Alya melangkah masuk ke lobi kampus dengan kepala tegak, meski jantungnya masih berdentum keras. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai marmer itu menarik kakinya untuk berhenti. Bisik-bisik mulai terdengar semakin jelas, ada yang pura-pura berdehem, ada pula yang terang-terangan menatapnya tanpa rasa sungkan."Itu dia, kan?""Berani banget ya masih muncul,""Nggak tahu malu,"Alya menggenggam tali tasnya lebih erat. Ia menelan ludah, memaksa dirinya untuk tidak menoleh. Kalimat Reihan kembali terngiang di kepalanya, jangan pedulikan ucapan mereka. Semua itu tidak benar. Ia mengulanginya dalam hati seperti mantra, berusaha menjaga langkahnya tetap stabil.Di koridor lantai dua, Dina sudah menunggu. Begitu melihat Alya, wajah sahabatnya itu langsung berubah. Dina bergegas mendekat, matanya penuh kekhawatiran.“Alya,” panggilnya pelan.Alya berhenti. Saat mata mereka bertemu, pertahanan yang susah payah ia bangun nyaris runtuh. Namun Alya segera menarik napas, memaksakan senyum tipi
最終更新日 : 2026-02-26 続きを読む