"Sialan!" Renan memijat pelipisnya yang mulai terasa berat. Perkataan Damian terus berputar di pikiran. Semakin berusaha ia lupakan, kata-kata itu semakin membuat Renan pusing sendiri. Sebab itulah ia pun memilih berakhir di sebuah bar. Tempat yang sebenarnya sudah lama tidak Renan kunjungi. Apalagi setelah Damian menikah. Seolah semesta tidak berpihak padanya, tepat di pintu masuk bar, gadis yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangan Renan muncul. Di belakangnya, seorang pria yang Renan kenal melangkah dengan ringan. Senyum hangatnya menghiasi wajah. Yang paling tampak adalah tatapan tulusnya. Demi apapun, hanya karena melihat keakraban Maurin dan Kael, Renan tanpa sadar menghirup americano peach dingin miliknya dalam sekali tandas. Dadanya mendadak panas. Rasa tidak suka menyusup begitu saja ke relung hatinya. Dan Renan sangat membenci perasaan ini. Apalagi saat matanya tidak terlepas dari memandang wajah cantik perempuan yang kini duduk di sofa sudut ruangan. "Renan?" Pria
Mehr lesen