MasukTiga hari setelah malam itu, kita berubah jauh.
Di kantor, kami seperti orang asing. Tidak, lebih buruk dari orang asing bahkan. Kami adalah dua orang yang saling tahu rasa bibir dan kulit masing-masing, tapi berpura-pura tidak saling kenal.
Deva, menghindariku habis-habisan.
Setiap kali berpapasan di koridor, dia akan membuang muka atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Di meeting, dia tidak pernah menunjukku untuk bicara. Dia membangun tembok raksasa yang tidak bisa kutembus.
Aku hancur.
Tiap malam aku menangis di kamar kos baruku, merutuki kebodohanku yang gampang terbawa perasaan. Sudah jelas aku cuma pelarian. Sudah jelas aku tidak pantas buat dia. Kenapa aku masih berharap?
Namun, di balik sikap dinginnya yang menyakitkan itu, aku tidak tahu kalau Deva juga sedang hancur.
Dia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan wajahku dan aroma tubuhku menghantuinya. Rasa bersalah pada Meera dan rasa rindu yang menyiksa padaku membuatnya nyaris gila. Dia sadar, dia munafik. Dia mencoba menyangkal perasaannya, tapi semakin dia menjauh, semakin dia tersiksa.
Hingga akhirnya, di hari ketiga, pertahanan Deva runtuh.
Perhatian-perhatian kecilnya di hari kantor, hari ini, selalu membuatku terlena.
Deva membelikanku sarapan, menyiapkan kopi atau teh hangat sesuai kemauanku, lalu merapikan semua desk-ku. Memang, dia melakukannya dengan menyuruh asisten pribadinya di kantor, tapi mengetahui hal itu, hatiku cukup lega karena ternyata dia tidak benar-benar meninggalkanku.
Namun, sore di hari ketiga ini, semua kupu-kupu manis di bayanganku tiba-tiba berubah.
Aku menemukan sesuatu di saku jasnya, ada sebuah kotak beludru kecil. Cincin berlian yang seharusnya ia berikan untuk memperbarui janji pertunangannya dengan Meera. Tapi hari ini, dia membawanya untukku. Dia sudah memantapkan hati untuk membatalkan pertunangannya secara resmi dan memilihku.
Aku lalu pura-pura pergi, coba tidak tahu-menahu seputar hadiah itu. Tepat ketika aku sedang membuat teh di pantry kantor yang sepi, saat itu juga pintu tiba-tiba tertutup dan dikunci dari dalam.
"Dev..."
Aku mundur selangkah, menabrak meja pantry.
Deva, berdiri di sana dengan wajah lelah dan mata memerah. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas. Dia melangkah mendekat, mengurungku di antara kedua lengannya yang bertumpu pada meja.
"Aku nggak bisa, Lin. Aku nyoba jauhin kamu, tapi aku nggak bisa," bisiknya putus asa.
"Minggir, Dev. Nanti ada yang liat," tolakku lemah, meski jantungku berdegup kencang merindukannya.
"Biarin mereka semua liat kedekatan kia, biarin juga semua orang tau kalau aku lebih milih kamu dari Meera," potongnya tegas. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan kotak kecil berwarna merah marun. "Aku mau akhiri semuanya sama Meera. Aku mau kamu, Lin. Cuma kamu."
Ya meski aku tidak terlalu terkejut karena telah melihatnya, tapi aku harus menunjukkan reaksi natural agar tahu, sifat asli Deva itu seperti apa.
"Ini tadinya buat Meera," ujar Deva jujur dengan suara bergetar. "Aku beli ini buat perbarui janji pertunangan kita. Tapi aku sadar, aku nggak bisa kasih ini ke dia. Karena hati aku bukan di sana."
Dia menatapku lekat, sorot matanya begitu dalam dan intens. "Aku mau akhiri semuanya sama Meera secara resmi. Aku mau kamu, Lin. Cuma kamu. Persetan sama warisan ini, aku cuma mau kamu!"
