“Apa senyum-senyum!” Aura langsung berubah galak begitu pintu ruangan itu tertutup.“Enggak,” jawab Pras ringan. “Kamu bisa saja kalau balas ucapan Veny barusan.” Ia tersenyum dan mencoba mencium pipi Aura, tapi Aura buru-buru menghindar.“Bukannya tadi sudah bareng sejak pagi, belum puas, hah? Sekarang masih mau cium-cium segala.” Nada suara Aura masih ketus. Wajahnya jelas belum sepenuhnya reda.“Memangnya aku ngapain, sih, Sayang? Ini otak kamu saja yang mikir ke mana-mana,” ujar Pras, setengah geli.“Enggak tahu ngapain saja sampai lupa janji mau nganter aku cari perlengkapan bayi. Saking senangnya mau ketemu mantan istrimu yang cantik, seksi, dan enggak gendut itu!”Pras menahan senyum. Ia tahu betul, sejak tadi Aura mati-matian menahan cemburu, dan sekarang semua diluapkan padanya.“Maaf,” ucap Pras pelan. “Semalam aku terlalu ngantuk sampai benar-benar lupa soal janji itu.” Ia meraih Aura, memeluknya lembut, lalu mencium puncak kepalanya dengan penuh sayang.“Kan bisa bilang
Last Updated : 2025-12-13 Read more