공유

Bab 5

작가: Langit Biru
last update 최신 업데이트: 2025-10-14 10:40:28

“Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin.

Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu.

Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik.

“Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah.

Brak!

Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget.

“Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa.

Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming.

Bruk!

Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki Kaisar Ming.

“Ya–Yang Mulia...” suaranya bergetar, tubuhnya gemetar begitu menyadari siapa yang berdiri di depannya.

“Yang Mulia... apa yang terjadi? Mengapa mereka menyeret saya seperti ini? Tolong hukum mereka, Yang Mulia! Mereka sudah lancang pada hamba!” pintanya memelas.

Ia belum juga memahami situasi sebenarnya. Dengan wajah panik, ia memeluk kaki Kaisar Ming erat-erat, berharap belas kasih dari pria yang seharusnya melindunginya itu.

Namun Kaisar Ming tak bergeming. Tatapannya tajam menusuk ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar.

“Bawa dia keluar,” titahnya datar.

Beberapa penjaga yang masih di dalam segera muncul, menyeret seorang pria yang setengah telanjang, wajahnya pucat pasi ketakutan.

Sang selir menoleh, matanya membulat. Ia menggeleng panik lalu berbalik, memeluk kaki Kaisar Ming lebih erat lagi.

“Yang Mulia, ini salah paham! Saya tidak melakukan apa pun dengannya! Tiba-tiba saja pria itu masuk ke kamar saya!” ujarnya tergesa, suaranya parau menahan tangis.

Namun Kaisar Ming tetap tak menanggapi. Pandangannya tetap terarah pada pria yang kini berlutut di tanah, tubuhnya gemetar, memohon ampun.

“Lepas! Lepaskan aku, Kaisar! Aku hanya disuruh!” teriak pria itu penuh ketakutan.

Sementara itu, di atas salah satu dahan pohon besar tak jauh dari paviliun, seorang gadis duduk santai sambil menyandarkan dagunya pada telapak tangan. Pandangannya malas mengarah ke kerumunan di bawah sana.

“Ah... terlalu lama. Membosankan sekali,” gumamnya dengan nada kesal.

Bagaimana tidak? Kaisar Ming tidak segera menjatuhkan hukuman pada selirnya seperti yang ia harapkan. Pria itu malah terdiam lama, seolah menimbang sesuatu.

“Cih... kalau aku yang jadi dia, sudah dari tadi keduanya dihukum mati,” ucapnya dengan nada dingin, bibirnya melengkung tipis. “Bukankah itu yang selir licik itu inginkan?”

Ia mendengus pelan. Meski begitu, gadis itu tetap duduk di sana, menonton dari kejauhan. Rasa ingin tahunya menahan langkahnya untuk pergi, walau bosan mulai merayapi dirinya.

Saat akhirnya ia beranjak. Namun, baru saja mengangkat bokongnya dari dahan, suara berat Kaisar Ming tiba-tiba terdengar dari bawah, memecah suasana tegang.

“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Kaisar Ming, nadanya datar namun sarat ancaman.

Gadis itu menoleh lagi, matanya memancarkan sedikit ketertarikan.

Sementara di bawah sana, selir yang sejak tadi memeluk kaki Kaisar Ming tampak semakin ketakutan. Wajahnya pucat, dan dengan panik ia menggelengkan kepala ke arah pria yang berlutut di tanah, seolah memohon agar ia tak membuka suara.

“Saya...”

Gadis itu menatap penuh semangat, matanya berbinar saat pria yang berlutut itu akhirnya bersuara. Ia begitu antusias, sampai lupa di mana dirinya berpijak.

“Iya... katakan saja, kalau Selir Fai yang menyuruhmu, bodoh,” bisiknya dengan nada tak sabar.

Namun karena terlalu bersemangat, gadis itu mengubah posisinya tanpa perhitungan.

Krak!

Dahan yang ia duduki patah, dan tubuhnya meluncur jatuh ke tanah.

Bruk!

Semua orang yang berada di halaman sontak menoleh ke arah sumber suara.

“Aarrgh... sialan, kenapa harus jatuh segala sih?” gerutunya pelan sambil meringis.

Ia bangkit perlahan, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor, lalu memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. Begitu mendongak, pandangannya langsung bertemu dengan puluhan pasang mata yang menatapnya tak percaya.

“Selir Mo?” bisik salah satu pelayan dengan suara tercekat.

Seluruh halaman mendadak hening.

“H–hai...” sahut Selir Mo kikuk, sambil melambaikan tangan kecilnya seperti anak kecil yang tertangkap mencuri kue.

Wajahnya memerah, sementara suasana di sekitarnya menegang. Dan sebelum sempat ada yang bereaksi lebih jauh, suara pria yang berlutut itu tiba-tiba terdengar lantang.

“Yang Mulia! Gadis itu... iya, dia yang menyuruh hamba! Dia orangnya, Yang Mulia!” serunya, menunjuk lurus ke arah Selir Mo.

Mata Selir Mo langsung membulat.

“Lah?! Kenapa aku yang dibawa-bawa, dasar kampret!” serunya refleks.

Beberapa orang menahan napas mendengar kata kasar itu. Sepertinya Xia Mo lupa sepenuhnya kalau ia sedang berada di hadapan Kaisar Ming.

“Yang Mulia, hamba berkata jujur! Hamba hanya menjalankan perintah dari gadis itu. Tolong ampuni hamba!” pria itu memohon sambil terus menunduk.

Selir yang tadi diseret keluar langsung ikut menimpali dengan cepat, memanfaatkan keadaan.

