Di kamar itu, pintu tertutup rapat. Hanya ada Jenderal Shang dan Shen Liu Zi seorang. Api kecil di tungku sudut ruangan menyala tenang, cahayanya menari lembut di dinding. Jenderal Shang berdiri tegak di tengah ruangan. Seragam dinasnya masih utuh, zirah baja menutup dada dan bahu, pelindung lengan berkilau redup diterpa cahaya api. Wajahnya seperti biasa—tenang, hampir tanpa ekspresi, seolah kedatangannya ke kamar ini bukan hal yang istimewa. Shen Liu Zi berdiri di hadapannya. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi matanya menyala berbeda. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan di sana—campuran kesal, gugup, tapi rindu. Lantas, Shen Liu Zi mendekat. Tangannya terangkat, ragu sepersekian detik sebelum akhirnya menyentuh kait pertama di bahu zirahnya. Bunyi kecil terdengar saat logam terlepas dari pengunci. Satu. Zirah bahu diangkat perlahan. Berat, tapi Shen Liu Zi tetap memegangnya secara hati-hati. Jenderal Shang tidak bergerak, tidak membantu, tidak menolak. Hanya b
Read more