Share

Bab 7

Author: Langit Biru
last update Last Updated: 2026-01-09 22:43:45

“Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih.

Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan.

Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya.

”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit.

Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar.

“Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya

nyaring.

Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas.

Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan memaksanya menunduk.

“Cepat membungkuk, kalau kau masih ingin lehermu tetap berada di tempatnya,” bisik orang itu tajam.

Jantung Xia Mo berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia ikut membungkuk tepat saat tandu Putra Mahkota melewatinya.

Baru setelah tandu itu menjauh, cengkeraman di lehernya dilepaskan.

“A–apa maksud Anda tadi?” tanya Xia Mo dengan suara gemetar, masih belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi.

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia berbalik, menatap Xia Mo dengan sorot mata yang dalam dan tajam, membuat Xia Mo tanpa sadar mundur beberapa langkah.

“K–kenapa, Paman, menatapku seperti itu?” tanya Xia Mo ragu.

Pria tua yang ia panggil Paman itu tersenyum miring di balik topi bambu yang menutupi wajahnya.

“Untuk apa kau datang ke dunia ini?” tanyanya tiba-tiba, alih-alih menjawab.

Sekejap mata Xia Mo membulat. Wajahnya menegang, lalu memucat, seolah darahnya tersedot habis. Namun, dengan susah payah ia memaksakan raut wajahnya kembali netral.

“Apa maksud Paman? Saya tidak mengerti,” ujarnya, berpura-pura polos.

Pria tua itu terkekeh pelan. “Kau mungkin bisa membodohi semua orang, tapi tidak denganku.”

Gluk!

Xia Mo menelan ludah dengan susah payah, lalu mengusap tengkuknya gelisah.

“A–aku—”

“Aku tidak tahu alasan apa yang membawamu ke tempat ini,” potong pria itu dingin. “Namun satu hal yang pasti—kehadiranmu akan membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.”

Usai mengatakan itu, pria bertopi bambu tersebut berbalik dan pergi, meninggalkan Xia Mo yang masih terpaku di tempatnya, dengan dada berdebar dan pikiran yang diliputi kegelisahan yang tak berujung.

*

*

*

Sementara itu, Istana Kekaisaran tengah dilanda kehebohan. Beberapa Perdana Menteri mendesak Kaisar Ming agar mengembalikan gelar Selir Fai, menganggap hukuman yang dijatuhkan terlalu berat.

Namun, tidak sedikit pula yang menentang keras. Mereka beranggapan bahwa hukuman tersebut sepenuhnya setimpal dengan perbuatan Selir Fai.

“Yang Mulia… hamba mohon Yang Mulia berkenan mempertimbangkan kembali keputusan ini,” ujar seorang Perdana Menteri dengan nada penuh tekanan.

“Benar, Yang Mulia!” sahut beberapa menteri lain, saling menimpali.

“Tidak, Yang Mulia!” bantah seorang menteri dari sisi lain aula. “Menurut hamba, hukuman itu sudah pantas bagi seorang pengkhianat seperti Selir Fai.”

Seketika, aula rapat dipenuhi suara perdebatan. Pendapat saling beradu, sebagian mendukung, sebagian lagi menolak, menciptakan suasana panas yang menekan.

Di tengah kegaduhan itu, Kaisar Ming justru terdiam. Pandangannya kosong, pikirannya melayang pada sosok gadis yang tadi berdiri di sisi lapangan aula.

Xia Mo— Gadis yang entah bagaimana berhasil menarik perhatiannya. sesuatu yang jarang, bahkan hampir tak pernah terjadi.

"Siapa sebenarnya gadis itu? Mengapa rasanya seperti tidak asing. seakan-akan aku pernah bertemu dengannya?" batin Kaisar Ming.

Ia mencoba mengais ingatan, berusaha menemukan di mana dan kapan ia pernah bertemu dengan Xia Mo. Namun, sekeras apa pun ia memaksa, ingatan itu tetap buram, seolah tertutup kabut tebal.

“Yang Mulia…”

Bisikan pelan Kasim Ho menyadarkannya dari lamunan.

“Mohon Yang Mulia berkenan memberikan keputusan terkait Selir Fai dengan bijak.”

Seolah baru terbangun dari tidur panjang, Kaisar Ming mengangkat wajahnya. Matanya menyapu seluruh aula, menatap para Perdana Menteri yang kini menunggunya dengan raut penuh harap dan kecemasan.

“Yang Mulia,” ujar salah seorang dari mereka dengan suara tertahan, “hamba mohon Paduka mengambil keputusan yang bijaksana.”

Kaisar Ming menghembuskan napas panjang. Satu per satu wajah para menterinya ia amati, membaca ambisi, ketakutan, dan kepentingan yang tersembunyi di balik tatapan mereka.

“Zhen…”

*

*

*

“Apa maksud dari kata-katanya itu? Dan… siapa yang akan bangkit?” gumam Xia Mo, dahinya berkerut penuh tanda tanya.

Ia hendak bertanya lebih lanjut, tetapi baru menyadari bahwa pria tua yang tadi berdiri di hadapannya telah menghilang entah ke mana.

“K–ke mana perginya Paman tadi?”

Xia Mo menoleh ke segala arah, matanya menyapu keramaian pasar, mencari sosok bertopi bambu itu. Namun, tak ada jejak sedikit pun, seolah pria tersebut tak pernah ada di sana.

“Astaga… kenapa perginya cepat sekali?” desahnya pelan.

Dengan hati yang masih dipenuhi rasa penasaran dan kegelisahan, Xia Mo akhirnya melangkah pergi, membawa kata-kata misterius pria tua itu berputar-putar di benaknya.

"Sudahlah, nanti aku akan mencari tahunya sendiri."

*

*

*

Malam harinya, Xia Mo meringkuk di dalam kamarnya. Tangannya terus menekan perutnya yang sejak tadi berbunyi pelan, menuntut diisi.

“Sudah berapa jam berlalu… tapi kenapa tidak ada satu pun pelayan yang datang membawakan makanan?” keluhnya lirih.

Pandangan Xia Mo tak lepas dari pintu kamar. Ia berharap kapan saja pintu itu terbuka dan seseorang datang membawa nampan makanan. Namun, menit demi menit berlalu, dan yang ia dapatkan hanyalah keheningan.

Kesabarannya pun mulai menipis.

“Dasar… apa Kaisar sialan itu sengaja membiarkanku kelaparan sampai mati?” umpatnya kesal.

Karena rasa lapar yang kian menjadi akhirnya Xia Mo memutuskan untuk pergi ke dapur istana sendiri. Mencari makanan yang bisa dia makan malam ini.

"Persetan kalau Kaisar gila itu marah. Aku akan memakinya kalau dia berani menghukum ku."

Sejak pagi, ia belum menyentuh makanan sama sekali, hanya beberapa buah yang ia temukan untuk sekadar menipu rasa lapar. Ia sempat berharap akan dipanggil makan malam bersama, atau setidaknya mendapat jatah makanan dari dapur istana. Namun, semua harapan itu lenyap begitu saja.

Dengan langkah cepat dan sedikit terburu-buru, Xia Mo menyusuri lorong istana menuju dapur.

Begitu tiba, langkahnya mendadak terhenti.

Matanya membelalak menatap pemandangan di hadapannya.

“Apa-apaan ini?!” teriaknya nyaring.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 7

    “Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 6

    “Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 5

    “Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 4

    "Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun berg

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 3

    “Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status