“Iya, Yang Mulia! Sudah hamba katakan, kalau hamba hanya dijebak. Pelakunya adalah Selir Mo! Tolong beri hamba keadilan, Yang Mulia!”

Xia Mo alias Selir Mo menatap keduanya tak percaya. Wajahnya penuh ekspresi kaget bercampur kesal.

“Wah, Selir Fai... bukan hanya berani menghina Kaisar Ming, tapi sekarang kau juga memfitnahku?” ucap Xia Mo dengan nada sarkastik, bibirnya melengkung sinis.

Ya, selir yang tertangkap basah itu memang Selir Fai. Entah bagaimana caranya, pria itu justru datang ke Paviliun Anggrek milik Selir Agung Fai, bukan ke Paviliun Teratai tempat Selir Mo tinggal.

“Yang Mulia!” Selir Fai buru-buru bersujud lagi. “Pemuda ini sudah mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah Selir Mo. Mohon keadilan untuk hamba, Yang Mulia!”

Xia Mo mendengus kesal, jelas merasa diabaikan. Ia baru hendak membuka suara, tetapi Kaisar Ming sudah lebih dulu bicara.

“Apa benar kau disuruh oleh Selir Mo untuk menjebak Selir Agung Fai?” tanya Kaisar Ming dengan suara dingin.

Pria yang masih setengah telanjang itu segera bersimpuh lebih dalam, tubuhnya gemetar.

“Benar, Yang Mulia. Hamba tidak berani berbohong. Bahkan hamba bisa membuktikannya,” jawabnya cepat.

Mendengar itu, Xia Mo nyaris tertawa. Ia malah bertepuk tangan pelan sambil menggeleng tak percaya.

“Wah... wah... wah... tak kusangka,” ujarnya dengan nada mengejek. “Kau bukan hanya memfitnahku, tapi bahkan rela menyiapkan bukti palsu? Tidak takut, kalau kebohonganmu terbongkar nanti?”

Ucapan itu membuat wajah pemuda tersebut seketika memucat. Ia menelan ludah gugup, tapi sudah terlambat—jalan mundur tidak lagi ada.

“Saya tidak mungkin berbohong, Yang Mulia,” ujar pemuda itu penuh keyakinan, suaranya bergetar namun mantap.

Xia Mo hanya mendengus pelan. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap pria itu dengan ekspresi datar.

“Kalau begitu,” katanya santai, “buktikan kalau memang aku yang menyuruhmu.”

“Baik!” jawab si pemuda cepat, seolah mendapat kesempatan emas.

Dengan percaya diri, ia mengeluarkan sebuah kantung dari balik bajunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang bisa melihat.

“Ini... kantung ini milikmu, bukan?” katanya sambil menunjukkannya pada semua orang.

Kerumunan mulai berbisik-bisik, saling pandang, mencoba menebak arah kebenarannya. Tapi Xia Mo tetap tenang—terlalu tenang, hingga ekspresinya membuat suasana semakin tegang.

Lalu... ia tertawa. Tawanya ringan, tapi jelas terdengar di tengah kesunyian yang mencekam. Semua orang menatapnya bingung, bahkan Kaisar Ming pun mengernyit heran.

“Kenapa kau malah tertawa? Apa kau menertawakan kebodohanmu sendiri?” ejek Selir Fai dengan nada tajam.

Xia Mo menoleh padanya, senyum kecil masih tersisa di bibirnya. “Aish... aku bukan menertawakan kebodohanku,” ujarnya santai. “Tapi kebodohan pria itu.”

Tatapan Selir Fai menajam. “Apa maksudmu?” tanyanya, curiga.

Xia Mo berhenti tertawa, berdehem kecil sebelum menjawab. “Kau tidak lihat? Kantung koin itu jelas bukan milikku.”

Dari balik hanfu sederhananya, Xia Mo mengeluarkan kantung koin lain yang tampak identik, tapi dengan detail berbeda.

“Ini punyaku yang asli,” katanya sambil mengangkatnya. “Lihat baik-baik. Kantung yang kau pegang itu punya inisial nama dan lambang bunga anggrek di ukirannya, bukan? Sedangkan punyaku polos tanpa nama, dan motifnya bunga teratai. Jadi jelas, kantung itu bukan milikku.”

Seketika, wajah Selir Fai memucat. Ia merebut kantung itu dari tangan si pemuda, memeriksanya dengan gemetar.

Begitu melihat lambang bunga anggrek di sana, matanya membulat lebar.

“Tidak! Pasti kau yang menukarnya! Kau menjebakku!” serunya putus asa.

Xia Mo hanya mengangkat bahu. “Untuk apa aku repot-repot melakukan itu? Fakta sudah jelas, bukan aku yang menyuruhnya.”

Bruk!

Selir Fai langsung bersujud di bawah kaki Kaisar Ming yang sejak tadi membisu. Air matanya jatuh deras, suaranya bergetar memohon ampun.

“Yang Mulia... tolong ampuni hamba! Sungguh bukan hamba pelakunya, hamba difitnah, Yang Mulia!”

Sementara itu, pemuda tadi berdiri terpaku, wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari betapa besar kesalahan yang baru saja diperbuatnya.

Kaisar Ming masih diam. Tatapannya kosong, pikirannya kalut. Semua terjadi terlalu cepat, terlalu kacau hingga ia seolah kehilangan kata.

Xia Mo hanya mendecak pelan, menatap Kaisar Ming dengan ekspresi lelah. “Benar-benar... bahkan setelah semua ini, dia masih diam saja,” gumamnya lirih.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 7

    “Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 6

    “Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 5

    “Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 4

    "Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun berg

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 3

    “Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status