Share

Bab 6

Author: Langit Biru
last update Last Updated: 2025-10-14 11:41:36

“Aaarrrgggghhh!”

Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri.

Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara.

Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

“Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata.

Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin.

Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung.

“Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.”

*

*

*

Beberapa jam sebelumnya…

Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai.

Dengan cepat, ia berganti hanfu dan keluar dari kediamannya, langkahnya ringan dan hati-hati. Tak lama, ia sudah menyelinap masuk ke Paviliun Anggrek, tempat tinggal Selir Fai.

Ia bersembunyi di balik sekat kayu, mengintip gerak-gerik sang selir. Dari sana, ia mendengar percakapan yang membuat darahnya berdesir.

“Kerja bagus. Tidak sia-sia aku membayarmu,” ucap Selir Fai sambil tersenyum tipis pada pelayannya. “Sekarang pastikan pria itu masuk ke Paviliun Teratai. Sebarkan gosip bahwa Selir Mo membawa seorang pria masuk, kedalam Paviliunya.”

“Baik, Yang Mulia.” Pelayan itu segera menunduk dan berlalu dari sana.

Dari tempat persembunyiannya, Xia Mo hanya tersenyum miring.

“Ah… jadi begitu rencanamu, ya? ingin menjebakku, dengan permainan kotormu itu. baiklah, kita lihat siapa yang menang kali ini.” gumamnya pelan dengan senyum seringainya.

Namun satu kalimat dari Selir Fai membuat alis Xia Mo berkerut.

“Setelah ini, dia pasti akan dihukum oleh Kaisar. Dan posisiku takkan jadi ancaman lagi,” ujar Selir Fai puas.

“Ancaman?” Xia Mo mengulang lirih, bingung. Tapi belum sempat memikirkannya lebih jauh, Selir Fai bangkit dari tempat duduknya. Xia Mo buru-buru merunduk, menyembunyikan diri lebih dalam.

Begitu situasi aman, Xia Mo bergerak cepat. Ia mendekati meja teh Selir Fai, lalu menuangkan sedikit bubuk perangsang dari tusuk rambut yang ia bawa. Setelah itu, ia segera pergi.

Saat hendak keluar, matanya menangkap sebuah kantung koin tergeletak di atas meja. Tanpa pikir panjang, ia mengambilnya.

“Kita lihat nanti, Selir Fai... bagaimana kau akan menghadapi akibat perbuatanmu sendiri,” ujarnya pelan.

Namun pikirannya masih terus berputar. “Tapi... apa maksudnya aku ancaman?”

Ia cepat-cepat menggeleng, menepis rasa penasaran itu. “Bukan waktunya memikirkan itu.”

Beberapa saat kemudian, Xia Mo menemukan pelayan Selir Fai yang ia cari, si penghubung utama rencana kotor itu bersama seorang pemuda muda yang terlihat gelisah.

Senyum licik muncul di wajah Xia Mo. “Saatnya pertunjukan dimulai.”

Ia menghampiri keduanya, wajahnya setengah tertutup cadar, dan suaranya dibuat lebih serak agar tak dikenali.

“Tunggu,” panggil Xia Mo datar.

Pelayan itu menoleh cepat, wajahnya tegang. “A–ada apa? Kenapa menghentikan kami?” tanyanya gugup sambil menoleh ke kiri dan kanan.

“Tadi aku diminta oleh Selir Fai untuk mencarimu,” ucap Xia Mo tenang, berbohong tanpa ragu.

“Selir Fai mencariku? Untuk apa?”

“Mana aku tahu? Lebih baik kau segera kembali, sebelum Selir Fai murka,” ucap Xia Mo sambil berpura-pura khawatir.

Pelayan itu tampak ragu, menatap pemuda di sampingnya. “Tapi, bagaimana dengan dia?”

“Biar aku yang antar,” sahut Xia Mo cepat. “Aku tahu jalan ke Paviliun Teratai. Lagipula, kau tidak ingin membuat Selir Fai menunggu, bukan?”

Pelayan itu berpikir sebentar, lalu akhirnya mengangguk setelah mendengar nada “marah” yang ditiru Xia Mo.

“Baiklah. Tapi tolong, rahasiakan ini dari siapa pun.”

Xia Mo tersenyum samar di balik cadarnya. “Tentu saja. Rahasia ini aman bersamaku.”

Begitu pelayan itu pergi, Xia Mo menatap pemuda di hadapannya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?”

Pemuda itu mengangguk cepat. “Tahu… tahu.”

Xia Mo melemparkan kantung koin milik Selir Fai kepadanya. “Bagus. Gunakan ini kalau perlu.”

Akhirnya haru itu, semuanya berjalan sesuai rencana. Berkat bubuk yang sudah ia campurkan ke teh Selir Fai sebelumnya mulai beraksi. Dan seluruh pelayan di Paviliun Anggrek tertidur pulas. Xia Mo pun dengan mudah membawa pemuda itu masuk ke kamar sang selir.

Setelah mengantar pemuda itu ke dalam kediaman Selir Fai, Xia Mo berlalu dari sana. masih dengan baju pelayannya, Xia Mo mulai menyebarkan gosip tentang Selir Fai.

Sementara, pelayan pribadi Selir Fai juga sudah ikut tertidur begitu mencium dupa tidur yang dipasang oleh Xia Mo sebelumnya. Hingga memudahkan pekerjaan Xia Mo kali ini.

Begitu gosip mulai tersebar, Xia Mo bergegas pergi dan kembali ke Paviliunnya sembari menunggu hasilnya yang pasti akan menggemparkan seluruh istana, bagaikan bom waktu yang sudah ia atur sebelumnya.

“Selesai... tinggal kita tunggu saja permainan ini,” gumamnya dengan senang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 7

    “Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 6

    “Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 5

    “Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 4

    "Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menunduk semakin dalam di bawah kaki Selir Fai. Kedua tangan Selir Fai mengepal erat. Urat di pelipisnya menegang. Ia benar-benar tidak terima mendengar bagaimana Xia Mo berani mengusir para pelayannya begitu saja. "Lalu... bagaimana dengan anggur itu?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah meminumnya?" Pelayan senior itu melirik rekan di sebelahnya sebelum menjawab hati-hati, "Sudah, Yang Mulia Selir Agung. Saya sendiri memastikan bahwa gadis itu meminum anggur yang Anda berikan—atas nama Kaisar Ming." Selir Fai terdiam sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu. "Kalau begitu..." ucapnya perlahan, suaranya merendah namun berg

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 3

    “Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. Gadis itu… berani menantangnya? Apakah dia tidak tahu siapa dirinya? Dialah Kaisar yang kekuasaannya meliputi seluruh daratan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala di hadapannya, apalagi berbicara seenaknya. “Aku—” “Sudahlah,” potong Xia Mo dingin. “Aku tidak peduli siapa kau. Bagiku, kau tidak penting.” Kaisar Ming terdiam, matanya membulat pelan. Belum pernah ada seorang pun, terlebih seorang wanita yang berani mengatakan hal seperti ini padanya. Sementara itu, Xia Mo perlahan bangkit, air panas menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Ia memutar pandangan, berusaha mencari jalan keluar dari kolam besar itu. “Sial… tempat apa ini? Aku malah nyasar,” gerutunya k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status