Napasku tercekat. Apa ini mimpi? Deva memilihku? Memilih gadis miskin sepertiku dibanding tunangannya yang sempurna?
Deva baru saja akan membuka kotak itu, mulutnya sudah terbuka untuk mengucapkan kalimat yang selama ini kutunggu. Namun tiba-tiba, aroma kopi hitam pekat yang baru saja diseduh oleh office boy di ujung ruangan menyeruak masuk ke hidungku.
Baunya begitu tajam, menyengat, dan menjijikkan.
Perutku bergejolak hebat. Rasa mual itu naik ke kerongkongan lebih cepat dari yang bisa kutahan. Wajahku yang tadi merona karena ucapan Deva, kini berubah pucat pasi dalam hitungan detik.
"Lin? Kamu kenapa?" Deva, menyadari perubahan wajahku. Kotak cincin di tangannya terabaikan.
"Dev... aku..."
HUEK!
Aku membekap mulutku, berlari ke arah wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutku—yang sebenarnya hanya berisi cairan bening karena aku tidak nafsu makan seharian.
Tubuhku lemas seketika. Pandanganku berkunang-kunang, lantai pantry terasa bergoyang.
"Alina!"
Deva, membuang kotak cincin itu begitu saja ke atas meja. Dia menangkap tubuhku yang nyaris merosot ke lantai. Kepanikan luar biasa kembali menyelimuti wajahnya, persis seperti saat pertama kali dia menemukanku pingsan di toilet. Pertengkaran kami, rasa canggung tiga hari ini, semuanya lenyap.
"Kita ke rumah sakit. Sekarang!"
Perjalanan ini terasa sangat berat. Pun ketika masuk rumah sakit, aku merasa seperti de Javu mengingat awal aku masuk rumah sakit adalah diantar Deva.
Aku berbaring lemah di ranjang IGD. Deva duduk di sampingku, menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan menghilang jika dia lepaskan sedetik saja. Dia masih memakai kemeja kantornya yang kusut, dasinya sudah longgar entah kemana.
Seorang dokter paruh baya dengan kacamata tebal masuk membawa papan klip, tersenyum ramah ke arah kami.
Deva langsung berdiri, wajahnya tegang.
"Gimana, Dok? Dia sakit apa? Magh-nya kambuh lagi? Atau tipes?" cerocos Deva tidak sabaran.
Dokter itu terkekeh pelan, menenangkan. Dia menatapku dan Deva bergantian dengan sorot mata geli namun hangat.
"Bapak tenang dulu. Ibu Alina tidak sakit parah, kondisinya stabil. Mual dan pusing itu wajar kok."
"Wajar gimana? Dia sampai muka pucat begitu!" Deva, masih tidak terima.
"Pak Deva," potong dokter itu lembut. "Ini kabar bahagia sebenarnya."
Aku mengernyit bingung. Kabar bahagia? Aku sakit begini dibilang bahagia?
Dokter itu beralih menatapku, senyumnya semakin lebar. "Selamat ya, kondisinya sehat. Janinnya juga kuat, usianya baru beberapa minggu. Selamat, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang i..."
Tiga hari setelah malam itu, kita berubah jauh.Di kantor, kami seperti orang asing. Tidak, lebih burukdari orang asing bahkan. Kami adalah dua orang yang saling tahu rasa bibir dankulit masing-masing, tapi berpura-pura tidak saling kenal.Deva, menghindariku habis-habisan.Setiap kali berpapasan di koridor, dia akan membuangmuka atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Di meeting, dia tidak pernahmenunjukku untuk bicara. Dia membangun tembok raksasa yang tidak bisa kutembus.Aku hancur.Tiap malam aku menangis di kamar kos baruku, merutukikebodohanku yang gampang terbawa perasaan. Sudah jelas aku cuma pelarian. Sudahjelas aku tidak pantas buat dia. Kenapa aku masih berharap?Namun, di balik sikap dinginnya yang menyakitkan itu,aku tidak tahu kalau Deva juga sedang hancur.Dia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata,bayangan wajahku dan aroma tubuhku menghantuinya. Rasa bersalah pada Meera danrasa rindu yang menyiksa padaku membuatnya nyaris gila. Dia sadar, dia munafik.
