Pagi di Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk menyapa jiwa. Suara kicauan burung gereja di dahan pohon mangga depan rumah Pak Tejo berpadu dengan aroma kayu bakar dari dapur, tempat Ibu Tejo sedang menjerang air untuk kopi pagi. Brian terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Beban sejarah keluarganya yang selama ini menghimpit, kini telah terkubur bersama doa-doa tulus yang ia panjatkan di makam sang bapak, Pak Prasetyo, kemarin sore.Jessy masih terlelap di sampingnya, tampak sangat tenang dalam balutan daster katun sederhana. Wajahnya yang biasa dipoles riasan tipis saat di Jakarta, kini tampil polos dan alami, memancarkan kecantikan yang jauh lebih jujur. Brian mengecup kening istrinya pelan, lalu beranjak menuju dapur untuk menemui orang tua angkatnya."Pagi, Pak, Bu," sapa Brian sambil menarik kursi kayu di meja makan yang sudah tersedia pisang rebus dan teh poci."Pagi, Le. Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Pak Tejo sambil melinting temb
Read More