เข้าสู่ระบบBrak!
Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung pedang berhenti hanya beberapa jari dari matanya. “A–apa yang kau lakukan?! Segera turunkan pedangmu!” titahnya dengan suara gemetar. Namun, Xia Mo tak menggubris sedikit pun. Ia kembali mengarahkan pedangnya ke leher Kaisar Ming. Anehnya, Kaisar Ming tetap tak menunjukkan rasa takut. Dengan satu gerakan cepat dan nyaris tak terlihat, ia menepis pedang itu hingga terlepas dari genggaman Xia Mo dan jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Clang! "K–kenapa pedangnya bis–" Belum selesai rasa keterkejutan Xia Mo. Suara dingin Kaisar Ming lebih dahulu menyapanya, membuat Xia Mo menoleh kearah pria tampan penuh kekuasaan tersebut. “Ada apa?” tanyanya datar, dingin, seolah tak terjadi apa-apa. “Kau… kau sengaja, kan?!” teriak Xia Mo marah. “Kau sengaja tidak menyuruh pelayan mengantarkan makanan! Bahkan dapur istana kosong!” Tak seorang pun yang berani bersuara. Semua kepala tertunduk, tubuh menegang. Ada yang diam-diam mengagumi keberanian Xia Mo, namun lebih banyak lagi yang mencibir dalam hati, yakin hidup gadis itu tak akan lama lagi karena telah lancang pada Kaisar. Tiba-tiba— Duk! Seorang kasim berlutut keras di hadapan semua orang. “Yang Mulia… mohon hukum hamba,” ucapnya gemetar. “Hamba pantas mati.” Amarah Xia Mo seketika teralihkan. Ia menoleh tajam ke arah Kasim Ho yang masih berlutut dengan kepala tertunduk. “Apa maksudmu?” tanyanya tajam. Namun Kasim Ho tetap diam, tak mengangkat wajahnya sedikit pun. “Hai! Aku bertanya padamu, bodoh!” bentak Xia Mo kesal. “Kenapa kau minta dihukum mati? Apa yang sebenarnya kau lakukan?!” “Bodoh!” sela sebuah suara dingin. Xia Mo menoleh ke arah seorang pria muda yang berdiri tak jauh dari sana. “Dia melakukan itu karena kelalaiannya sendiri.” Xia Mo mengerutkan kening, menatap pria itu penuh kebingungan. “Maksudmu?” Pria itu mendengus kasar. “Kau ini memang bodoh, ya?” katanya sinis. “Baru saja kau mengancam nyawa Ayahanda. Lantas menurutmu…” dagunya menunjuk Kasim Ho yang berlutut. “Masih pantaskah dia hidup?” Tubuh Xia Mo seketika menegang. Matanya membesar, hatinya berdesir tak nyaman. Ia tak menyangka tindakannya akan menyeret orang lain ke ambang kematian. “Hai! Dia tidak bersalah!” serunya cepat. Lalu ia menatap Kaisar Ming tajam. “Kau! Kaulah yang membuatku seperti ini. Jadi jangan seenaknya menghukum mati orang yang tidak bersalah!” Xia Mo melangkah hendak membantu Kasim Ho. Namun, alih-alih berterima kasih, pria tua itu justru mendengus marah. “Dasar selir buangan!” makinya tajam. “Kau malah membuat hidupku semakin rumit saja!” Mata Xia Mo melebar seketika. Ia menatap Kasim Ho dengan sorot murka. “Sialan!” umpatnya. “Dasar tua bangka! Sudah kubantu, bukannya berterima kasih, malah memakiku!” * * * “Aaa… akhirnya aku bisa makan juga.” Wajah Xia Mo langsung berbinar saat melihat meja di kamarnya dipenuhi aneka hidangan. Tanpa menunggu lama, ia meraih sumpit dan menatap satu per satu menu yang tersaji di hadapannya. “Makan yang mana dulu, ya? Astaga… semuanya kelihatan enak sekali.” Ia sempat terdiam, bingung harus memulai dari mana. Aroma makanan yang menggoda membuat perutnya kembali bergejolak. “Ah, sudahlah. Yang mana saja boleh.” Xia Mo mengambil satu dimsum dan langsung melahapnya dengan penuh semangat. Namun— Baru satu kali mengunyah, raut wajahnya langsung berubah. Ia buru-buru mengeluarkan dimsum itu dari