LOGIN“Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih.
Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan memaksanya menunduk. “Cepat membungkuk, kalau kau masih ingin lehermu tetap berada di tempatnya,” bisik orang itu tajam. Jantung Xia Mo berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia ikut membungkuk tepat saat tandu Putra Mahkota melewatinya. Baru setelah tandu itu menjauh, cengkeraman di lehernya dilepaskan. “A–apa maksud Anda tadi?” tanya Xia Mo dengan suara gemetar, masih belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia berbalik, menatap Xia Mo dengan sorot mata yang dalam dan tajam, membuat Xia Mo tanpa sadar mundur beberapa langkah. “K–kenapa, Paman, menatapku seperti itu?” tanya Xia Mo ragu. Pria tua yang ia panggil Paman itu tersenyum miring di balik topi bambu yang menutupi wajahnya. “Untuk apa kau datang ke dunia ini?” tanyanya tiba-tiba, alih-alih menjawab. Sekejap mata Xia Mo membulat. Wajahnya menegang, lalu memucat, seolah darahnya tersedot habis. Namun, dengan susah payah ia memaksakan raut wajahnya kembali netral. “Apa maksud Paman? Saya tidak mengerti,” ujarnya, berpura-pura polos. Pria tua itu terkekeh pelan. “Kau mungkin bisa membodohi semua orang, tapi tidak denganku.” Gluk! Xia Mo menelan ludah dengan susah payah, lalu mengusap tengkuknya gelisah. “A–aku—” “Aku tidak tahu alasan apa yang membawamu ke tempat ini,” potong pria itu dingin. “Namun satu hal yang pasti—kehadiranmu akan membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.” Usai mengatakan itu, pria bertopi bambu tersebut berbalik dan pergi, meninggalkan Xia Mo yang masih terpaku di tempatnya, dengan dada berdebar dan pikiran yang diliputi kegelisahan yang tak berujung. * * * Sementara itu, Istana Kekaisaran tengah dilanda kehebohan. Beberapa Perdana Menteri mendesak Kaisar Ming agar mengembalikan gelar Selir Fai, menganggap hukuman yang dijatuhkan terlalu berat. Namun, tidak sedikit pula yang menentang keras. Mereka beranggapan bahwa hukuman tersebut sepenuhnya setimpal dengan perbuatan Selir Fai. “Yang Mulia… hamba mohon Yang Mulia berkenan mempertimbangkan kembali keputusan ini,” ujar seorang Perdana Menteri dengan nada penuh tekanan. “Benar, Yang Mulia!” sahut beberapa menteri lain, saling menimpali. “Tidak, Yang Mulia!” bantah seorang menteri dari sisi lain aula. “Menurut hamba, hukuman itu sudah pantas bagi seorang pengkhianat seperti Selir Fai.” Seketika, aula rapat dipenuhi suara perdebatan. Pendapat saling beradu, sebagian mendukung, sebagian lagi menolak, menciptakan suasana panas yang menekan. Di tengah kegaduhan itu, Kaisar Ming justru terdiam. Pandangannya kosong, pikirannya melayang pada sosok gadis yang tadi berdiri di sisi lapangan aula. Xia Mo— Gadis yang entah bagaimana berhasil menarik perhatiannya. sesuatu yang jarang, bahkan hampir tak pernah terjadi. "Siapa sebenarnya gadis itu? Mengapa rasanya seperti tidak asing. seakan-akan aku pernah bertemu dengannya?" batin Kaisar Ming. Ia mencoba mengais ingatan, berusaha menemukan di mana dan kapan ia pernah bertemu dengan Xia Mo. Namun, sekeras apa pun ia memaksa, ingatan itu tetap buram, seolah tertutup kabut tebal. “Yang Mulia…” Bisikan pelan Kasim Ho menyadarkannya dari lamunan. “Mohon Yang Mulia berkenan memberikan keputusan terkait Selir Fai dengan bijak.” Seolah baru terbangun dari tidur panjang, Kaisar Ming mengangkat wajahnya. Matanya menyapu seluruh aula, menatap para Perdana Menteri yang kini menunggunya dengan raut penuh harap dan kecemasan. “Yang Mulia,” ujar salah seorang dari mereka dengan suara tertahan, “hamba mohon Paduka mengambil keputusan yang