Share

Bab 5 Makan Malam

Penulis: Ratu Syakrila
last update Tanggal publikasi: 2025-11-22 06:44:04

Memilih berdamai dengan segalanya, aku menuruti Deva, untuk tidak membeberkan hubungan kami pada orang-orang. Meski awalnya berat, tapi toh semua masih baik-baik saja.

Hubunganku dengan Deva, sudah berjalan di bulan ke sekian. Begitu manis, lancar tanpa hambatan. Kami, saling membutuhkan satu sama lain untuk merasa bahagia. Dan itu, lebih dari cukup.

Bagiku, Deva bukan laki-laki pertama yang aku pacari. Aku tahu dalam sebuah hubungan terkadang ada saja hal-hal yang dipertengkarkan, itu hal biasa, menjadi bumbu pemanis percintaan, begitu kata orang.

Namun, nyatanya tanpa itu semua rasanya malah jadi semakin tentram. Aku tidak perlu menangisi hal-hal yang tidak perlu, menggalaukan hal-hal remeh apalagi ribut karena sesuatu yang tidak jelas. Satu yang kusyukuri dari Deva, ia tidak pernah menyalahkan atau menuntut apapun dariku.

"Dev, hari ini aku capek. Aku nggak masak dulu, ya!" Kataku, sambil melepas sepatu hak tinggi yang sudah aku gunakan seharian di kantor. Aku memijat betisku sendiri yang terasa kebas dan kaku. Hari ini, entah kenapa rasanya lelah bukan main.

"Nggak usah, Lin. Kamu langsung mandi aja terus ganti baju," katanya sambil meletakkan tas di atas nakas.

Seberapapun Deva, menyukai masakanku, ia tidak pernah memaksaku bahkan secara terang-terangan menyuruhku memasak. Selalu aku duluan yang menawarkan. Itupun selalu diawali dengan pertanyaan dari Deva, apakah aku lelah atau tidak. Sesuatu yang belum pernah aku temukan pada diri laki-laki lain.

"Oke, aku ke kamar duluan, ya!" Membayangkan empuknya rajang di kamar, membuatku tidak sabar ingin rebah. Tapi, begitu berbalik, Deva kembali memanggil.

"Lin!"

"Iya?"

"Pakai baju yang bagus, kita makan di luar. Aku udah reservasi."

Kalimat itu, terdengar lebih seperti perintah. Ia tidak menawari atau bertanya terlebih dahulu seperti biasanya. Bukan apa-apa, aku sudah bilang bahwa hari ini aku lelah. Aku bahkan berencana langsung tidur dan melewati makan malam sebab perutku juga terasa tidak nyaman. Mungkin ini semacam kejutan dan aku tidak sampai hati untuk menolaknya.

"Harus dandan juga berarti? Lama gapapa?"

Tersenyum, aku mencoba berbahagia dengan segala yang Deva, berikan.

Laki-laki itu berjalan mendekat, kemudian memeluk tubuhku dari belakang. Parfumnya yang segar dan familiar kini memenuhi sekelilingku yang kali ini membuatku sedikit mual.

"Gak usah lama-lama, kamu udah cantik," katanya sembari mencium pipi kiriku sekilas sebelum akhirnya berlalu melewatiku. Well, aku hanya perlu menikmati semuanya dan Deva, sudah menyiapkan semuanya untukku. Seperti biasa. Aku berjalan lunglai melewati tangga, berharap acara makan malam di luar kali ini tidak akan lama.

Kali ini, aku memakai dress yang sedikit terbuka. Hadiah dari Deva, kira-kira satu bulan yang lalu. Aku sempat bingung mau kemana memakai dress sebagus ini sampai Deva, akhirnya membawaku ke sebuah restoran berbintang di Pantai Indah Kapuk. Bahkan, haanya untuk mengantarku ke sini, Deva memakai mobil bagus bersama dengan seorang supir. Memang terlihat romantis, tapi tidakkah ini berlebihan?

Aku berjalan perlahan sambil bergandengan dengan Deva sebagai tumpuan tubuhku yang lunglai. Tatapanku menyisir ke sekeliling, menghapal setiap detail ruangan yang dipenuhi ukiran kayu rumit. Tempat ini begitu indah dan mewah. Saking mewahnya sampai terasa angkuh bagiku yang memasukinya. Bahkan dengan baju dan riasan terbaik, kenyataan itu sama sekali tidak membantu.

