Teilen

Bab 4

last update Veröffentlichungsdatum: 10.10.2025 08:42:42

"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?"

Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya.

"Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai.

Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja.

"Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?"

Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming."

Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.

"Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun bergetar menahan emosi. "Kenapa dia masih hidup? Bahkan berani bersikap kurang ajar pada kalian, hah?"

Pelayan itu segera membungkuk lebih dalam, gemetar.

"Ampun, Yang Mulia! Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Selir Mo meminum anggur beracun itu... bahkan sempat tidak bernapas. Tapi... entah bagaimana, tiba-tiba dia bangkit kembali, dan tampak seperti tidak terjadi apa-apa."

Pelayan itu menggigil mengingatnya. Ia benar-benar menyaksikan bagaimana Xia Mo meneguk anggur yang telah dicampur racun, lalu terkulai lemas. Namun saat kembali untuk memastikan kematiannya, ia malah mendapati gadis itu duduk di atas dipan dengan wajah tenang seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Sementara itu, Selir Fai terdiam lama. Pandangannya kosong, namun di balik matanya bergolak amarah dan ketakutan. Ia tahu, gadis bernama Xia Mo itu bukan gadis biasa.

Ia masih teringat jelas ramalan yang pernah ia dengar bertahun-tahun lalu dari seorang peramal istana.

“Akan ada seorang gadis yang merebut tahtamu. Ia tidak dianggap keberadaannya, namun kelak Kaisar Ming akan jatuh hati padanya. Dan gadis itu... akan menjadi permaisuri,” ucap peramal tersebut.

Kata-kata itu terus terngiang di telinganya, menghantui setiap langkahnya.

Sejak hari itu, Selir Fai bertekad menyingkirkan siapa pun yang bisa menjadi ancaman—terutama para selir yang diabaikan Kaisar, karena bisa jadi salah satu dari merekalah gadis dalam ramalan itu.

Namun takdir seolah mempermainkannya. Suatu hari, Kaisar Ming datang membawa seorang gadis asing dan memperkenalkannya sebagai selir barunya—Xia Mo.

Saat mendengar nama itu, Selir Fai menggenggam erat tangannya hingga kukunya hampir menembus kulit. Ia tahu, posisinya kembali terancam.

Berbagai cara telah ia lakukan untuk menyingkirkan Xia Mo, namun semua gagal. Dan kini, setelah racun pun tak mempan, amarah sekaligus ketakutan menggerogoti hatinya.

"Kalau begitu..." bisiknya pelan, matanya menyipit penuh dendam. "Kali ini... aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan bangkit lagi."

*

*

*

Pagi harinya. Xia Mo terperanjat saat melihat sekelompok pelayan datang menghampirinya. Mereka membawa tumpukan kotak berukir indah dan beberapa set hanfu baru berwarna lembut.

"Ada apa ini? Apa yang kalian bawa?" tanya Xia Mo, alisnya berkerut bingung.

Pelayan senior di depan menunduk hormat sebelum menjawab dengan suara sopan namun hati-hati,

"Ampun, Selir Mo. Kami diutus oleh Selir Agung. Beliau memerintahkan kami untuk menyerahkan semua ini kepada Anda... dan membantu Anda bersiap."

Xia Mo memiringkan kepala, menatap mereka dengan curiga. "Bersiap? Bersiap untuk apa?" tanyanya lagi, nada suaranya terdengar datar namun tajam.

Dalam ingatan pemilik tubuh asli, Xia Mo tahu betul hubungan dirinya dengan Selir Agung Fai tidak pernah baik. Wanita itu selalu mencari celah untuk menyingkirkannya dari istana.

Lantas, kenapa tiba-tiba ia menjadi begitu dermawan? Mengirim pakaian baru, hadiah, bahkan pelayan?

"Hamba tidak tahu, Selir. Kami hanya menjalankan perintah," jawab pelayan itu pelan, menunduk makin dalam.

