"Gila! Nggak mungkin..." "Nggak ada penolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkan urgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasa aja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat." "Tapi, Dev..." "Lin, please! Kali ini nurut sama aku, okay! Kamu tuh, masih sakit." Lagi-lagi, Deva memaksaku masuk ke mobilnya. Kami, sama-sama terdiam selama di perjalanan. Terlebih, aku yang membisu sebab terlalu banyak kalut di dalam kepalaku. Bagaimana mungkin aku tinggal serumah dengan laki-laki yang tidak punya hubungan apapun denganku? Tapi, memangnya aku punya pilihan lain? "Ayo Lin, masuk!" Begitu masuk, mataku tidak tahan untuk menyisir ke sekeliling. Apartemen Deva, bisa dibilang besar dan punya fasilitas lengkap. Ada sofa ruang tamu, ruang santai, kamar mandi, dapur dan dua kamar tidur. Segalanya tampak pas dan tidak berlebihan. Meskipun terlihat sederhana, aku tahu harga bangunan ini tidaklah murah. Apalagi semua pera
Last Updated : 2025-11-22 Read more