Beranda / Romansa / Kekasih Rahasia Tuan Muda / Bab 4 Kesalahan Semalam

Share

Bab 4 Kesalahan Semalam

Penulis: Ratu Syakrila
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-22 06:41:04

"Good morning, babe."

Yang pertama kali kulihat ketika membuka mata, adalah Deva, yang terbaring menyamping menghadap ke arahku sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan. Laki-laki itu, mengecup kedua kelopak mataku, menyuruhku segera bangun. Pantas saja, ternyata matahari sudah tinggi.

Merasakan silau dan  panas dari sela-sela gorden, kuputuskan untuk bangkit dari ranjang dan duduk tegak. Namun, aku segera merapatkan selimutku lagi ketika menyadari tidak ada apapun yang menutupi bagian atas tubuhku. Ingatanku langsung melompat pada kegiatan panas kami semalam. Deva, yang menyadari kegugupanku malah tertawa gemas.

"Ngapain malu-malu begitu? Aku udah liat, kali!" ucapnya sambil ikut kembali masuk ke dalam selimut dan kembali mendekapku erat di dalam sana.

"Dev, udah, deh!" Aku mendorongnya sedikit menjauh. Bukan karena tidak suka, hanya saja aku malu dilihat dengan muka bantalku pagi-pagi begini. Biasanya, meskipun tanpa riasan tebal, paling tidak Deva, selalu melihatku dengan keadaan rapi dan bersih, tidak seperti sekarang. Menyadari kekhawatiranku, Deva sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Ia mendekapku semakin erat, kemudian berbisik:

"You're so pretty even with your morning face and messy hair." Kurasakan nafas hangatnya berhembus di telingaku, membuat pipiku memerah saking senang dan malunya. Kubiarkan dia mengecup keningku begitu lama dan akupun mengeratkan pelukan sehingga tubuh polos kami semakin mendekat. Tak mau kalah, akupun mendekat ke telinganya kemudian berbisik:

"Gombal!" dan kamipun tertawa bersama.

Kami saling berbagi kecupan dan sentuhan selama beberapa saat. Dengannya, aku menceritakan beberapa hal tentang masa laluku yang ingin ia ketahui.

Tentang ibuku yang meninggal karena melindungku dari amukan ayahku, tentang ayahku yang dipenjara hingga aku berakhir di panti asuhan. Nampaknya, ia begitu penasaran sejak melihatku sangat ketakutan hanya karena mati lampu.

Kegelapan membuatku kembali teringat ketika laki-laki itu memukul kepala ibuku dengan botol minuman keras sampai pendarahan dan meninggal. Aku bisa saja ikut mati malam itu kalau tetangga dan polisi tidak segera datang.

Deva, mendengarkan semua ceritaku dengan penuh perhatian. Jemarinya membelai rambutku sesekali seolah mengatakan bahwa aku tidak lagi sendirian. Ada sorot kemarahan di dalam matanya, sedikit membuat takut walaupun aku tahu itu bukan ia tujukan kepadaku. Kami terdiam beberapa waktu, mereduksi cerita lama yang kini benar-benar ingin aku lupakan. Saatnya kembali ke masa kini, Masa yang ku harap akan jauh lebih baik, bersama Deva.

"Maafin aku, ya!" Ujarnya tiba-tiba.

"Maaf buat apa?"

"Aku udah buat kamu menunggu terlalu lama. Sebenarnya, aku juga udah lama suka sama kamu. Aku sayang banget sama kamu, aku nggak tahan liat kamu sakit apalagi kesulitan. Tapi, aku nggak mau kamu kenapa-napa karena berhubungan sama aku. Bahaya, Lin!"

Aku belum pernah melihat Deva, tampak begitu rapuh. Matanya yang redup dan suaranya yang mengambang membuatku sadar bahwa bukan aku satu-satunya orang yang terluka. Bukan aku satu-satunya orang yang punya masalah dan masa lalu. Dan aku, tidak tahan untuk bertanya,  terlebih kalau itu juga berhubungan denganku.

