Masuk“Siapa kau?” tanya Xia Mo dengan nada dingin.
Tatapannya tajam menusuk ke arah salah satu gadis berpenampilan seperti pelayan itu. “Cih... sudah di ujung kematian saja masih sombong?” sindir gadis itu dengan nada meremehkan. Mata Xia Mo membulat, terkejut sekaligus murka mendengar kata-kata lancang itu. Tanpa pikir panjang, ia bangkit dari dipan dan langsung mencekik leher si pelayan. “Siapa yang kau sebut sombong, hah? Ulangi kalau berani!” desisnya dengan suara rendah penuh amarah. Gadis itu terperangah, napasnya tersengal. Wajahnya memucat, namun masih berusaha menantang. “Le–lepas... atau aku adukan kau pada Selir Agung!” ancamnya di sela napas. “Selir Agung?” Xia Mo menyipitkan mata, menatap bingung. “Iya! Selir Agung, kesayangan Kaisar! Kau siap-siap saja menerima hukumannya kalau berani menyentuhku!” balas gadis itu dengan nada congkak. Walau lehernya masih dicekik, tidak sedikit pun rasa takut terlihat di matanya. Justru ia semakin berani menatap balik Xia Mo. Namun tiba-tiba kepala Xia Mo berdenyut keras. Nyeri itu begitu menyakitkan hingga genggamannya terlepas. Ia memegangi kepalanya, mengerang pelan. “Kenapa? Takut, kan?” ejek si gadis sambil merapikan pakaiannya. “Makanya, jangan macam-macam denganku.” Ia bahkan sempat menyenggol bahu Xia Mo dengan sengaja, membuat tubuh wanita itu jatuh tersungkur ke lantai tanah yang dingin. Xia Mo hanya terdiam. Ia mencoba mengusir rasa sakit itu dengan menggeleng pelan. Namun seketika, kilasan ingatan asing melintas di kepalanya—terasa begitu nyata, seolah-olah ia sedang menyaksikannya sendiri. “Kau harus dihukum karena berani menggoda Kaisar,” ucap seorang wanita berwajah cantik, mengenakan pakaian mewah dan gincu merah menyala di bibirnya. “Aku bersumpah... aku tidak pernah menggoda Kaisar, Selir Fai!” wanita yang dihadapan para pelayan itu berusaha menjelaskan dengan panik. Namun cambuk telah lebih dulu menghantam tubuhnya, membuatnya meringis kesakitan. “Kau pikir aku bodoh, hah?” bentak Selir Fai dengan mata berkilat marah. “Tapi aku bersumpah, Selir Fai... aku tidak pernah melakukannya!” “Cih, aku tidak peduli!” jawabnya sinis. “Tidak ada wanita mana pun yang boleh mendekati Kaisar—hanya aku yang berhak atasnya! Pengawal, cambuk wanita tak tahu diri ini lima puluh kali!” Tanpa menunggu lama, Selir Fai berbalik dan meninggalkan tempat itu, sementara teriakan kesakitan wanita itu menggema di ruangan dingin tersebut. Ingatan itu berkelebat begitu jelas di benak Xia Mo—membuat napasnya tercekat. Potongan demi potongan kejadian lain pun mengikuti. Selir Agung Fai wanita yang sama, terus saja menyiksa dan berusaha menyingkirkan Xia Mo dari istana. Setiap kali tiba giliran waktunya Xia Mo bersama Kaisar Ming, Selir Agung selalu punya cara untuk menggagalkannya. Hingga pada akhirnya, ia memerintahkan pelayan kepercayaannya membawa segelas anggur beracun untuk Xia Mo, mengatasnamakan hadiah dari Kaisar sendiri. Hingga akhirnya Xia Mo merenggut nyawanya, akibat ulah Selir Agung Fai yang cemburu padanya. Namun entah karena kemurahan Dewa, jiwa Xai Bai yang juga baru saja tewas dalam nasib serupa masuk ke dalam tubuhnya. Xia Mo atau lebih tepatnya, Xia Bai yang kini menempati raga Xia Mo hanya tersenyum miring, saat ingatan dari pemilik tubuhnya datang. “Ternyata kita bernasib sama, ya?” gumamnya pelan. “Tapi tenang saja, Xia Mo... aku akan membalaskan semua penderitaanmu. Mereka yang menindasmu takkan ku biarkan hidup dengan tenang.” Tatapannya mengeras. Mata yang tadinya sendu kini berkilat tajam, seperti seekor hewan buas yang tengah mengintai mangsanya. Dalam diri Xia Bai, bertekad untuk mengubah takdir Xia Mo telah tumbuh menjadi bara yang menyala. * * * Sementara itu, di