Udara dingin pegunungan mulai menusuk tulang saat malam menyelimuti kawasan Puncak. Di sebuah jalan setapak yang hanya cukup dilewati satu mobil, van hitam yang membawa Cindy terus merayap naik menuju sebuah vila tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Di belakangnya, dengan jarak yang cukup jauh agar tidak tertangkap lampu spion, Slamet memacu motor bebeknya dengan nyali yang meluap. Giginya bergemeletuk, bukan karena dingin, melainkan karena amarah yang membakar dadanya."Wani-wanine kowe, Chiko... (Berani-beraninya kamu, Chiko...)" gumam Slamet di balik helmnya. Tangannya mencengkeram stang motor begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Slamet segera mengirimkan koordinat terakhir melalui pesan suara kepada Brian. "Mas Brian, mereka masuk ke arah jalur alternatif Cisarua, ke vila milik keluarga Pratama yang sudah lama dikosongkan. Cepat, Mas! Perasaan saya nggak enak!"***Di dalam vila yang temaram, Chiko menyeret tubuh Cindy yang ma
Read more