Share

Bab 2

Penulis: Langit Biru
last update Tanggal publikasi: 2025-10-09 08:10:09

“Siapa kau?” tanya Xia Mo dengan nada dingin.

Tatapannya tajam menusuk ke arah salah satu gadis berpenampilan seperti pelayan itu.

“Cih... sudah di ujung kematian saja masih sombong?” sindir gadis itu dengan nada meremehkan.

Mata Xia Mo membulat, terkejut sekaligus murka mendengar kata-kata lancang itu. Tanpa pikir panjang, ia bangkit dari dipan dan langsung mencekik leher si pelayan.

“Siapa yang kau sebut sombong, hah? Ulangi kalau berani!” desisnya dengan suara rendah penuh amarah.

Gadis itu terperangah, napasnya tersengal. Wajahnya memucat, namun masih berusaha menantang.

“Le–lepas... atau aku adukan kau pada Selir Agung!” ancamnya di sela napas.

“Selir Agung?” Xia Mo menyipitkan mata, menatap bingung.

“Iya! Selir Agung, kesayangan Kaisar! Kau siap-siap saja menerima hukumannya kalau berani menyentuhku!” balas gadis itu dengan nada congkak.

Walau lehernya masih dicekik, tidak sedikit pun rasa takut terlihat di matanya. Justru ia semakin berani menatap balik Xia Mo.

Namun tiba-tiba kepala Xia Mo berdenyut keras. Nyeri itu begitu menyakitkan hingga genggamannya terlepas. Ia memegangi kepalanya, mengerang pelan.

“Kenapa? Takut, kan?” ejek si gadis sambil merapikan pakaiannya. “Makanya, jangan macam-macam denganku.”

Ia bahkan sempat menyenggol bahu Xia Mo dengan sengaja, membuat tubuh wanita itu jatuh tersungkur ke lantai tanah yang dingin.

Xia Mo hanya terdiam. Ia mencoba mengusir rasa sakit itu dengan menggeleng pelan. Namun seketika, kilasan ingatan asing melintas di kepalanya—terasa begitu nyata, seolah-olah ia sedang menyaksikannya sendiri.

“Kau harus dihukum karena berani menggoda Kaisar,” ucap seorang wanita berwajah cantik, mengenakan pakaian mewah dan gincu merah menyala di bibirnya.

“Aku bersumpah... aku tidak pernah menggoda Kaisar, Selir Fai!” wanita yang dihadapan para pelayan itu berusaha menjelaskan dengan panik.

Namun cambuk telah lebih dulu menghantam tubuhnya, membuatnya meringis kesakitan.

“Kau pikir aku bodoh, hah?” bentak Selir Fai dengan mata berkilat marah.

“Tapi aku bersumpah, Selir Fai... aku tidak pernah melakukannya!”

“Cih, aku tidak peduli!” jawabnya sinis. “Tidak ada wanita mana pun yang boleh mendekati Kaisar—hanya aku yang berhak atasnya! Pengawal, cambuk wanita tak tahu diri ini lima puluh kali!”

Tanpa menunggu lama, Selir Fai berbalik dan meninggalkan tempat itu, sementara teriakan kesakitan wanita itu menggema di ruangan dingin tersebut.

Ingatan itu berkelebat begitu jelas di benak Xia Mo—membuat napasnya tercekat. Potongan demi potongan kejadian lain pun mengikuti.

Selir Agung Fai wanita yang sama, terus saja menyiksa dan berusaha menyingkirkan Xia Mo dari istana.

Setiap kali tiba giliran waktunya Xia Mo bersama Kaisar Ming, Selir Agung selalu punya cara untuk menggagalkannya.

Hingga pada akhirnya, ia memerintahkan pelayan kepercayaannya membawa segelas anggur beracun untuk Xia Mo, mengatasnamakan hadiah dari Kaisar sendiri.

Hingga akhirnya Xia Mo merenggut nyawanya, akibat ulah Selir Agung Fai yang cemburu padanya.

Namun entah karena kemurahan Dewa, jiwa Xai Bai yang juga baru saja tewas dalam nasib serupa masuk ke dalam tubuhnya.

Xia Mo atau lebih tepatnya, Xia Bai yang kini menempati raga Xia Mo hanya tersenyum miring, saat ingatan dari pemilik tubuhnya datang.

“Ternyata kita bernasib sama, ya?” gumamnya pelan. “Tapi tenang saja, Xia Mo... aku akan membalaskan semua penderitaanmu. Mereka yang menindasmu takkan ku biarkan hidup dengan tenang.”

