LOGIN“Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?”
Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya kesal. Langkahnya berat karena hanfu yang melekat di tubuhnya kini basah dan berat. “Sialan… baju ini kenapa berat sekali sih?” Kaisar Ming hanya diam, matanya mengikuti setiap gerakan gadis itu. Namun begitu pandangannya nyaris menangkap sesuatu dari balik pakaian tipis yang menempel di tubuh Xia Mo, ia buru-buru memalingkan wajahnya dengan canggung. Melihat pria itu hanya berdiri tanpa reaksi, Xia Mo mendengus keras. “Hai, kau!” serunya sambil menunjuk. “Tidak lihat, ya? Ada orang sedang kesusahan di sini!” Kaisar Ming menoleh kembali, menatapnya datar, tanpa sedikit pun ekspresi. “Dasar… percuma bicara dengan orang tuli sepertimu,” omel Xia Mo sambil berjuang menuju tepi kolam. Ia berusaha naik, namun berat kain basah membuat tubuhnya terus terpeleset kembali ke air. “Sialan… benar-benar menyusahkan!” Tanpa pikir panjang, Xia Mo mulai melepaskan satu per satu lapisan hanfu yang membebani tubuhnya. Ia sama sekali tak memperhatikan bahwa di hadapannya berdiri seorang pria, seorang Kaisar yang kini hampir kehilangan kata. Mata Kaisar Ming membulat sempurna. Ia segera membalikkan tubuhnya, menahan diri agar tidak menatap. Namun diam-diam, ia menggerakkan tangan, menyalurkan sedikit kekuatan spiritual untuk membantu gadis itu naik ke tepi kolam. “Ah! Akhirnya bisa keluar juga,” seru Xia Mo lega, menepuk-nepuk tubuhnya yang masih basah. “Dasar pria aneh.” Ia melangkah menjauh, meninggalkan pakaian yang masih terapung di kolam. Kaisar Ming menoleh perlahan, dan seketika menahan napasnya. Gadis itu kini hanya mengenakan selembar pakaian tipis yang nyaris tembus pandang. “Hai… tunggu!” Langkah Xia Mo terhenti. Ia menoleh dengan alis terangkat. “Apa lagi?” tanyanya ketus. Kaisar Ming berdiri dari kolam, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Namun gerakannya yang tiba-tiba membuat air kembali beriak dan dalam sekejap, Xia Mo melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat. Mata Xia Mo langsung membulat sempurna. “A—Aaaaahhh!!!” Teriakannya menggema di seluruh ruang pemandian, membuat Kaisar Ming spontan membeku di tempat, sementara wajahnya mengeras menahan malu dan amarah sekaligus. * * * “Sial… mataku! Otakku! Semuanya ternodai oleh pria brengsek itu! Aaarrrghhh!” umpat Xia Mo sambil berputar-putar di dalam kamarnya. Ia terus mondar-mandir tanpa arah, wajahnya merah karena kesal, sementara bayangan tubuh polos Kaisar Ming terus berputar di kepalanya. Semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas bayangan itu muncul. “Arghhh! Brengsek!” teriaknya lagi, mengacak-acak rambutnya sendiri. “Kenapa aku malah mengingatnya? Sial! Aku benar-benar harus menyucikan mataku!” Ia berhenti sejenak, menatap langit-langit sambil mengepalkan tangan. “Lihat saja… aku akan balas perbuatan pria itu. Tak peduli siapa dia!” Xia Mo akhirnya menjatuhkan diri di kursi, matanya bergerak ke segala arah, kebiasaan lamanya setiap kali frustrasi. Tak lama, pintu kamarnya terbuka keras. Empat pelayan istana masuk dengan langkah congkak dan wajah sinis. “Heh, lihatlah… si licik ini ternyata masih beruntung. Selir Agung masih berbaik hati mengirim makan malam padanya,” kata salah satu pelayan dengan nada mengejek. “Setelah berhasil menarik perhatian Kaisar.” Xia Mo hanya menatap keempat gadis itu tanpa berkata apa-apa. Tatapannya tajam tapi senyumnya tipis, membuat para pelayan sedikit gelisah tanpa tahu kenapa. “Kenapa?” katanya akhirnya. “Kalian iri? Karena aku dipilih oleh Kaisar?” Nada bicaranya tenang, tapi penuh sindiran. Ia berdiri perlahan, menatap mereka dengan dagu terangkat dan tatapan yang membuat siapa pun merasa direndahkan. “Iri?” salah satu pelayan mendengus. “Cih! Apa yang perlu kami irikan darimu? Kau hanya Selir buangan, tidak sebanding dengan junjungan kami, Selir Agung, kesayangan Kaisar!” “Oh begitu?” Xia Mo menatap mereka sambil memainkan ujung rambutnya. “Kalau begitu, bukankah seharusnya Kaisar memilih junjungan kalian, bukan aku?” Ia mencondongkan tubuh sedikit, lalu tersenyum menyeringai. “Atau jangan-jangan…” Keempat pelayan itu langsung menatapnya tajam. “Jangan-jangan apa, hah?” Xia Mo mengangkat bahu acuh. “Ah, tak jadi. Bukan urusan penting.” Ia berbalik dan duduk kembali dengan santai, menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Kalau kalian sudah selesai bicara omong kosong,” katanya pelan, “lebih baik keluar dari kamarku. Kaisar akan datang sebentar lagi.” Ucapan itu membuat keempat pelayan itu sontak melotot. Selama ini, Xia Mo yang mereka kenal selalu diam dan tunduk. Tapi kini, nada bicaranya berubah total—dingin, berani, bahkan menantang. “Kau—!” “Apa?” potong Xia Mo cepat. “Mau aku adukan pada Kaisar?” Pelayan yang paling depan mengepalkan tangannya. “Awas kau… Kami akan melaporkan ini pada Selir Agung! Biar kau dapat hukuman yang pantas!” “Silakan,” jawab Xia Mo santai. “Aku bahkan tak tahu di mana aku harus takut.” Nada tenangnya justru membuat para pelayan makin kesal. Dengan wajah merah karena menahan amarah, mereka menaruh rantang makanan di meja dengan kasar lalu berbalik keluar tanpa pamit. Xia Mo hanya tersenyum miring, menggeleng pelan. “Sepertinya aku tahu siapa musuh utamaku di tempat ini,” gumamnya. Tatapannya terarah ke rantang yang baru saja diletakkan. Ia membuka penutupnya perlahan dan seketika bau busuk menusuk hidungnya. “Uh! Astaga…” Xia Mo menutup hidungnya dengan tangan. “Mereka pikir aku akan memakan ini?” Di dalam rantang itu, makanan telah berubah warna dan berjamur tebal. “Basi… dan berhari-hari disimpan.” Ia mendengus keras. “Dasar tikus istana. Lihat saja… kalian pikir aku tidak bisa membalas?”Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung
“Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem
“Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber
“Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun berg
“Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya k