"Kenapa? Kamu nggak suka?" Tanya Deva, begitu kami duduk di salah satu meja dengan lilin menyala indah dan rangkaian bunga krisan di antara kami. Seorang pelayan, datang dengan dua gelas berkaki tinggi dan menuangkan wine untuk kami berdua. Ia menunduk sebentar sebelum pergi meninggalkan kami.

"Suka, sih. Cuma, heran aja kenapa restoran sebagus ini isinya cuma kita berdua." Sungguh, aku tidak bohong. Ruangan seluas dua kali lapangan futsal ini, hanya berisi kami berdua. Membuat keintiman semakin lekat di antara kami.

"Biasanya, kalau weekdays kayak gini emang sepi, sih. Makanya aku ajak kamu." Meskipun merasa agak janggal, tapi alasan Deva, memang masuk akal. Lagi-lagi, aku hanya mengiyakan dan membuang semua kecurigaanku padanya.

Selagi menunggu pesanan datang, pelayan itu menyajikan berbagai roti dan keju yang tidak aku sentuh sama sekali. Amat berbeda dengan Deva, yang menikmati wine-nya begitu tenang sambil mengajakku berbicara begitu banyak. Aku tentu akan melakukan hal yang sama jika sama jika dalam situasi normal. Aku bersyukur, Deva tidak menyadari wajah pucatku yang tertutup makeup. Tapi tetap saja, aku tidak bisa terus-menerus bersikap normal ketika tubuhku berkata lain. Napasku semakin memburu dan titik-titik keringat mulai bermunculan di dahiku.

"Dev, boleh nggak aku pesen yang lain? Pengin makan buah yang asem-asem aja. Minumnya juga minta yang hangat, ya!" Aku sudah tidak tahan lagi. Kali ini, bukan hanya mual, aku juga mulai merasakan pusing yang tidak tertahankan.

"Tumben banget, biasanya kamu suka roti-rotian begini."

"Sama bunganya boleh disingkirkan dulu aja nggak? Soalnya aku... Huek." Spontan, aku langsung menutup mulut dengan telapak tangan.

Deva, yang melihatnya langsung menghampiriku dan menyematkan jas yang dipakainya pada tubuhku yang menggigil dan berkeringat dingin. Aneh, baru kali ini aku merasa aroma Krisan favoritku begitu mengganggu.

"Lin, kamu kenapa? Badan kamu anget, kita pulang aja, yuk!" Kata Deva, panik setelah setelah meletakkan punggung tangannya ke keningku. Laki-laki itu sempat menarik lenganku, bermaksud membantuku berdiri dan membawaku pulang. Tapi, aku menolaknya halus.

"Nggak, Dev! Cuma masuk angin aja, kok. Aku laper, mau makan." Deva, sudah berusaha payah menyiapkan semuanya untukku. Aku harus makan walaupun sedikit. Aku harus menghargai usahanya walaupun harus menahan sakit.

Tapi nyatanya tidak semudah itu. Baru saja makanan yang kupesan datang, gelombang mual itu datang lagi dengan lebih hebat. Akupun segera berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutku di sana. Tanpa diduga, Deva mengikutiku. Ia memijat tengkukku dan membelai-belai punggungku, mengusahakan yang ia bisa untuk membuatku lebih baik.

Namun sayangnya itu tidak cukup. Tubuhku yang banyak kehilangan cairan mulai lemas tidak karuan. Aku nyaris tidak punya kekuatan bahkan untuk berdiri sekalipun. Padahal, malam ini seharusnya jadi malam yang bagus untuk kami.

"Maaf, ya. Aku ngajak kamu makan di luar tiba-tiba gini tanpa cek keadaan kamu dulu." Ujar Deva, padaku yang masih berusaha mengeluarkan isi perutku ke dalam kloset. Tapi, aku tidak sempat merespon ucapan maafnya. Sebab fokusku kini beralih pada perutku yang mulai terasa sakit.

"Dev, perut aku keram. Sakit."

Kurasakan perutku mengencang membuatku semakin sulit bernapas. Pelan-pelan, kesadaranku mulai menipis seiring tepukan dan panggilan Deva, yang terdengar semakin samar. Tubuhku terasa ringan, Deva menggendongku dan cepat-cepat membawaku ke mobil yang terparkir jauh. Guncangan larinya begitu cepat, membuatku semakin tidak nyaman.

