Sementara itu... Di tempat yang jauh dari altar emas, di dalam wilayah kekuasaan keluarga Aolong. Sebuah aula besar berdiri megah. Dindingnya dihiasi ukiran naga. Pilar-pilar tinggi menjulang dengan aura kuno yang menekan. Di ujung aula, seorang pria duduk dengan tenang di singgasananya. Nara Aolong. Tatapannya tajam. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak sedang marah. Tidak pula gelisah. Melainkan berpikir dalam, sangat dalam. Di bawah sana, beberapa tetua berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu. Hening menyelimuti ruangan itu. Sampai akhirnya satu kalimat pendek diucapkan. “Aku berubah pikiran.” Suara Nara Aolong terdengar datar, tenang, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menegang. Para tetua sedikit terkejut. Salah satu dari mereka memberanikan diri mengangkat kepala. “Tuan… maksud Anda?” Nara Aolong tidak langsung menjawab. Tatapannya mengarah ke kejauhan, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa
Read more