Pemuda itu berjalan menyusuri trotoar sepi di sepanjang area hotel. Lampu jalan memantulkan bayangannya yang goyah di atas aspal jalanan. Pasrah menunggu entah angkutan umum, tumpangan orang baik, atau awan kinton yang bisa membawanya pulang ke tempat kos.Untuk malam ini, tiga puluh juta yang telah masuk ke rekeningnya, ditambah beberapa lembar uang tunai hasil tips tamu pesta, sudah cukup mengisi pundi-pundinya. Tapi angka itu cukup untuk membayar obat-obatan ayahnya, dan tagihan lainnya.Gilang duduk lunglai di tepi trotoar. Dingin aspal menembus celananya, membuat tubuhnya semakin terasa hampa. Kalau keadaan tetap seperti ini, ia tidak punya pilihan selain menjual barang-barang mewah di kamarnya satu per satu-mulai dari koleksi jam tangan, parfum yang masih disegel, hingga mungkin motor kesayangannya yang penuh kenangan.Gilang merapatkan lutut, menunduk, dan membiarkan pikirannya terbang pada satu nama."Operasinya Mayang... lancar nggak, ya?" batinnya pilu.Senyum getir muncul d
최신 업데이트 : 2025-12-29 더 보기