共有

Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan
Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan
作者: Langit Biru

Bab 1

作者: Langit Biru
last update 公開日: 2025-10-09 08:09:15

“Bai, ini aku bawakan minuman untukmu. Cepat diminum, ya,” ucap Xia We lembut, sambil menyerahkan segelas air kepada adiknya.

Tanpa rasa curiga sedikit pun, Xia Bai menerima gelas itu.

“Terima kasih, Jie Jie. Kau memang tahu saja, aku sedang haus.”

Ia meneguk air itu dengan tenang. Namun baru beberapa teguk, tiba-tiba tubuhnya menegang. Gelas di tangannya terlepas, jatuh dan pecah di lantai, bersamaan dengan rasa sesak yang mendadak menghantam dadanya.

Xia Bai terbatuk keras. Darah segar memuncrat keluar dari mulutnya. Kedua matanya melebar, menatap tak percaya ke arah kakaknya yang berdiri di hadapannya dengan tersenyum menyeringai.

“Jie… Jie…” suaranya lirih, bergetar di sela napas yang tersengal. Ia mengulurkan tangan, seolah meminta pertolongan.

Namun Xia We justru melangkah mundur, menatapnya dengan pandangan dingin. “Kau tahu, Bai? Hari yang kutunggu akhirnya datang. Sekarang kau akan pergi… menyusul ibumu.” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan senyum miring. “Dan aku… akan menjadi satu-satunya putri yang diakui semua orang. Tak perlu lagi berbagi dengan siapa pun.”

Mata Xia Bai membulat sempurna. Ia menatap kakaknya tak percaya. Ia tak pernah menyangka, sosok yang selama ini tampak lembut dan penyayang ternyata menyimpan kebusukan sedalam itu.

“Kenapa…” Xia Bai berusaha berbicara di tengah napas yang tersendat. “Kenapa kau melakukan ini padaku, Jie Jie? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja…?”

Suara itu nyaris tak terdengar. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah dewa kematian tengah menarik nyawanya perlahan.

“Kau tanya kenapa?” Xia We menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan jijik. “Karena aku membencimu, Xia Bai. Semua orang hanya memperhatikanmu. Mereka tak pernah melihatku!”

Nada suaranya meninggi, penuh emosi. “Dan yang paling membuatku muak, pria yang kucintai ternyata mencintaimu. Aku membencimu, Xia Bai… sungguh aku membencimu.” Ia berhenti sejenak, menatap tubuh adiknya yang kini gemetar lemah di lantai.

Kemudian ia berjongkok, mendekat ke telinga adiknya, berbisik dingin, “Tapi tenang saja… setelah ini, semua yang menjadi milikmu akan menjadi milikku. Termasuk pria itu.”

Xia Bai hanya bisa menatapnya dengan mata yang mulai buram, namun penuh kebencian. Genggaman tangannya mengeras, sementara kakaknya tertawa keras, tawa kemenangan yang menusuk hati.

Tanpa sedikit pun rasa iba, Xia We berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan adiknya yang tergeletak sekarat. Racun yang ia gunakan bekerja cepat, mematikan dalam hitungan menit.

Disisa napas terakhirnya, Xia Bai genggam menjadi sumpah. Ia memejamkan mata, menahan air mata dan amarah yang membara di dada.

“Aku bersumpah, Xia We…” bisiknya lirih. “Jika ada kehidupan selanjutnya, aku akan membalas semua perbuatanmu.”

Setelah kata itu terucap, tubuh Xia Bai terdiam sepenuhnya. Hening. Hanya sisa kaca pecah dan tawa jahat Xia We yang menggema di udara sore itu.

*

*

*

Sementara di tempat lain, seorang wanita hanya bisa pasrah ketika Dewa Kematian mulai menarik napas hidupnya yang terakhir.

“Ya Dewa… bila ada keajaiban, kumohon… balaskan dendamku pada mereka semua. Terutama pada Selir Agung… wanita keji yang telah membunuhku,” lirihnya penuh kesedihan.

Tak lama setelah doa itu terucap, napasnya terhenti perlahan. Tubuhnya membeku dalam keheningan.

Namun beberapa saat kemudian, cahaya lembut berwarna keemasan tiba-tiba menyelimuti tubuh wanita itu. Cahaya itu berpendar semakin terang, hingga akhirnya memudar.

Dan di saat itu, sepasang mata yang seharusnya telah tertutup selamanya, terbuka kembali.

“Ugh…”

Wanita bernama Xia Mo, mengaduh pelan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Ia menggeleng perlahan, berusaha menenangkan rasa sakit yang menusuk di pelipisnya.

“Aku… di mana ini?” bisiknya kebingungan. “Apa ini… akhirat? Tapi… kenapa tempatnya buruk sekali?”

Ia menatap sekeliling dengan wajah heran. Ruangan itu gelap, pengap, dan berantakan—jauh dari bayangan tempat yang suci dan damai.

“Astaga… apa ini benar akhirat? Kenapa kelihatannya seperti gubuk reyot? Bukankah kata orang, dunia arwah itu indah?” gerutunya sambil menghela napas panjang.

Tak ada suara selain detak jantungnya sendiri. Ia menunggu, berharap ada seseorang yang datang menjelaskan di mana ia berada. Tapi hingga beberapa menit berlalu, tak seorang pun muncul.

Ia semakin resah. “Ini aneh sekali… apa aku diseret ke neraka karena dendamku?”

Baru saja ia hendak berdiri, tiba-tiba.

brak!

Sebuah pintu terbuka lebar dengan suara keras, membuat Xia Mo tersentak kaget dan spontan menatap ke arah sumber suara.

Dari balik pintu, terdengar suara seorang wanita terkejut, “Astaga… ternyata dia masih hidup!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Ririn Astriyani
seru. lanjutkan
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 24

    Malam semakin larut ketika Xia Mo akhirnya meninggalkan hutan terlarang. Setelah memastikan pria bercadar itu pergi lebih dahulu, Xia Mo memilih jalur berbeda untuk kembali ke istana. Dia berjalan dengan tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun begitu sampai di paviliunnya, langkah Xia Mo mendadak terhenti. Pintu kamarnya terbuka. Xia Mo mengernyit. Seingatnya, sebelum pergi tadi dia sudah menutup pintu itu. Dia melangkah perlahan. Tangannya bahkan sempat menyentuh gagang pedang kecil yang terselip di balik jubahnya. Kemudian dia masuk. Dan dalam sekejap— Xia Mo membeku. Di dalam kamar, seseorang sedang duduk di tempat tidurnya. Kaisar Ming. Mata Xia Mo langsung melebar. Dia mundur satu langkah. Kemudian menatap ke sekeliling. Kiri. Kanan. Bahkan sampai melihat papan nama kecil di dekat pintu. Paviliun Selir Xia. Xia Mo berkedip. Dia benar-benar tidak salah masuk kamar. “...Kenapa Yang Mulia ada di s

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 23

    Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 22

    Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 21

    Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 20

    Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 19

    Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 4

    "Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menun

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 3

    “Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. G

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 2

    “Siapa kau?” tanya Xia Mo dengan nada dingin.Tatapannya tajam menusuk ke arah salah satu gadis berpenampilan seperti pelayan itu.“Cih... sudah di ujung kematian saja masih sombong?” sindir gadis itu dengan nada meremehkan.Mata Xia Mo membulat, terkejut sekaligus murka mendengar kata-kata lancang

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu ki

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status