Tatapannya mengeras. Mata yang tadinya sendu kini berkilat tajam, seperti seekor hewan buas yang tengah mengintai mangsanya. Dalam diri Xia Bai, bertekad untuk mengubah takdir Xia Mo telah tumbuh menjadi bara yang menyala.

*

*

*

Sementara itu, di sisi lain istana, Kaisar Ming duduk tenang di ruang kerjanya. Di hadapannya terbentang tumpukan gulungan laporan kerajaan yang belum selesai dibaca.

“Yang Mulia,” ucap seorang kasim dengan hormat, “sudah waktunya Anda menemui Selir Mo.”

Kaisar Ming menghentikan bacaannya. Alisnya terangkat ringan. “Selir Mo?” tanyanya datar.

Di antara banyak selirnya, hanya Selir Mo yang dikenal memiliki paras seindah rembulan dan sikap selembut air. Sayangnya, takdir mempermainkannya. Ia dinikahi Kaisar karena sebuah kesalahpahaman, dan sejak itu, sang Kaisar tak pernah benar-benar menganggapnya bagian dari para selirnya.

Kasim itu menunduk, tampak gelisah. “Yang Mulia... sudah lama beliau menunggu,” ucapnya hati-hati.

Namun Kaisar Ming hanya mendesah pendek.

“Sudahlah. Jangan ganggu aku dengan urusan itu,” katanya dingin. “Lebih baik siapkan air panas untuk mandiku.”

Nada suaranya jelas, tak memberi ruang untuk bantahan.

Kasim itu hanya bisa menghela napas, lalu membungkuk dalam. “Baik, Yang Mulia.”

Setelah sang kasim pergi, Kaisar Ming kembali menunduk menatap laporan-laporan di hadapannya. Matanya tajam dan penuh perhitungan, menelaah tiap permasalahan negara satu per satu. Ia begitu tenggelam dalam pikirannya hingga tak sadar ketika kasim itu kembali memberi kabar bahwa air pemandian telah siap.

“Yang Mulia, air sudah tersedia.”

Kaisar Ming hanya mengangguk tipis, lalu beranjak meninggalkan ruang kerja. Ia berjalan melewati lorong panjang menuju ruang pemandian pribadinya—tempat yang hanya dimasuki oleh dirinya seorang.

Begitu tubuhnya terendam dalam air panas, ia menghela napas panjang.

“Ah…” gumamnya pelan. “Akhirnya tenang juga.”

Hangatnya air meresap ke seluruh ototnya, meluruhkan lelah yang mengendap. Kaisar Ming memejamkan mata, membiarkan keheningan menemani.

Namun tiba-tiba...

Cebur!

Seseorang jatuh ke dalam kolam dengan suara cukup keras, memecah ketenangan ruang itu. Kaisar Ming segera membuka mata dan berdiri. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih pedang di dekat tepi kolam dan mengarahkannya pada sosok asing yang kini muncul dari air.

“Siapa kau?” suaranya terdengar tajam, menatap orang yang tengah berdiri dihadapannya itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 23

    Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 22

    Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 21

    Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 20

    Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 19

    Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 18

    “Yang Mulia datang ke paviliun Selir Fai malam ini.”Kabar itu membuat seluruh pelayan di Paviliun Fai sibuk sejak pagi.Selir Fai bahkan sudah memilih sendiri pakaian yang akan dikenakannya. Sebuah gaun berwarna merah muda dengan sulaman bunga teratai menghiasi bagian ujung kainnya. Rambutnya ditata tinggi, dihiasi beberapa tusuk konde berhiaskan mutiara.Di depan cermin, Selir Fai tersenyum puas.“Yang Mulia pasti akan menyukainya.”Dia sudah menunggu kesempatan ini cukup lama.Belakangan ini, Kaisar Ming terlalu sering berada di sekitar Xia Mo.Wanita yang dahulu bahkan tidak pernah dianggapnya itu.Xia Mo hanyalah selir yang dibuang ke istana bagian belakang. Tidak memiliki keluarga kuat, tidak memiliki pengaruh, bahkan nyaris tidak pernah dipanggil menghadap Kaisar.Dulu, Selir Fai selalu menganggap keberadaan Xia Mo tidak lebih dari debu.Namun sekarang?Nama Xia Mo justru semakin sering terdengar.“Selir Fai.”Seorang pelayan masuk dan menunduk.“Yang Mulia baru saja selesai me

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu ki

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 7

    “Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu kepin

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 6

    “Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menata

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 5

    “Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun mili

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status