Share

Bab 108

Author: Novi R
last update publish date: 2026-03-08 00:22:22

Beberapa minggu setelah itu, kehidupan yang dijalani rafa seperti biasa—dan justru di situlah Rafa belajar dari pengalaman kehidupannya

Rafa mulai jarang berdiri di depan papan emosi lama-lama. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia tidak lagi merasa harus memantau semua yang tertulis di sana. Ia percaya papan itu akan tetap bekerja, bahkan saat ia sedang sibuk menjadi anak kelasnya sendiri.

Anggi melihat perubahan itu dengan rasa campur aduk yang hangat. Ada bagian kecil dalam dirinya ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Luka di Ujung Senja   Bab 115

    Hari-hari berikutnya Rafa mulai menyadari bahwa hidupnya tidak lagi berputar hanya di sekitar Sudut Napas atau cerita orang lain. Ada ruang lain yang perlahan kembali muncul: tugas sekolah, obrolan ringan dengan teman, bahkan rasa bosan yang dulu terasa asing. Suatu sore, ia duduk di kamar, menatap buku matematika yang terbuka sejak tadi. Belum disentuh. Ia menghela napas. “Dulu aku pengen punya waktu kosong,” gumamnya pelan. “Sekarang dikasih… malah bingung mau ngapain.” Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Di luar kamar, Anggi mengetuk pelan. “Masuk ya?” “Masuk.” Anggi membuka pintu, membawa dua gelas teh. “Kamu kelihatan lagi mikir,” katanya sambil duduk di kursi. “Aku lagi nggak ada yang harus dikerjain… tapi malah nggak tenang,” jawab Rafa jujur. Anggi mengangguk. “Karena kamu terbiasa sibuk dengan orang lain.” Rafa menatapnya. “Terus sekarang harus gimana?” “Belajar diam tanpa merasa bersalah,” jawab Anggi sederhana. Rafa menyandarkan punggungnya ke dinding. “K

  • Luka di Ujung Senja   Bab 114

    Beberapa hari setelah itu, sesuatu berubah lagi—pelan, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan baik-baik. Bukan juga pada papan emosi di rumah. Tapi pada Rafa sendiri. Ia mulai punya jeda. Jeda sebelum merespons. Jeda sebelum merasa harus melakukan sesuatu. Dan di dalam jeda itu, ia menemukan hal baru: pilihan. — Suatu siang di sekolah, Rafa sedang berjalan menuju kantin ketika ia mendengar suara ribut dari belakang gedung. Bukan teriak besar. Lebih seperti suara yang ditahan-tahan, tapi tajam. Ia berhenti. Dua anak laki-laki berdiri saling berhadapan. Salah satunya Arman. Yang satu lagi Rafa tidak terlalu kenal. “Udah gue bilang, jangan ikut campur!” kata anak itu. Arman tidak menjawab. Rahangnya tegang. Rafa berdiri cukup jauh. Dulu, ia mungkin langsung masuk, mencoba menenangkan, menjadi penengah. Sekarang, ia tetap di tempat. Mengamati. Menunggu. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia belajar: tidak semua situasi butuh dia. Beberapa detik berlalu. Gu

  • Luka di Ujung Senja   Bab 113

    Hari berikutnya dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa: Rafa terlambat bangun. Bukan karena ia lupa pasang alarm, tapi karena tubuhnya benar-benar tidak ingin bangun lebih cepat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur tanpa mimpi yang penuh potongan suara orang lain. Ia membuka mata perlahan, melihat cahaya matahari sudah masuk cukup jauh ke dalam kamar. “Yah,” gumamnya pelan. Di luar, suara Anggi terdengar. “Rafa, bangun. Udah jam segini.” “Udah bangun,” jawabnya, meski masih berbaring. Ia duduk, mengusap wajah, lalu menarik napas panjang. Tidak ada rasa panik. Tidak ada perasaan dikejar sesuatu. Hanya sedikit terburu, seperti anak sekolah biasa. Dan itu terasa… normal. — Di meja makan, Rendra sudah siap berangkat kerja. “Kamu telat,” katanya singkat, tapi tidak menghakimi. “Iya,” jawab Rafa sambil mengambil roti. Anggi menyodorkan segelas susu. “Nggak apa-apa sesekali.” Rafa menatapnya sebentar. “Aku nggak mimpi aneh semalam.” “Bagus,” kata Anggi. Re

