LOGIN"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?"
Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun bergetar menahan emosi. "Kenapa dia masih hidup? Bahkan berani bersikap kurang ajar pada kalian, hah?" Pelayan itu segera membungkuk lebih dalam, gemetar. "Ampun, Yang Mulia! Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Selir Mo meminum anggur beracun itu... bahkan sempat tidak bernapas. Tapi... entah bagaimana, tiba-tiba dia bangkit kembali, dan tampak seperti tidak terjadi apa-apa." Pelayan itu menggigil mengingatnya. Ia benar-benar menyaksikan bagaimana Xia Mo meneguk anggur yang telah dicampur racun, lalu terkulai lemas. Namun saat kembali untuk memastikan kematiannya, ia malah mendapati gadis itu duduk di atas dipan dengan wajah tenang seolah tidak pernah terjadi apa pun. Sementara itu, Selir Fai terdiam lama. Pandangannya kosong, namun di balik matanya bergolak amarah dan ketakutan. Ia tahu, gadis bernama Xia Mo itu bukan gadis biasa. Ia masih teringat jelas ramalan yang pernah ia dengar bertahun-tahun lalu dari seorang peramal istana. “Akan ada seorang gadis yang merebut tahtamu. Ia tidak dianggap keberadaannya, namun kelak Kaisar Ming akan jatuh hati padanya. Dan gadis itu... akan menjadi permaisuri,” ucap peramal tersebut. Kata-kata itu terus terngiang di telinganya, menghantui setiap langkahnya. Sejak hari itu, Selir Fai bertekad menyingkirkan siapa pun yang bisa menjadi ancaman—terutama para selir yang diabaikan Kaisar, karena bisa jadi salah satu dari merekalah gadis dalam ramalan itu. Namun takdir seolah mempermainkannya. Suatu hari, Kaisar Ming datang membawa seorang gadis asing dan memperkenalkannya sebagai selir barunya—Xia Mo. Saat mendengar nama itu, Selir Fai menggenggam erat tangannya hingga kukunya hampir menembus kulit. Ia tahu, posisinya kembali terancam. Berbagai cara telah ia lakukan untuk menyingkirkan Xia Mo, namun semua gagal. Dan kini, setelah racun pun tak mempan, amarah sekaligus ketakutan menggerogoti hatinya. "Kalau begitu..." bisiknya pelan, matanya menyipit penuh dendam. "Kali ini... aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan bangkit lagi." * * * Pagi harinya. Xia Mo terperanjat saat melihat sekelompok pelayan datang menghampirinya. Mereka membawa tumpukan kotak berukir indah dan beberapa set hanfu baru berwarna lembut. "Ada apa ini? Apa yang kalian bawa?" tanya Xia Mo, alisnya berkerut bingung. Pelayan senior di depan menunduk hormat sebelum menjawab dengan suara sopan namun hati-hati, "Ampun, Selir Mo. Kami diutus oleh Selir Agung. Beliau memerintahkan kami untuk menyerahkan semua ini kepada Anda... dan membantu Anda bersiap." Xia Mo memiringkan kepala, menatap mereka dengan curiga. "Bersiap? Bersiap untuk apa?" tanyanya lagi, nada suaranya terdengar datar namun tajam. Dalam ingatan pemilik tubuh asli, Xia Mo tahu betul hubungan dirinya dengan Selir Agung Fai tidak pernah baik. Wanita itu selalu mencari celah untuk menyingkirkannya dari istana. Lantas, kenapa tiba-tiba ia menjadi begitu dermawan? Mengirim pakaian baru, hadiah, bahkan pelayan? "Hamba tidak tahu, Selir. Kami hanya menjalankan perintah," jawab pelayan itu pelan, menunduk makin dalam. Xia Mo menatap pelayan tersebut lekat-lekat. Matanya menyipit, memindai setiap gerak-gerik yang tampak mencurigakan. Namun tak ada tanda-tanda aneh dari mereka semuanya terlihat tulus menjalankan tugas. Akhirnya, Xia Mo menarik napas pelan. "Baiklah, kalau begitu... bantu aku bersiap." Ia berdiri dari duduknya, dan para pelayan segera bergerak cepat membantu mengenakannya hanfu baru yang berlapis-lapis. Tak butuh waktu lama sampai semuanya rampung. Xia Mo kini duduk di depan meja rias, menatap bayangan dirinya pada cermin logam berwarna kuning tembaga. Wajah itu... halus, putih, dan cantik luar biasa. Mata bening, bibir merah muda alami, pesona yang cukup untuk membuat siapa pun iri. "Pantas saja Selir Fai begitu membencimu," gumamnya dalam hati, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Beberapa pelayan mulai menata rambut panjangnya yang hitam legam. Semuanya berjalan lancar hingga— "Aargh!" Xia Mo meringis keras. "Kau ini bisa tidak sedikit hati-hati?!" bentaknya dengan nada tajam. Pelayan muda yang tanpa sengaja menusuk kepalanya dengan tusuk rambut segera berlutut gemetar. "Ampun, Selir... hamba tidak sengaja..." Xia Mo mendengus kesal, tapi tidak melanjutkan. Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, tanpa menyadari tatapan licik pelayan yang baru saja meminta ampun itu. Dari ujung matanya, pelayan itu menatap Xia Mo dengan senyum dingin. “Rasakan saja... sebentar lagi kau akan dipermalukan di hadapan Kaisar. Setelah itu, hidupmu di istana akan berakhir.” Satu per satu pelayan selesai dengan pekerjaannya, lalu mundur dengan penuh hormat. "Selir Mo, kami mohon pamit. Tugas kami telah selesai," ujar pelayan senior itu dengan suara tenang. Xia Mo yang masih menatap cermin hanya berdehem kecil. "Hmm." Begitu para pelayan keluar meninggalkan paviliun Teratai, suasana menjadi hening. Hanya suara gemericik air dari kolam di luar yang terdengar. Xia Mo menunduk perlahan, lalu tersenyum miring. Dengan satu gerakan cepat, ia mencabut tusuk rambut yang baru saja disematkan ke kepalanya. “Rupanya kau masih mau bermain-main denganku, Selir Fai,” bisiknya pelan, namun suaranya dingin dan menusuk seperti bilah pisau yang diselubungi senyum.Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung
“Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem
“Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber
“Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun berg
“Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya k







