공유

Bab 8

작가: Langit Biru
last update 최신 업데이트: 2026-01-10 16:40:19

Brak!

Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya.

Srek!

Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming.

Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali.

“Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!”

Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang.

“Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang.

“Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar.

Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung pedang berhenti hanya beberapa jari dari matanya.

“A–apa yang kau lakukan?! Segera turunkan pedangmu!” titahnya dengan suara gemetar.

Namun, Xia Mo tak menggubris sedikit pun. Ia kembali mengarahkan pedangnya ke leher Kaisar Ming.

Anehnya, Kaisar Ming tetap tak menunjukkan rasa takut. Dengan satu gerakan cepat dan nyaris tak terlihat, ia menepis pedang itu hingga terlepas dari genggaman Xia Mo dan jatuh ke lantai dengan suara nyaring.

Clang!

"K–kenapa pedangnya bis–"

Belum selesai rasa keterkejutan Xia Mo. Suara dingin Kaisar Ming lebih dahulu menyapanya, membuat Xia Mo menoleh kearah pria tampan penuh kekuasaan tersebut.

“Ada apa?” tanyanya datar, dingin, seolah tak terjadi apa-apa.

“Kau… kau sengaja, kan?!” teriak Xia Mo marah. “Kau sengaja tidak menyuruh pelayan mengantarkan makanan! Bahkan dapur istana kosong!”

Tak seorang pun yang berani bersuara. Semua kepala tertunduk, tubuh menegang. Ada yang diam-diam mengagumi keberanian Xia Mo, namun lebih banyak lagi yang mencibir dalam hati, yakin hidup gadis itu tak akan lama lagi karena telah lancang pada Kaisar.

Tiba-tiba—

Duk!

Seorang kasim berlutut keras di hadapan semua orang.

“Yang Mulia… mohon hukum hamba,” ucapnya gemetar. “Hamba pantas mati.”

Amarah Xia Mo seketika teralihkan. Ia menoleh tajam ke arah Kasim Ho yang masih berlutut dengan kepala tertunduk.

“Apa maksudmu?” tanyanya tajam.

Namun Kasim Ho tetap diam, tak mengangkat wajahnya sedikit pun.

“Hai! Aku bertanya padamu, bodoh!” bentak Xia Mo kesal. “Kenapa kau minta dihukum mati? Apa yang sebenarnya kau lakukan?!”

“Bodoh!” sela sebuah suara dingin.

Xia Mo menoleh ke arah seorang pria muda yang berdiri tak jauh dari sana.

“Dia melakukan itu karena kelalaiannya sendiri.”

Xia Mo mengerutkan kening, menatap pria itu penuh kebingungan. “Maksudmu?”

Pria itu mendengus kasar. “Kau ini memang bodoh, ya?” katanya sinis. “Baru saja kau mengancam nyawa Ayahanda. Lantas menurutmu…” dagunya menunjuk Kasim Ho yang berlutut. “Masih pantaskah dia hidup?”

Tubuh Xia Mo seketika menegang. Matanya membesar, hatinya berdesir tak nyaman. Ia tak menyangka tindakannya akan menyeret orang lain ke ambang kematian.

“Hai! Dia tidak bersalah!” serunya cepat. Lalu ia menatap Kaisar Ming tajam. “Kau! Kaulah yang membuatku seperti ini. Jadi jangan seenaknya menghukum mati orang yang tidak bersalah!”

Xia Mo melangkah hendak membantu Kasim Ho. Namun, alih-alih berterima kasih, pria tua itu justru mendengus marah.

“Dasar selir buangan!” makinya tajam. “Kau malah membuat hidupku semakin rumit saja!”

Mata Xia Mo melebar seketika. Ia menatap Kasim Ho dengan sorot murka.

“Sialan!” umpatnya. “Dasar tua bangka! Sudah kubantu, bukannya berterima kasih, malah memakiku!”

*

*

*

“Aaa… akhirnya aku bisa makan juga.”

Wajah Xia Mo langsung berbinar saat melihat meja di kamarnya dipenuhi aneka hidangan.

Tanpa menunggu lama, ia meraih sumpit dan menatap satu per satu menu yang tersaji di hadapannya.

“Makan yang mana dulu, ya? Astaga… semuanya kelihatan enak sekali.”

Ia sempat terdiam, bingung harus memulai dari mana. Aroma makanan yang menggoda membuat perutnya kembali bergejolak.

“Ah, sudahlah. Yang mana saja boleh.”

Xia Mo mengambil satu dimsum dan langsung melahapnya dengan penuh semangat.

Namun—

Baru satu kali mengunyah, raut wajahnya langsung berubah. Ia buru-buru mengeluarkan dimsum itu dari mulutnya.

“Apa-apaan ini?” gumamnya kaget. “Kenapa rasanya aneh sekali?”

Ia mengambil hidangan lain dan mencicipinya sedikit. Seketika alisnya berkerut. Rasa hambar bercampur getir kembali menyeruak di lidahnya.

“Sialan…” umpatnya murka. “Masakan tidak layak seperti ini malah diberikan padaku.”

Dengan gerakan cepat dan kasar, Xia Mo merapikan semua hidangan di meja, lalu membawanya langsung menuju dapur istana, tempat beberapa pelayan dan koki masih berada.

Begitu tiba di sana—

Bruk!

Ia melemparkan makanan-makanan itu ke lantai tepat di hadapan mereka.

“Kalian sengaja ingin membunuhku, ya?!” bentaknya nyaring.

“Apa maksud Anda, Nona?” tanya kepala koki dengan nada tersinggung.

Pandangan kepala koki itu tertuju pada hidangan yang kini berceceran di lantai tanah, rusak tak bersisa akibat ulah Xia Mo.

“Apa maksudku?” Xia Mo menyilangkan tangan di dada. Tatapannya dingin dan meremehkan. “Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh? Masakan tidak layak seperti itu kalian berikan padaku?”

“Makanan tidak layak bagaimana?” sanggah kepala koki, nadanya meninggi. “Kami semua baru saja memasaknya!”

Sebagai koki istana, tuduhan itu jelas menampar harga dirinya. Terlebih, ia memasak di tengah waktu istirahat atas perintah langsung Kaisar Ming. Kini, gadis itu dengan lantang mengatakan masakannya tak layak dan membuangnya begitu saja.

Amarahnya pun meledak.

Namun Xia Mo sama sekali tak peduli. Ia mendengus pelan dan menatap koki itu dengan tatapan merendahkan.

“Masakan hambar dan getir seperti itu kau bilang baru?” ejeknya tajam. “Sebenarnya kau bisa memasak atau tidak?!”

Semua orang di dapur membelalak. Napas mereka tertahan.

Apa gadis ini tidak tahu… bahwa koki istana Hang adalah koki terbaik sepanjang sejarah? pikir mereka serempak.

“K–kau…” kepala koki itu terguncang. “Kau meremehkan aku?”

Xia Mo menyunggingkan senyum sinis. “Menurutmu bagaimana?”

“Kau tidak tahu siapa aku, hah? Gadis bodoh!” bentaknya marah.

“Untuk apa aku tahu siapa kau?” balas Xia Mo ringan, penuh ejekan. “Yang aku tahu, masakanmu tidak enak sama sekali, Pak Tua.”

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 7

    “Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 6

    “Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 5

    “Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 4

    "Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun berg

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 3

    “Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status