Xia Mo menatap pelayan tersebut lekat-lekat. Matanya menyipit, memindai setiap gerak-gerik yang tampak mencurigakan. Namun tak ada tanda-tanda aneh dari mereka semuanya terlihat tulus menjalankan tugas.

Akhirnya, Xia Mo menarik napas pelan. "Baiklah, kalau begitu... bantu aku bersiap."

Ia berdiri dari duduknya, dan para pelayan segera bergerak cepat membantu mengenakannya hanfu baru yang berlapis-lapis.

Tak butuh waktu lama sampai semuanya rampung. Xia Mo kini duduk di depan meja rias, menatap bayangan dirinya pada cermin logam berwarna kuning tembaga.

Wajah itu... halus, putih, dan cantik luar biasa. Mata bening, bibir merah muda alami, pesona yang cukup untuk membuat siapa pun iri.

"Pantas saja Selir Fai begitu membencimu," gumamnya dalam hati, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Beberapa pelayan mulai menata rambut panjangnya yang hitam legam. Semuanya berjalan lancar hingga—

"Aargh!" Xia Mo meringis keras. "Kau ini bisa tidak sedikit hati-hati?!" bentaknya dengan nada tajam.

Pelayan muda yang tanpa sengaja menusuk kepalanya dengan tusuk rambut segera berlutut gemetar.

"Ampun, Selir... hamba tidak sengaja..."

Xia Mo mendengus kesal, tapi tidak melanjutkan. Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, tanpa menyadari tatapan licik pelayan yang baru saja meminta ampun itu.

Dari ujung matanya, pelayan itu menatap Xia Mo dengan senyum dingin.

“Rasakan saja... sebentar lagi kau akan dipermalukan di hadapan Kaisar. Setelah itu, hidupmu di istana akan berakhir.”

Satu per satu pelayan selesai dengan pekerjaannya, lalu mundur dengan penuh hormat.

"Selir Mo, kami mohon pamit. Tugas kami telah selesai," ujar pelayan senior itu dengan suara tenang.

Xia Mo yang masih menatap cermin hanya berdehem kecil.

"Hmm."

Begitu para pelayan keluar meninggalkan paviliun Teratai, suasana menjadi hening. Hanya suara gemericik air dari kolam di luar yang terdengar.

Xia Mo menunduk perlahan, lalu tersenyum miring. Dengan satu gerakan cepat, ia mencabut tusuk rambut yang baru saja disematkan ke kepalanya.

“Rupanya kau masih mau bermain-main denganku, Selir Fai,” bisiknya pelan, namun suaranya dingin dan menusuk seperti bilah pisau yang diselubungi senyum.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 24

    Malam semakin larut ketika Xia Mo akhirnya meninggalkan hutan terlarang. Setelah memastikan pria bercadar itu pergi lebih dahulu, Xia Mo memilih jalur berbeda untuk kembali ke istana. Dia berjalan dengan tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun begitu sampai di paviliunnya, langkah Xia Mo mendadak terhenti. Pintu kamarnya terbuka. Xia Mo mengernyit. Seingatnya, sebelum pergi tadi dia sudah menutup pintu itu. Dia melangkah perlahan. Tangannya bahkan sempat menyentuh gagang pedang kecil yang terselip di balik jubahnya. Kemudian dia masuk. Dan dalam sekejap— Xia Mo membeku. Di dalam kamar, seseorang sedang duduk di tempat tidurnya. Kaisar Ming. Mata Xia Mo langsung melebar. Dia mundur satu langkah. Kemudian menatap ke sekeliling. Kiri. Kanan. Bahkan sampai melihat papan nama kecil di dekat pintu. Paviliun Selir Xia. Xia Mo berkedip. Dia benar-benar tidak salah masuk kamar. “...Kenapa Yang Mulia ada di s

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 23

    Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 22

    Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 21

    Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 20

    Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 19

    Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu ki

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 7

    “Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu kepin

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 6

    “Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menata

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 5

    “Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun mili

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status