LOGINCahaya di dalam ruang kultivasi berputar semakin cepat. Energi jiwa Nathan dan Jasmin menyatu sempurna, membentuk aliran lembut yang terus menembus lautan kesadaran Rania. Di sekeliling mereka, Ravina, Irish, Nasha, Laqisha, Karina, dan Clarisa menjaga formasi dengan fokus penuh. Tidak seorang pun berani mengeluarkan suara. Semua menunggu. Semua berharap. Nathan menggenggam kedua tangan Rania erat-erat. Telapak tangan gadis itu terasa dingin, tetapi perlahan mulai menghangat seiring energi terus mengalir. Di dalam lautan jiwanya, Rania melihat serpihan-serpihan kenangan yang melayang seperti bintang. Awalnya hanya bayangan. Wajah-wajah samar. Suara-suara yang terdengar jauh. Namun semakin lama, semuanya menjadi semakin jelas. Ia melihat dirinya sendiri di masa lalu. Melihat tawa yang pernah ia miliki. Melihat teman-temannya. Melihat perjalanan panjang yang telah ia lalui. Dan kemudian... Ia melihat Nathan. Bukan hanya sekali. Bukan hanya satu kenang
Pagi yang dimulai dengan keramaian ternyata berlanjut hingga jauh melewati tengah hari. Tawa, candaan, dan berbagai keributan kecil tidak pernah benar-benar berhenti. Nathan sendiri nyaris tidak mendapat waktu untuk bernapas, apalagi beristirahat. Dan ketika semuanya akhirnya selesai mengambil gilirannya, langit sudah berubah jingga. Senja menyelimuti pulau dengan cahaya keemasan yang lembut. Nathan memandang tujuh gadis di sekitarnya. Jasmin berdiri dengan senyum puas yang sama sekali tidak berusaha ia sembunyikan. Ravina tampak tenang seperti biasa, Irish masih mempertahankan ekspresi elegannya, sementara Nasha, Laqisha, Karina, dan Clarisa jelas sedang berada dalam suasana hati yang sangat baik. Senyum di wajah mereka nyaris sama. Senyum yang terlalu mencurigakan. Nathan hanya bisa menggelengkan kepala sebelum mengajak mereka keluar. "Ayo. Yang lain pasti sudah menunggu." Begitu mereka tiba di halaman utama, suasana langsung berubah. Semua mata tertuju pada mereka
Malam sebelumnya benar-benar menjadi malam yang panjang. Sangat panjang. Bagi Nathan dan Jasmin, malam itu berlalu begitu cepat. Namun bagi enam gadis cantik yang berjaga di depan pintu, rasanya seperti satu tahun penuh penderitaan. Ravina bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat, berusaha mempertahankan wibawanya sebagai istri pertama. Irish duduk tenang di sudut, meskipun sesekali sudut bibirnya berkedut. Nasha mondar-mandir seperti naga kecil yang kehilangan sarangnya. Laqisha beberapa kali menutup telinga, hanya untuk membukanya lagi beberapa detik kemudian. Karina dan Clarisa? Keduanya sudah lama menunduk dengan wajah semerah tomat matang. "Aku tidak mendengar apa-apa," gumam Karina. "Kau berbohong," balas Clarisa tanpa mengangkat kepala. "Aku tahu." Nasha berhenti mondar-mandir lalu menatap pintu dengan ekspresi tragis. "Sudah berapa lama?" "Delapan jam," jawab Irish tenang. "Mustahil." "Aku menghitung." Laqisha menatap langit-langit. "Aku mu
Malam panjang itu akhirnya berlalu, meninggalkan keheningan lembut yang hanya sesekali terusik oleh hembusan angin pagi dari balik jendela. Cahaya matahari menembus tirai tipis, memantulkan warna keemasan ke seluruh ruangan. Di atas ranjang, Jasmin masih terlelap. Rambut panjangnya terurai berantakan di atas bantal, beberapa helainya menutupi wajah cantiknya. Selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya, sementara kedua tangannya melingkar erat di pinggang Nathan, seolah takut pria itu menghilang jika dilepaskan. Nathan sudah terbangun lebih dulu. Ia menatap wanita dalam pelukannya dengan senyum tipis. Malam tadi, Jasmin yang biasanya penuh percaya diri akhirnya kehilangan seluruh kendali. Sang pengendali emosi justru tenggelam dalam emosi yang selama ini selalu ia atur dari kejauhan. Dan sekarang... Wajahnya terlihat begitu damai. Begitu rapuh. Sangat berbeda dari sosok percaya diri yang biasanya selalu mendominasi. Cahaya matahari perlahan menyentuh pipinya. Jasmin