Lambungku kembali bergejolak, aku masih ingin muntah. Tapi tentu saja aku sudah tidak mampu melakukannya. Cairan dalam perutku sudah habis, menunggu kesadaranku sebagai gilirannya.

"Lin, bangun, Lin! Alina!"

Suaranya terdengar parau dan aneh. Aku ingin merespon, menenangkannya yang dibuat kelimpungan karena ulahku. Tapi duniaku menggelap, melenyapkan suara Deva, dan dingin malam yang beberapa saat lalu menyiksaku

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Kabar Buruk

    Deva, memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya yang megah. Mobil Ferrari miliknya, berjajar rapi dengan mobil-mobil mewahnya yang lain yang entah pernah dipakai atau tidak. Jas yang sudah sedari pagi ia Pakal ditanggalkan. Kini, tubuhnya berbalutkan kemeja dan dasi, menampilkan proporsi tubuhnya yang indah berotot.Laki-laki itu menyalakan ponselnya, mengirim pesan pada satu nomor, yang paling sering ia hubungi akhir-akhir ini; Alina. Hari ini begitu melelahkan, tapi ia senang bukan main karena untuk pertama kalinya, ia dapat merayakan ulang tahun Nirmala. Wajah menggemaskan anak itu tidak bisa hilang dari pikirannya."Aku sudah sampai di rumah, Lin." Tulisnya dalam pesan singkat yang segera kubaca. Dengan sabar, Deva menungguku menjawab. Ia sengaja tidak masuk ke rumah dan memilih berdiri bersandar pada mobilnya sembari menatap layar ponselnya menunggu jawabanku. "Syukurlah kalau kamu sudah sampai," jawabku, tak bisa menyembunyikan senyum lega di bibirku. "Selamat malam, Deva. Is

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Pesta di Panti Asuhan

    "Lin, aku punya ide. Bagaimana kalau kita ke panti asuhan saja?" Aku tidak punya pilihan lain selain menerima saran Deva. Mengetahui bagasi mobilnya tidak muat untuk mengangkut semua makanan dan bingkisan ini, diapun memanggil seseorang untuk membawa mobil tambahan.Tidak perlu menunggu lama, sebuah mobil pick up datang mengangkutnya untuk dibawa ke panti asuhan."Jadi, keluarga kami memang rutin mengirimkan dana ke sebuah panti asuhan. Kami juga sering mengadakan acara tahunan di sana. Dari kecil aku sudah sering main ke panti itu. Aku juga sudah kenal dekat dengan pengurusnya." Ujar Deva, menjelaskan ketika kami, dalam perjalanan. Jujur, aku tidak menyangka. Ternyata, ada sisi seperti ini di keluarga Rama Baskara, yang kukenal dingin dan angkuh. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajah keras dan dingin milik Rama Baskara, kalau berhadapan dengan anak-anak panti asuhan. Dia pasti banyak ditakuti anak-anak. Atau malah sebaliknya? Dia akan lembut dan ramah pada anak-anak? Sia

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Pesta Ulang Tahun yang Sepi

    Meskipun hanya pernah ke apartemen Alina, beberapa kali, tapi Deva, seakan sudah begitu hafal dengan seluk-beluk jalan menuju ke sana. Tak butuh waktu lama bagi Deva, untuk bisa sampai di apartemen Alina. Meski Alina, sempat risih karena mobil mewah Deva, menjadi pusat perhatian di sana, tapi fokus Alina, segera kembali ke pesta ulang tahun Nirmala. Peduli setan dengan tatapan aneh orang-orang, yang jelas ia tidak mau ketinggalan momen tiup lilin dan potong kue di pesta Nirmala, mengingat hari sudah menjelang sore. Halaman depan apartemen Alina, dipenuhi dekorasi khas anak perempuan. Pita merah muda, balon, dan ucapan selamat datang, terlihat begitu meriah di depan rumah. Ia masih ingat bagaimana wajah girang Nirmala, kemarin sore. Anak itu begitu tidak sabar menunggu esok datang untuk merayakan ulang tahunnya yang digelar ramai terbuka untuk pertama kali. Sebab biasanya, Alina hanya merayakannya dengan membeli kue di toko dengan dua hadiah yang diterima. Satu dari Alina dan satu