"Kenapa? Apanya yang bahaya? Kasih tahu, Dev!" Antara kaget dan penasaran. Aku tidak percaya perasaanku dibalas begitu mudahnya. Tapi, ketakutan jelas terlihat di dalam nada bicara Deva.

Apa yang bisa membuat Deva, sebegini takut? Apanya yang bahaya? Deva, meraih tanganku, mengusapnya begitu lembut seolah sedang memohon. Menghadirkanku rasa bersalah entah karena apa.

"Cepat atau lambat, kamu bakal tahu. Tapi, untuk sekarang aku mau kita begini aja."

Deva, membelai pipiku dengan punggung telunjuknya yang panjang. Ujarannya sama sekali tidak menyakitkan.

Tapi jujur saja, aku kecewa. Rasanya sungguh tidak adil.

Deva, sudah tahu segala kesulitanku, aku bahkan sudah menceritakan masa laluku yang tidak pernah kubuka pada orang lain sebelumnya. Tapi, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Deva. Aku tidak mau hal ini menjadi masalah dalam hubungan kami, yang bahkan baru dimulai.

"Pake baju kamu, Lin." Suaranya datar dan dingin, tidak ada sisa-sisa kehangatan dan gairah yang meluap-luap seperti semalam.

Aku tertegun, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosku yang penuh bercak kemerahan, jejak kepemilikan yang ia buat sendiri.

"Dev, kamu kenapa?"

Deva, tidak menatapku. Dia sibuk memungut celananya di lantai dengan gerakan kasar, lalu memkaikannya terburu-buru. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras. Matanya menyiratkan kepanikan yang tidak bisa kubaca.

Apa dia menyesal?

"Arghh, semalam itu kesalahan, Lin. Nggak seharusnya kita sejauh ini," gumamnya tanpa berani menatap mataku. "Lupain apa yang terjadi semalam. Anggap nggak pernah ada."

Jleb!

Rasanya seperti dijatuhkan dari lantai sepuluh tanpa pengaman.

Kesalahan? Dia bilang penyatuan kami yang begitu indah semalam adalah kesalahan?

Di kepalanya yang sedang kalut, aku tahu Deva sedang berperang batin. Bayangan Meera, tunangannya yang sah, dan statusnya sebagai pewaris tunggal perusahaan pasti sedang menghantuinya.

Tentu saja, aku harus sadar diri.

Deva itu pewaris perusahaan. Dia punya tunangan—Meera—yang cantik, kaya, dan setara dengannya. Sementara aku? Diriku ini cuma anak magang udik yang kebetulan dia pungut karena kasihan. Semalam itu cuma pelampiasan nafsu sesaat dari seorang Tuan Muda untuk gadis menyedihkan sepertiku.

Bodoh.

Sungguh, aku bodoh sekali!

Di kepalanya yang sedang kalut, aku tidak tahu bahwa Deva sedang berperang hebat dengan batinnya sendiri. Rasa bersalah karena mengkhianati komitmen pertunangannya, ketakutan akan tanggung jawab keluarga, dan rasa berdosa karena telah menyeret perempuan polos sepertiku ke dalam lumpur kerumitan hidupnya.

Tapi aku tidak tahu itu. Yang kutahu hanyalah, Deva menyesal telah mengambil kesucianku.

"Aku, aku mandi dulu," lirihku menahan tangis. Aku menyambar kemejanya yang tergeletak di lantai, berlari ke kamar mandi sebelum air mataku tumpah di hadapannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 5 Hamil?

    Tiga hari setelah malam itu, kita berubah jauh.Di kantor, kami seperti orang asing. Tidak, lebih burukdari orang asing bahkan. Kami adalah dua orang yang saling tahu rasa bibir dankulit masing-masing, tapi berpura-pura tidak saling kenal.Deva, menghindariku habis-habisan.Setiap kali berpapasan di koridor, dia akan membuangmuka atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Di meeting, dia tidak pernahmenunjukku untuk bicara. Dia membangun tembok raksasa yang tidak bisa kutembus.Aku hancur.Tiap malam aku menangis di kamar kos baruku, merutukikebodohanku yang gampang terbawa perasaan. Sudah jelas aku cuma pelarian. Sudahjelas aku tidak pantas buat dia. Kenapa aku masih berharap?Namun, di balik sikap dinginnya yang menyakitkan itu,aku tidak tahu kalau Deva juga sedang hancur.Dia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata,bayangan wajahku dan aroma tubuhku menghantuinya. Rasa bersalah pada Meera danrasa rindu yang menyiksa padaku membuatnya nyaris gila. Dia sadar, dia munafik.