bijaksana.” Kaisar Ming menghembuskan napas panjang. Satu per satu wajah para menterinya ia amati, membaca ambisi, ketakutan, dan kepentingan yang tersembunyi di balik tatapan mereka. “Zhen…” * * * “Apa maksud dari kata-katanya itu? Dan… siapa yang akan bangkit?” gumam Xia Mo, dahinya berkerut penuh tanda tanya. Ia hendak bertanya lebih lanjut, tetapi baru menyadari bahwa pria tua yang tadi berdiri di hadapannya telah menghilang entah ke mana. “K–ke mana perginya Paman tadi?” Xia Mo menoleh ke segala arah, matanya menyapu keramaian pasar, mencari sosok bertopi bambu itu. Namun, tak ada jejak sedikit pun, seolah pria tersebut tak pernah ada di sana. “Astaga… kenapa perginya cepat sekali?” desahnya pelan. Dengan hati yang masih dipenuhi rasa penasaran dan kegelisahan, Xia Mo akhirnya melangkah pergi, membawa kata-kata misterius pria tua itu berputar-putar di benaknya. "Sudahlah, nanti aku akan mencari tahunya sendiri." * * * Malam harinya, Xia Mo meringkuk di dalam kamarnya. Tangannya terus menekan perutnya yang sejak tadi berbunyi pelan, menuntut diisi. “Sudah berapa jam berlalu… tapi kenapa tidak ada satu pun pelayan yang datang membawakan makanan?” keluhnya lirih. Pandangan Xia Mo tak lepas dari pintu kamar. Ia berharap kapan saja pintu itu terbuka dan seseorang datang membawa nampan makanan. Namun, menit demi menit berlalu, dan yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Kesabarannya pun mulai menipis. “Dasar… apa Kaisar sialan itu sengaja membiarkanku kelaparan sampai mati?” umpatnya kesal. Karena rasa lapar yang kian menjadi akhirnya Xia Mo memutuskan untuk pergi ke dapur istana sendiri. Mencari makanan yang bisa dia makan malam ini. "Persetan kalau Kaisar gila itu marah. Aku akan memakinya kalau dia berani menghukum ku." Sejak pagi, ia belum menyentuh makanan sama sekali, hanya beberapa buah yang ia temukan untuk sekadar menipu rasa lapar. Ia sempat berharap akan dipanggil makan malam bersama, atau setidaknya mendapat jatah makanan dari dapur istana. Namun, semua harapan itu lenyap begitu saja. Dengan langkah cepat dan sedikit terburu-buru, Xia Mo menyusuri lorong istana menuju dapur. Begitu tiba, langkahnya mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap pemandangan di hadapannya. “Apa-apaan ini?!” teriaknya nyaring.Malam semakin larut ketika Xia Mo akhirnya meninggalkan hutan terlarang. Setelah memastikan pria bercadar itu pergi lebih dahulu, Xia Mo memilih jalur berbeda untuk kembali ke istana. Dia berjalan dengan tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun begitu sampai di paviliunnya, langkah Xia Mo mendadak terhenti. Pintu kamarnya terbuka. Xia Mo mengernyit. Seingatnya, sebelum pergi tadi dia sudah menutup pintu itu. Dia melangkah perlahan. Tangannya bahkan sempat menyentuh gagang pedang kecil yang terselip di balik jubahnya. Kemudian dia masuk. Dan dalam sekejap— Xia Mo membeku. Di dalam kamar, seseorang sedang duduk di tempat tidurnya. Kaisar Ming. Mata Xia Mo langsung melebar. Dia mundur satu langkah. Kemudian menatap ke sekeliling. Kiri. Kanan. Bahkan sampai melihat papan nama kecil di dekat pintu. Paviliun Selir Xia. Xia Mo berkedip. Dia benar-benar tidak salah masuk kamar. “...Kenapa Yang Mulia ada di s
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.
Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat
Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk
Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu ki
“Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menata
“Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun mili
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menun







