Nathan menatap mata Cindy, tatapan yang dalam, penuh janji dan gairah, seolah meminta izin terakhir. Perlahan, ia mengarahkan dan memasukkan miliknya ke dalam milik Cindy. Gerakannya sangat hati-hati, lembut, namun terasa begitu ketat dan intim. “Tahan, Sayang. Pelan-pelan,” bisik Nathan, rahangnya mengeras menahan kenikmatan yang belum sempurna. “Ouh... Mas... Mas... Ah!” jerit Cindy tertahan, rasa sakit yang singkat langsung berubah menjadi gelombang nikmat yang memabukkan. “Sayang? Sakit?“ tanya Nathan dengan nafas memburu dan suara yang berat. Cindy meremas bahu Nathan dengan kuat, kukunya sedikit menancap, mencari sandaran. “Sedikit, Mas, tapi... terusin… ah....” Nathan mengangguk, mencium kening Cindy yang berkeringat. Ia mulai bergerak maju mundur, sangat perlahan, teratur, memberi waktu bagi tubuh Cindy untuk menyesuaikan diri lagi. Setiap tarikan dan dorongan membuatnya tercekat, mendesah, dan sesekali menjerit kecil. Ranjang mewah itu bergerak amat pelan, mengiringi ri
Terakhir Diperbarui : 2025-12-11 Baca selengkapnya