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 4 Kesalahan Semalam

    "Goodmorning, babe."Yangpertama kali kulihat ketika membuka mata, adalah Deva, yang terbaringmenyamping menghadap ke arahku sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.Laki-laki itu, mengecup kedua kelopak mataku, menyuruhku segera bangun. Pantassaja, ternyata matahari sudah tinggi. Merasakansilau dan panas dari sela-sela gorden,kuputuskan untuk bangkit dari ranjang dan duduk tegak. Namun, aku segeramerapatkan selimutku lagi ketika menyadari tidak ada apapun yang menutupibagian atas tubuhku. Ingatanku langsung melompat pada kegiatan panas kamisemalam. Deva, yang menyadari kegugupanku malah tertawa gemas. "Ngapainmalu-malu begitu? Aku udah liat, kali!" ucapnya sambil ikut kembali masukke dalam selimut dan kembali mendekapku erat di dalam sana. "Dev,udah, deh!" Aku mendorongnya sedikit menjauh. Bukan karena tidak suka,hanya saja aku malu dilihat dengan muka bantalku pagi-pagi begini. Biasanya,meskipun tanpa riasan tebal, paling tidak Deva, selalu melihatku dengan k

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 3 Penyatuan

    Kuakuiaku memang bodoh. Aku tidak punya hak apapun untuk marah, Deva sama sekalitidak berhutang penjelasan padaku. Tapi tetap saja rasanya begitu sakit.Bagaimanatidak? Perhatian dan kebaikan Deva, padaku selama ini memberikan harapan yangbegitu besar untukku.Akubodoh berpikir kalau Deva, menyukaiku.Akubodoh berpikir semua yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnyapadaku. Padahal, statuspun kami tak punya. Dan kemungkinan buruknya, ia sudahpunya pacar. "Lin,itu hp aku, kan?"Akumembuka ponselnya tanpa izin. Aku tahu seharusnya Deva, yang marah. Tapi justrukemarahanku yang mencuat sampai-sampai tidak tahan berada satu ruangandengannya. Aku meninggalkan Deva, begitu saja dan mengunci diri di dalam kamar.Akutidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Aku sudah berusaha sebisa mungkinuntuk meredam suaraku, tapi nyatanya Deva tetap bisa mendengar suarasesenggukanku yang menyebalkan bahkan di telingaku sendiri. "Lin,aku bisa jelasin, Lin! Meera itu buka

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 2 Kekasih Rahasia

    "Gila!Nggak mungkin...""Nggak adapenolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkanurgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasaaja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat."Begitumasuk, mataku tidak tahan untuk menyisir ke sekeliling. Apartemen Deva, bisadibilang besar dan punya fasilitas lengkap. Ada sofa ruang tamu, ruang santai,kamar mandi, dapur dan dua kamar tidur. Segalanya tampak pas dan tidakberlebihan. Meskipun terlihat sederhana, aku tahu harga bangunan ini tidaklahmurah. Apalagi semua perabotan di sini terlihat masih baru. "Ternyatakamu lumayan kaya juga, ya?" Komentarku yang entah mengapa membuat Deva,salah tingkah. Ia tampak tidak nyaman kusebut sebagai "orang kaya.""Kayadari mana? Apartemen aja masih sewa," ujarnya segera membantah. "Kamumandi duluan aja sana! Baju-bajunya taruh aja di situ. Basah, kan?" Katanya, menunjuk sebuah keranjangdi dekat kamar mandi. Meskipun agak kecew

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 1 Tidurlah Denganku!

    BRAK!Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging.Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi."Lin? Astaga, Lin!"Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es."Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?""Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Perutku...""Iya, aku tahu. Tahan sebentar. Jangan merem, Lin. Awas kalau kamu merem!" ancamnya, tapi tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku.Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status