Arumi memekik kecil, terkejut, seperti burung yang sayapnya tersentuh tanpa peringatan. Matanya yang sebelumnya sendu karena lelah dengan keadaan, kini membulat sempurna, memantulkan manik mata suaminya yang tersenyum jahil ke arahnya. Begitu dekat, hingga napas hangat pria itu menerpa keningnya."Apa-apaan sih, Om!" desisnya, tetapi rona merah cepat merayap naik, mewarnai pangkal telinganya hingga ke leher.Jantung Arumi, yang sedetik lalu berdetak tenang, kini berpacu kencang, seolah baru saja menempuh lari maraton. Kejutannya bercampur malu, tetapi juga disusul senyum yang tak bisa ia tahan. Saat menyadari betapa lincah dan manisnya ulah spontan sang suami di tempat yang tidak terduga itu.“Habisnya kamu tidak merespon pertanyaan saya. Ya sudah, saya cium saja,” ucap Langit terlalu santai.“Iya Om, tapi kan malu diliatin supir taksinya.” Arumi menunjuk arah jok depan dengan gerakan netranya.“Untuk apa harus malu, kamu kan istri saya.”“Ih Om, emang driver-nya tau kalau kita ini su
Last Updated : 2025-12-06 Read more