เข้าสู่ระบบ“Aaarrrgggghhh!”
Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia berganti hanfu dan keluar dari kediamannya, langkahnya ringan dan hati-hati. Tak lama, ia sudah menyelinap masuk ke Paviliun Anggrek, tempat tinggal Selir Fai. Ia bersembunyi di balik sekat kayu, mengintip gerak-gerik sang selir. Dari sana, ia mendengar percakapan yang membuat darahnya berdesir. “Kerja bagus. Tidak sia-sia aku membayarmu,” ucap Selir Fai sambil tersenyum tipis pada pelayannya. “Sekarang pastikan pria itu masuk ke Paviliun Teratai. Sebarkan gosip bahwa Selir Mo membawa seorang pria masuk, kedalam Paviliunya.” “Baik, Yang Mulia.” Pelayan itu segera menunduk dan berlalu dari sana. Dari tempat persembunyiannya, Xia Mo hanya tersenyum miring. “Ah… jadi begitu rencanamu, ya? ingin menjebakku, dengan permainan kotormu itu. baiklah, kita lihat siapa yang menang kali ini.” gumamnya pelan dengan senyum seringainya. Namun satu kalimat dari Selir Fai membuat alis Xia Mo berkerut. “Setelah ini, dia pasti akan dihukum oleh Kaisar. Dan posisiku takkan jadi ancaman lagi,” ujar Selir Fai puas. “Ancaman?” Xia Mo mengulang lirih, bingung. Tapi belum sempat memikirkannya lebih jauh, Selir Fai bangkit dari tempat duduknya. Xia Mo buru-buru merunduk, menyembunyikan diri lebih dalam. Begitu situasi aman, Xia Mo bergerak cepat. Ia mendekati meja teh Selir Fai, lalu menuangkan sedikit bubuk perangsang dari tusuk rambut yang ia bawa. Setelah itu, ia segera pergi. Saat hendak keluar, matanya menangkap sebuah kantung koin tergeletak di atas meja. Tanpa pikir panjang, ia mengambilnya. “Kita lihat nanti, Selir Fai... bagaimana kau akan menghadapi akibat perbuatanmu sendiri,” ujarnya pelan. Namun pikirannya masih terus berputar. “Tapi... apa maksudnya aku ancaman?” Ia cepat-cepat menggeleng, menepis rasa penasaran itu. “Bukan waktunya memikirkan itu.” Beberapa saat kemudian, Xia Mo menemukan pelayan Selir Fai yang ia cari, si penghubung utama rencana kotor itu bersama seorang pemuda muda yang terlihat gelisah. Senyum licik muncul di wajah Xia Mo. “Saatnya pertunjukan dimulai.” Ia menghampiri keduanya, wajahnya setengah tertutup cadar, dan suaranya dibuat lebih serak agar tak dikenali. “Tunggu,” panggil Xia Mo datar. Pelayan itu menoleh cepat, wajahnya tegang. “A–ada apa? Kenapa menghentikan kami?” tanyanya gugup sambil menoleh ke kiri dan kanan. “Tadi aku diminta oleh Selir Fai untuk mencarimu,” ucap Xia Mo tenang, berbohong tanpa ragu. “Selir Fai mencariku? Untuk apa?” “Mana aku tahu? Lebih baik kau segera kembali, sebelum Selir Fai murka,” ucap Xia Mo sambil berpura-pura khawatir. Pelayan itu tampak ragu, menatap pemuda di sampingnya. “Tapi, bagaimana dengan dia?” “Biar aku yang antar,” sahut Xia Mo cepat. “Aku tahu jalan ke Paviliun Teratai. Lagipula, kau tidak ingin membuat Selir Fai menunggu, bukan?” Pelayan itu berpikir sebentar, lalu akhirnya mengangguk setelah mendengar nada “marah” yang ditiru Xia Mo. “Baiklah. Tapi tolong, rahasiakan ini dari siapa pun.” Xia Mo tersenyum samar di balik cadarnya. “Tentu saja. Rahasia ini aman bersamaku.” Begitu pelayan itu pergi, Xia Mo menatap pemuda di hadapannya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” Pemuda itu mengangguk cepat. “Tahu… tahu.” Xia Mo melemparkan kantung koin milik Selir Fai kepadanya. “Bagus. Gunakan ini kalau perlu.” Akhirnya haru itu, semuanya berjalan sesuai rencana. Berkat bubuk yang sudah ia campurkan ke teh Selir Fai sebelumnya mulai beraksi. Dan seluruh pelayan di Paviliun Anggrek tertidur pulas. Xia Mo pun dengan mudah membawa pemuda itu masuk ke kamar sang selir. Setelah mengantar pemuda itu ke dalam kediaman Selir Fai, Xia Mo berlalu dari sana. masih dengan baju pelayannya, Xia Mo mulai menyebarkan gosip tentang Selir Fai. Sementara, pelayan pribadi Selir Fai juga sudah ikut tertidur begitu mencium dupa tidur yang dipasang oleh Xia Mo sebelumnya. Hingga memudahkan pekerjaan Xia Mo kali ini. Begitu gosip mulai tersebar, Xia Mo bergegas pergi dan kembali ke Paviliunnya sembari menunggu hasilnya yang pasti akan menggemparkan seluruh istana, bagaikan bom waktu yang sudah ia atur sebelumnya. “Selesai... tinggal kita tunggu saja permainan ini,” gumamnya dengan senang.Malam semakin larut ketika Xia Mo akhirnya meninggalkan hutan terlarang. Setelah memastikan pria bercadar itu pergi lebih dahulu, Xia Mo memilih jalur berbeda untuk kembali ke istana. Dia berjalan dengan tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun begitu sampai di paviliunnya, langkah Xia Mo mendadak terhenti. Pintu kamarnya terbuka. Xia Mo mengernyit. Seingatnya, sebelum pergi tadi dia sudah menutup pintu itu. Dia melangkah perlahan. Tangannya bahkan sempat menyentuh gagang pedang kecil yang terselip di balik jubahnya. Kemudian dia masuk. Dan dalam sekejap— Xia Mo membeku. Di dalam kamar, seseorang sedang duduk di tempat tidurnya. Kaisar Ming. Mata Xia Mo langsung melebar. Dia mundur satu langkah. Kemudian menatap ke sekeliling. Kiri. Kanan. Bahkan sampai melihat papan nama kecil di dekat pintu. Paviliun Selir Xia. Xia Mo berkedip. Dia benar-benar tidak salah masuk kamar. “...Kenapa Yang Mulia ada di s
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.
Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat
Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk
Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu ki
“Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu kepin
“Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun mili
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menun







