“Ha-halo, Riri?” Suara Wita terdengar dari ponsel itu. “Kenapa kamu telepon jam segini? Kamu sama Revan, kan?” Begitu mendengar nama Revan, tangis Riri pecah lagi. “Ma,” Suara Riri parau dan sesenggukan. “Aku, aku keguguran, Ma.” Wita langsung terdiam. Lalu suara pecahan kaca terdengar dari arah sana, entah apa yang terjatuh. “A-apa yang kamu bilang? Riri, astaga Tuhan, Riri aa,” jerit Wita, napasnya tersendat-sendat. “Cucu Mama, cucu Mama lagi—” Tangis Wita pecah. “Ya Allah, pertama Maira, sekarang kamu, kenapa, jadi seperti ini?" Riri memejamkan mata, membiarkan tangis Wita melebur dengan isakannya sendiri. “Mas Revan pergi. Dia ninggalin aku, Ma. Dia bilang dia nggak mau sama aku lagi, Aku takut, Ma. Aku nggak punya siapa-siapa.” Wita menangis semakin keras. “Riri, kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Mama, kamu datang ke rumah. Kamu tinggal sama Mama. Revan itu memang keras kepala, tapi dia pasti bali
最終更新日 : 2025-12-11 続きを読む