Di kamar lain, Rendra dan Irvan sedang berdiskusi dengan Samuel melalui telepon.“Tim kita sudah lacak lokasi Widya,” kata Samuel. “Dia pindah-pindah, tapi kita bisa nebak polanya. Mudah-mudahan besok bisa kita tangkap.”Rendra menghela napas lega. “Makasih, Sam.”“Jaga Dara baik-baik, Ren. Jangan sampai dia stres. Itu nggak baik buat kehamilannya,” pesan Samuel.“Iya, Sam. Aku tahu.”Telepon lalu dimatikan. Irvan menepuk bahu sahabatnya.“Dia akan baik-baik aja, Ren. Dara wabita kuat.”Rendra mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku tetep khawatir.”“Wajar. Itu tandanya kamu sayang.”Mereka tersenyum tipis. Di ruang tamu, suara tawa kecil Dara dan Nina terdengar. Rendra menatap ke arah sana, dan untuk sesaat, beban di dadanya terasa ringan.‘Kita akan lewati ini, Sayang,’ bisiknya dalam hati. ‘Buat kita. Buat bayi kita.’Di luar, hujan mulai reda. Dan di suatu tempat, Widya bersiap untuk langkah berikutnya. Dan di suatu tempat, Widya tersenyum menatap foto Rendra.“Kau pikir bisa lari dariku,
続きを読む