mulutnya. “Apa-apaan ini?” gumamnya kaget. “Kenapa rasanya aneh sekali?” Ia mengambil hidangan lain dan mencicipinya sedikit. Seketika alisnya berkerut. Rasa hambar bercampur getir kembali menyeruak di lidahnya. “Sialan…” umpatnya murka. “Masakan tidak layak seperti ini malah diberikan padaku.” Dengan gerakan cepat dan kasar, Xia Mo merapikan semua hidangan di meja, lalu membawanya langsung menuju dapur istana, tempat beberapa pelayan dan koki masih berada. Begitu tiba di sana— Bruk! Ia melemparkan makanan-makanan itu ke lantai tepat di hadapan mereka. “Kalian sengaja ingin membunuhku, ya?!” bentaknya nyaring. “Apa maksud Anda, Nona?” tanya kepala koki dengan nada tersinggung. Pandangan kepala koki itu tertuju pada hidangan yang kini berceceran di lantai tanah, rusak tak bersisa akibat ulah Xia Mo. “Apa maksudku?” Xia Mo menyilangkan tangan di dada. Tatapannya dingin dan meremehkan. “Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh? Masakan tidak layak seperti itu kalian berikan padaku?” “Makanan tidak layak bagaimana?” sanggah kepala koki, nadanya meninggi. “Kami semua baru saja memasaknya!” Sebagai koki istana, tuduhan itu jelas menampar harga dirinya. Terlebih, ia memasak di tengah waktu istirahat atas perintah langsung Kaisar Ming. Kini, gadis itu dengan lantang mengatakan masakannya tak layak dan membuangnya begitu saja. Amarahnya pun meledak. Namun Xia Mo sama sekali tak peduli. Ia mendengus pelan dan menatap koki itu dengan tatapan merendahkan. “Masakan hambar dan getir seperti itu kau bilang baru?” ejeknya tajam. “Sebenarnya kau bisa memasak atau tidak?!” Semua orang di dapur membelalak. Napas mereka tertahan. Apa gadis ini tidak tahu… bahwa koki istana Hang adalah koki terbaik sepanjang sejarah? pikir mereka serempak. “K–kau…” kepala koki itu terguncang. “Kau meremehkan aku?” Xia Mo menyunggingkan senyum sinis. “Menurutmu bagaimana?” “Kau tidak tahu siapa aku, hah? Gadis bodoh!” bentaknya marah. “Untuk apa aku tahu siapa kau?” balas Xia Mo ringan, penuh ejekan. “Yang aku tahu, masakanmu tidak enak sama sekali, Pak Tua.”Malam semakin larut ketika Xia Mo akhirnya meninggalkan hutan terlarang. Setelah memastikan pria bercadar itu pergi lebih dahulu, Xia Mo memilih jalur berbeda untuk kembali ke istana. Dia berjalan dengan tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun begitu sampai di paviliunnya, langkah Xia Mo mendadak terhenti. Pintu kamarnya terbuka. Xia Mo mengernyit. Seingatnya, sebelum pergi tadi dia sudah menutup pintu itu. Dia melangkah perlahan. Tangannya bahkan sempat menyentuh gagang pedang kecil yang terselip di balik jubahnya. Kemudian dia masuk. Dan dalam sekejap— Xia Mo membeku. Di dalam kamar, seseorang sedang duduk di tempat tidurnya. Kaisar Ming. Mata Xia Mo langsung melebar. Dia mundur satu langkah. Kemudian menatap ke sekeliling. Kiri. Kanan. Bahkan sampai melihat papan nama kecil di dekat pintu. Paviliun Selir Xia. Xia Mo berkedip. Dia benar-benar tidak salah masuk kamar. “...Kenapa Yang Mulia ada di s
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.
Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat
Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk
“Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu kepin
“Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menata
“Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun mili
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menun