Malam itu, suasana di kamar Nathan terasa jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Cahaya lampu kristal memantulkan kilau lembut di dinding, sementara di atas meja, Kitab Mantra Pemanggil Jiwa terbuka lebar, memperlihatkan simbol-simbol kuno yang terus bergerak seperti hidup. Jasmin duduk tepat di hadapan Nathan. Wajahnya tenang, matanya memancarkan keyakinan mutlak. Sebagai avatar dari Santo Emosi, mengajarkan kitab ini jelas bukan hal sulit baginya. Bahkan, diam-diam ia menikmati situasi itu. Baginya, Nathan tetaplah manusia. Sehebat apa pun dia, emosi tetap menjadi celah terbesar. Dan Jasmin berniat membuktikannya malam ini. "Fokus," ucapnya lembut. "Jangan hanya membaca. Rasakan setiap aliran energi di dalam huruf-huruf itu." Nathan mengangguk, lalu menutup matanya. Aura jiwanya perlahan menyatu dengan kitab di depannya. Awalnya, semuanya berjalan normal. Namun beberapa saat kemudian, sesuatu mulai berubah. Aura Nathan bergetar. Bukan gejolak yang kasar, me
Setelah semua kekacauan akhirnya mereda, Nathan menyadari bahwa ia tidak punya banyak pilihan selain mengumpulkan semua orang sekali lagi. Jika sebelumnya pengumuman itu sudah cukup mengguncang seluruh pulau, maka kali ini dampaknya jelas akan jauh lebih besar. Halaman utama kediaman segera dipenuhi oleh para gadis yang memiliki hubungan khusus dengannya. Suasana ramai, penuh bisikan, tawa kecil, dan tatapan penasaran yang saling bersilang. Nathan berdiri di tengah, berusaha mempertahankan ekspresi tenang, meskipun jauh di dalam hatinya ia sudah pasrah menerima apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Di sisi kanan, Virellia dan Eva berdiri tidak terlalu berjauhan. Pemandangan itu cukup aneh bagi siapa pun yang mengenal masa lalu mereka. Dua wanita yang dulu selalu saling bersaing, bahkan hampir tidak pernah sepakat dalam hal apa pun, kini berdiri dalam barisan yang sama. Eva melirik ke arah Virellia, lalu mendengus pelan. "Jangan salah paham. Aku hanya kebetulan berdiri di sini
Peluit panjang menandai dimulainya kuarter kedua. Skor masih berpihak pada MIU A. Namun suasana di lapangan perlahan berubah. Jika pada kuarter pertama permainan MIU A terlihat rapi dan efisien, maka kini, keras. Bukan keras yang kasar secara terang-terangan, melainkan keras yang disamarkan oleh
Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Kompleks penyelenggara olimpiade masih ramai sejak subuh. Beberapa panitia terlihat mondar-mandir dengan wajah letih, sementara aparat keamanan kampus berdiri lebih banyak dari biasanya. Tidak ada pengumuman resmi, namun satu nama terus beredar pel
Selama waktu itu, dua pertandingan lain telah terlaksana, menutup hari kedua Liga basket antar kampus. Sorak sorai yang sebelumnya memenuhi arena perlahan mereda. Para pemain meninggalkan lapangan dengan napas masih berat, sementara bangku penonton mulai kosong satu per satu. Namun di balik kelel
Pertarungan di jembatan itu belum sepenuhnya berakhir. Roger dan Richard bergerak tanpa suara berlebihan. Setiap pukulan tepat sasaran, setiap tendangan bersih dan efisien. Reno dan Seno menutup sisi jembatan, memastikan tak ada satu pun yang bisa kabur atau menyerang dari belakang. Billy berja