  • Luka di Ujung Senja   Bab 112

    Langit masih abu-abu, tapi tidak berat. Seperti dunia sedang menarik napas panjang setelah semalam menangis pelan. Rafa bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa saat, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa-apa. Earphone yang diberikan anak itu masih tergeletak di meja kecil di sampingnya. Ia meraihnya. Tidak langsung dipakai—hanya digenggam, seperti memastikan sesuatu itu benar-benar ada. Di luar kamar, suara piring dari dapur terdengar ringan. Tidak tergesa. Tidak tegang. Rafa berdiri, membuka pintu, dan berjalan keluar. Anggi sedang menuang teh. Rendra duduk sambil membaca sesuatu di ponselnya, kacamata bertengger di ujung hidung. “Pagi,” kata Rafa. “Pagi,” jawab Anggi, menoleh dengan senyum kecil. “Hari ini jadwal jaga kamu?” Rafa mengangguk. “Iya… tapi gantian sama Dika.” “Bagus,” sahut Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Jangan ambil semua shift lagi.” Rafa mengangkat alis. “Aku nggak pernah—” “Pernah,” potong Anggi rin

  • Luka di Ujung Senja   Bab 111

    Pagi itu Rafa duduk di lantai ruang tengah dengan tas sekolah masih di punggung. Ia tidak melepas sepatu. Anggi yang baru keluar kamar langsung tahu: ada sesuatu. “Di luar dulu atau di dalam dulu?” tanyanya pelan—pertanyaan yang biasa ia pakai saat Rafa membawa cerita berat. “Di dalam,” jawab Rafa. Ia membuka tas, bukan mengeluarkan buku, tapi secarik kertas yang sudah diremas lalu dirapikan lagi. “Itu dari papan di sekolah,” katanya. “Ada yang masukin ke kotak saran.” Anggi tidak mengambil kertas itu. Ia menunggu. Rafa membacanya pelan. “Aku nulis di papan, tapi orang yang rumahnya ribut tiap malam nggak bisa napas cuma dengan nulis.” Sunyi jatuh, berat tapi jujur. Rafa menatap lantai. “Aku merasa… kita ngajarin orang ngomong, tapi nggak selalu bisa ngubah keadaan mereka.” Anggi duduk di depannya. “Itu benar.” Rafa mengangkat wajah, kaget. “Kita memang nggak bisa memperbaiki semua rumah,” lanjut Anggi lembut. “Tapi kita bisa jadi tempat orang ingat bahwa yang mereka rasa

  • Luka di Ujung Senja   Bab 110

    Hujan berhenti menjelang subuh, meninggalkan udara yang bersih dan bau tanah yang naik pelan dari halaman. Anggi membuka jendela dapur lebih lebar dari biasanya, membiarkan pagi masuk tanpa ditahan. Rafa sudah duduk di meja makan dengan buku catatan terbuka, tapi tidak benar-benar membaca. Pensilnya diam di satu titik, seperti pikirannya belum turun sepenuhnya dari semalam. “Masih kepikiran?” tanya Anggi lembut. Rafa mengangguk. “Tapi bukan yang bikin panik. Lebih kayak… habis gempa kecil, terus kita ngecek dinding retak atau nggak.” Anggi tersenyum. “Dan hasilnya?” “Masih berdiri,” jawab Rafa. “Cuma sekarang aku sadar kita harus rawat juga, bukan cuma pakai.” Di sekolah, efek kejadian itu belum sepenuhnya reda. Tapi suasananya berubah arah. Beberapa siswa yang sebelumnya hanya lewat kini benar-benar berhenti di depan Sudut Napas. Guru BK menambahkan kotak kecil di bawah papan—bukan untuk keluhan, tapi untuk saran dan pertanyaan. Sistem kecil mulai tumbuh di sekitar ide yang du

  • Luka di Ujung Senja   Bab 36

    Anggi berdiri di depan warung cukup lama hingga hujan tinggal gerimis. Jam di ponselnya menunjukkan pukul empat lewat tiga belas menit. Jika Claudia benar datang “sore ini”, maka ia mungkin sudah berada di sekitar rumah sakit sekarang. Atau sedang menunggu. Atau… mungkin menangis sendirian entah di

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Luka di Ujung Senja   Bab 32

    lHari-hari berikutnya berjalan lebih cepat dari yang Anggi bayangkan. Setelah pembicaraan dengan Bu Rani di taman, ia benar-benar diperkenalkan kepada pemilik warung makan yang terletak tiga gang dari kontrakannya. Pemilik warung itu, seorang ibu paruh baya bernama Bu Mira, tampak ramah dan langsun

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Luka di Ujung Senja   Bab 33

    Setelah Ardi pergi sore itu, Anggi masuk ke kontrakan dengan tangan gemetar. Ia menutup pintu dengan cepat lalu bersandar pada dinding, napasnya memburu. Bayinya menggeliat kecil, seakan merasakan getaran emosi ibunya. “Maaf ya, Nak…” bisik Anggi sambil mengecup dahi putranya. “Mama hanya ingin ka

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Luka di Ujung Senja   Bab 31

    Beberapa minggu berlalu sejak Anggi menempati kontrakan barunya. Lingkungan itu mulai terasa akrab—suara anak-anak yang berlarian setiap sore, ibu-ibu yang biasa berkumpul sambil mengupas bawang, dan aroma masakan tetangga yang kadang membuatnya rindu rumah masa kecilnya. Perlahan, rasa terasing ya

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status