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Itu Tidak Akan Terjadi

    Kunjungan ke tim pengembangan, selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan buatku. Tapi kali ini rasanya berbeda. Pikiranku sudah dirusak sejak Meera, datang ke kantor pagi ini. Pikiranku jadi kemana-mana. Apa jadinya kalau perempuan itu tahu tentang Nirmala? Ah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan perempuan itu perbuat pada putriku."Menurut kamu, wangi yang ini cocok nggak, Lin?" Tanya Deva, yang sedang memeriksa sample aroma parfum yang sedang disempurnakan oleh tim. Berkali-kali, ia mengendus aroma di atas kertas kecil panjang yang sudah disediakan. Laki-laki itu tampak bingung dan bertanya padaku. Namun, aku hanya berjalan mengikuti di belakangnya dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang jauh ke Nirmala dan Meera."Lin? Alina?" Panggil Deva, untuk ke sekian kalinya. Merasa panggilannya tidak direspon. Deva, akhirnya menoleh padaku dan langsung mendapatiku yang sedang melamun. Diapun menepuk bahuku, memanggil namaku sekali lagi. "Lin!""Eh, iya. Gimana?"tersadar aku dari lam

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Ketahuan

    Di kantor Olfax, yang begitu megah, semua orang tampak sibuk berlalu lalang, begitu sibuk dengan segala urusan yang harus diselesaikan. Pekerjaan itu, seakan tidak ada habisnya seberapapun mereka sibuk. Namun, di satu ruangan ber-AC, ada satu orang yang justru sedang duduk santai ditemani kopi dan banyak kudapan. Sambil menyeruput kopi hitamnya perlahan, Rama membaca lembaran koran bisnis hari itu. Senyum puas tidak lepas dari wajahnya yang mulai berkerut. Di halaman utama, terpampang berita besar tentang kesuksesan luar biasa peluncuran produk baru Miss Me. "Tidak sia-sia aku menyekolahkan Deva sampai ke Amerika," gumamnya puas. "Dia benar-benar tahu cara melipat gandakan uang." Rama meletakkan koran itu di atas meja pualamnya dengan bangga. Ia mengakui kehebatan putranya setelah menyelesaikan gelas masternya. Jika saja, Deva terus patuh seperti ini, ia tidak perlu repot-repot menyingkirkan perempuan itu dan sempat bersitegang dengan putranya. Meskipun ia mengirim Deva, ke san

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Wanita dari Masa Lalu

    Aku tidak tahu semangkuk sup ayam sederhana, bisa merubah hidupku begitu rupa. Dinding es di antara aku dan Deva perlahan mencair. Hubungan kami membaik dan ketakutan-ketakutanku perlahan menghilang. Apalagi, melihat Nirmala, yang begitu bahagia saat Deva datang membuat hatiku lebih damai dari biasanya.Tidak hanya itu, pekerjaanku di kantor juga jauh lebih menyenangkan. Tidak ada lagi ketegangan di antara aku dan Deva. Kami bekerja dengan lebih akrab dan pekerjaan kamipun terasa jauh lebih mudah. Kami, berhasil membuat popularitas Miss Me melesat tajam. Alhasil, dengan mudah, kami berhasil menggaet lebih banyak investor, dan jadwal peluncuran produk baru bisa dipangkas menjadi jauh lebih cepat. Aku tahu betul betapa berartinya pencapaian ini bagi Deva. Pria itu akhirnya bisa membuktikan pada ayahnya bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Keberhasilan Miss Me bahkan ikut mendongkrak reputasi Olfax, perusahaan raksasa milik ayah Deva, membuat nama keluarga mereka semakin h

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 4 Kesalahan Semalam

    "Good morning, babe." Yang pertama kali kulihat ketika membuka mata, adalah Deva, yang terbaring menyamping menghadap ke arahku sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan. Laki-laki itu, mengecup kedua kelopak mataku, menyuruhku segera bangun. Pantas saja, ternyata matahari sudah tinggi. Meras

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 3 Penyatuan

    Kuakuiaku memang bodoh. Aku tidak punya hak apapun untuk marah, Deva sama sekalitidak berhutang penjelasan padaku. Tapi tetap saja rasanya begitu sakit.Bagaimanatidak? Perhatian dan kebaikan Deva, padaku selama ini memberikan harapan yangbegitu besar untukku.Akubodoh berpikir kalau Deva, men

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 2 Kekasih Rahasia

    "Gila! Nggak mungkin..." "Nggak ada penolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkan urgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasa aja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat." "Tapi, Dev..." "Lin, please! Kali ini nurut

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 1 Tidurlah Denganku!

    BRAK! Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging. Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi. "Lin? Astaga, Lin!" Deva

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status