"Goodmorning, babe."Yangpertama kali kulihat ketika membuka mata, adalah Deva, yang terbaringmenyamping menghadap ke arahku sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.Laki-laki itu, mengecup kedua kelopak mataku, menyuruhku segera bangun. Pantassaja, ternyata matahari sudah tinggi. Merasakansilau dan panas dari sela-sela gorden,kuputuskan untuk bangkit dari ranjang dan duduk tegak. Namun, aku segeramerapatkan selimutku lagi ketika menyadari tidak ada apapun yang menutupibagian atas tubuhku. Ingatanku langsung melompat pada kegiatan panas kamisemalam. Deva, yang menyadari kegugupanku malah tertawa gemas. "Ngapainmalu-malu begitu? Aku udah liat, kali!" ucapnya sambil ikut kembali masukke dalam selimut dan kembali mendekapku erat di dalam sana. "Dev,udah, deh!" Aku mendorongnya sedikit menjauh. Bukan karena tidak suka,hanya saja aku malu dilihat dengan muka bantalku pagi-pagi begini. Biasanya,meskipun tanpa riasan tebal, paling tidak Deva, selalu melihatku dengan k
Kuakuiaku memang bodoh. Aku tidak punya hak apapun untuk marah, Deva sama sekalitidak berhutang penjelasan padaku. Tapi tetap saja rasanya begitu sakit.Bagaimanatidak? Perhatian dan kebaikan Deva, padaku selama ini memberikan harapan yangbegitu besar untukku.Akubodoh berpikir kalau Deva, menyukaiku.Akubodoh berpikir semua yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnyapadaku. Padahal, statuspun kami tak punya. Dan kemungkinan buruknya, ia sudahpunya pacar. "Lin,itu hp aku, kan?"Akumembuka ponselnya tanpa izin. Aku tahu seharusnya Deva, yang marah. Tapi justrukemarahanku yang mencuat sampai-sampai tidak tahan berada satu ruangandengannya. Aku meninggalkan Deva, begitu saja dan mengunci diri di dalam kamar.Akutidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Aku sudah berusaha sebisa mungkinuntuk meredam suaraku, tapi nyatanya Deva tetap bisa mendengar suarasesenggukanku yang menyebalkan bahkan di telingaku sendiri. "Lin,aku bisa jelasin, Lin! Meera itu buka
"Gila!Nggak mungkin...""Nggak adapenolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkanurgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasaaja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat."Begitumasuk, mataku tidak tahan untuk menyisir ke sekeliling. Apartemen Deva, bisadibilang besar dan punya fasilitas lengkap. Ada sofa ruang tamu, ruang santai,kamar mandi, dapur dan dua kamar tidur. Segalanya tampak pas dan tidakberlebihan. Meskipun terlihat sederhana, aku tahu harga bangunan ini tidaklahmurah. Apalagi semua perabotan di sini terlihat masih baru. "Ternyatakamu lumayan kaya juga, ya?" Komentarku yang entah mengapa membuat Deva,salah tingkah. Ia tampak tidak nyaman kusebut sebagai "orang kaya.""Kayadari mana? Apartemen aja masih sewa," ujarnya segera membantah. "Kamumandi duluan aja sana! Baju-bajunya taruh aja di situ. Basah, kan?" Katanya, menunjuk sebuah keranjangdi dekat kamar mandi. Meskipun agak kecew
BRAK!Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging.Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi."Lin? Astaga, Lin!"Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es."Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?""Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Perutku...""Iya, aku tahu. Tahan sebentar. Jangan merem, Lin. Awas kalau kamu merem!" ancamnya, tapi tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku.Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membua







