, “Tapi tenang saja… setelah ini, semua yang menjadi milikmu akan menjadi milikku. Termasuk pria itu.” Xia Bai hanya bisa menatapnya dengan mata yang mulai buram, namun penuh kebencian. Genggaman tangannya mengeras, sementara kakaknya tertawa keras, tawa kemenangan yang menusuk hati. Tanpa sedikit pun rasa iba, Xia We berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan adiknya yang tergeletak sekarat. Racun yang ia gunakan bekerja cepat, mematikan dalam hitungan menit. Disisa napas terakhirnya, Xia Bai genggam menjadi sumpah. Ia memejamkan mata, menahan air mata dan amarah yang membara di dada. “Aku bersumpah, Xia We…” bisiknya lirih. “Jika ada kehidupan selanjutnya, aku akan membalas semua perbuatanmu.” Setelah kata itu terucap, tubuh Xia Bai terdiam sepenuhnya. Hening. Hanya sisa kaca pecah dan tawa jahat Xia We yang menggema di udara sore itu. * * * Sementara di tempat lain, seorang wanita hanya bisa pasrah ketika Dewa Kematian mulai menarik napas hidupnya yang terakhir. “Ya Dewa… bila ada keajaiban, kumohon… balaskan dendamku pada mereka semua. Terutama pada Selir Agung… wanita keji yang telah membunuhku,” lirihnya penuh kesedihan. Tak lama setelah doa itu terucap, napasnya terhenti perlahan. Tubuhnya membeku dalam keheningan. Namun beberapa saat kemudian, cahaya lembut berwarna keemasan tiba-tiba menyelimuti tubuh wanita itu. Cahaya itu berpendar semakin terang, hingga akhirnya memudar. Dan di saat itu, sepasang mata yang seharusnya telah tertutup selamanya, terbuka kembali. “Ugh…” Wanita bernama Xia Mo, mengaduh pelan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Ia menggeleng perlahan, berusaha menenangkan rasa sakit yang menusuk di pelipisnya. “Aku… di mana ini?” bisiknya kebingungan. “Apa ini… akhirat? Tapi… kenapa tempatnya buruk sekali?” Ia menatap sekeliling dengan wajah heran. Ruangan itu gelap, pengap, dan berantakan—jauh dari bayangan tempat yang suci dan damai. “Astaga… apa ini benar akhirat? Kenapa kelihatannya seperti gubuk reyot? Bukankah kata orang, dunia arwah itu indah?” gerutunya sambil menghela napas panjang. Tak ada suara selain detak jantungnya sendiri. Ia menunggu, berharap ada seseorang yang datang menjelaskan di mana ia berada. Tapi hingga beberapa menit berlalu, tak seorang pun muncul. Ia semakin resah. “Ini aneh sekali… apa aku diseret ke neraka karena dendamku?” Baru saja ia hendak berdiri, tiba-tiba. brak! Sebuah pintu terbuka lebar dengan suara keras, membuat Xia Mo tersentak kaget dan spontan menatap ke arah sumber suara. Dari balik pintu, terdengar suara seorang wanita terkejut, “Astaga… ternyata dia masih hidup!”Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung
“Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem
“Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber
“Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun berg
“Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya k







