Kereta berhenti dengan hentakan ringan. Bau tanah basah, jerami, dan sesuatu yang tajam—bau khas hewan ternak yang hidup dalam jumlah banyak, datang lebih dulu sebelum apa pun terlihat. Kemudian pintu kereta dibuka. Yu Li melompat ke luar, menyiapkan undakan. “Nyonya, kita sudah sampai.” Shen Liu Zi menyibak tirai, lalu turun lebih dulu. Gerakannya anggun seperti biasa, seolah tempat ini bukan peternakan, melainkan taman bunga istana. Di hadapannya terbentang peternakan luas yang dipagari kayu tebal. Tanahnya padat dan gelap, sebagian tertutup jerami. Beberapa kandang berdiri berjajar, dan dari dalamnya terdengar suara dengusan berat. Hrrkk. Hrrkk. Babi-babi itu besar. Tubuh mereka gemuk, kulitnya pucat keabu-abuan dengan bercak lumpur. Beberapa berdiri, beberapa berbaring, dan beberapa mengangkat kepala ketika mencium kehadiran manusia. Gu Qingren turun berikutnya. Dan begitu kakinya menyentuh tanah, wajahnya langsung memucat satu tingkat lagi—bukan pura-pura, melainkan sungg
اقرأ المزيد