Pria tua itu menatap Ravina dengan sorot mata yang dalam. "Jika kau benar-benar bersedia mengorbankan dirimu… maka aku akan memberimu kesempatan." Tangannya bergerak ringan. Sebuah tirai cahaya perlahan terbuka di hadapan Ravina. Cahaya itu berpendar lembut, namun terasa begitu dalam, seolah menyimpan sesuatu yang tak terjangkau oleh akal. "Masuklah." "Itu adalah pintu pengorbanan." "Jika kau benar-benar tulus… dan bersedia mengorbankan jiwamu, maka suamimu akan bangun." Ravina terdiam. Tatapannya bergetar. Keraguan sempat muncul di hatinya. Namun pria tua itu tiba-tiba tertawa kecil. "Hoho… kau pikir aku akan menipumu?" Ia menatap Ravina dengan santai. "Dengan kekuatanku, jika aku ingin membunuhmu, itu hanya soal satu jentikan jari." Ravina terdiam. Pikirannya berputar cepat. Ia tahu... Apa yang dikatakan pria tua itu benar. Jika pria itu berniat jahat, bahkan jika Nathan berada di kondisi puncaknya sekalipun… Mereka tetap tidak akan mampu melawannya. Namun... R
Read more