sisi lain istana, Kaisar Ming duduk tenang di ruang kerjanya. Di hadapannya terbentang tumpukan gulungan laporan kerajaan yang belum selesai dibaca. “Yang Mulia,” ucap seorang kasim dengan hormat, “sudah waktunya Anda menemui Selir Mo.” Kaisar Ming menghentikan bacaannya. Alisnya terangkat ringan. “Selir Mo?” tanyanya datar. Di antara banyak selirnya, hanya Selir Mo yang dikenal memiliki paras seindah rembulan dan sikap selembut air. Sayangnya, takdir mempermainkannya. Ia dinikahi Kaisar karena sebuah kesalahpahaman, dan sejak itu, sang Kaisar tak pernah benar-benar menganggapnya bagian dari para selirnya. Kasim itu menunduk, tampak gelisah. “Yang Mulia... sudah lama beliau menunggu,” ucapnya hati-hati. Namun Kaisar Ming hanya mendesah pendek. “Sudahlah. Jangan ganggu aku dengan urusan itu,” katanya dingin. “Lebih baik siapkan air panas untuk mandiku.” Nada suaranya jelas, tak memberi ruang untuk bantahan. Kasim itu hanya bisa menghela napas, lalu membungkuk dalam. “Baik, Yang Mulia.” Setelah sang kasim pergi, Kaisar Ming kembali menunduk menatap laporan-laporan di hadapannya. Matanya tajam dan penuh perhitungan, menelaah tiap permasalahan negara satu per satu. Ia begitu tenggelam dalam pikirannya hingga tak sadar ketika kasim itu kembali memberi kabar bahwa air pemandian telah siap. “Yang Mulia, air sudah tersedia.” Kaisar Ming hanya mengangguk tipis, lalu beranjak meninggalkan ruang kerja. Ia berjalan melewati lorong panjang menuju ruang pemandian pribadinya—tempat yang hanya dimasuki oleh dirinya seorang. Begitu tubuhnya terendam dalam air panas, ia menghela napas panjang. “Ah…” gumamnya pelan. “Akhirnya tenang juga.” Hangatnya air meresap ke seluruh ototnya, meluruhkan lelah yang mengendap. Kaisar Ming memejamkan mata, membiarkan keheningan menemani. Namun tiba-tiba... Cebur! Seseorang jatuh ke dalam kolam dengan suara cukup keras, memecah ketenangan ruang itu. Kaisar Ming segera membuka mata dan berdiri. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih pedang di dekat tepi kolam dan mengarahkannya pada sosok asing yang kini muncul dari air. “Siapa kau?” suaranya terdengar tajam, menatap orang yang tengah berdiri dihadapannya itu.Malam semakin larut ketika Xia Mo akhirnya meninggalkan hutan terlarang. Setelah memastikan pria bercadar itu pergi lebih dahulu, Xia Mo memilih jalur berbeda untuk kembali ke istana. Dia berjalan dengan tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun begitu sampai di paviliunnya, langkah Xia Mo mendadak terhenti. Pintu kamarnya terbuka. Xia Mo mengernyit. Seingatnya, sebelum pergi tadi dia sudah menutup pintu itu. Dia melangkah perlahan. Tangannya bahkan sempat menyentuh gagang pedang kecil yang terselip di balik jubahnya. Kemudian dia masuk. Dan dalam sekejap— Xia Mo membeku. Di dalam kamar, seseorang sedang duduk di tempat tidurnya. Kaisar Ming. Mata Xia Mo langsung melebar. Dia mundur satu langkah. Kemudian menatap ke sekeliling. Kiri. Kanan. Bahkan sampai melihat papan nama kecil di dekat pintu. Paviliun Selir Xia. Xia Mo berkedip. Dia benar-benar tidak salah masuk kamar. “...Kenapa Yang Mulia ada di s
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.
Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat
Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menun
Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu ki
“Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. G
“Bai, ini aku bawakan minuman untukmu. Cepat diminum, ya,” ucap Xia We lembut, sambil menyerahkan segelas air kepada adiknya.Tanpa rasa curiga sedikit pun, Xia Bai menerima gelas itu.“Terima kasih, Jie Jie. Kau memang tahu saja, aku sedang haus.”Ia meneguk air itu dengan tenang. Namun baru beber






