Share

Bab 3 Penyatuan

Penulis: Ratu Syakrila
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-22 06:37:45

Kuakui aku memang bodoh. Aku tidak punya hak apapun untuk marah, Deva sama sekali tidak berhutang penjelasan padaku. Tapi tetap saja rasanya begitu sakit.

Bagaimana tidak? Perhatian dan kebaikan Deva, padaku selama ini memberikan harapan yang begitu besar untukku.

Aku bodoh berpikir kalau Deva, menyukaiku.

Aku bodoh berpikir semua yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnya padaku. Padahal, statuspun kami tak punya. Dan kemungkinan buruknya, ia sudah punya pacar.

"Lin, itu hp aku, kan?"

Aku membuka ponselnya tanpa izin. Aku tahu seharusnya Deva, yang marah. Tapi justru kemarahanku yang mencuat sampai-sampai tidak tahan berada satu ruangan dengannya. Aku meninggalkan Deva, begitu saja dan mengunci diri di dalam kamar.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk meredam suaraku, tapi nyatanya Deva tetap bisa mendengar suara sesenggukanku yang menyebalkan bahkan di telingaku sendiri.

"Lin, aku  bisa jelasin, Lin! Meera itu bukan siapa-siapa!"

Suara petir yang bersahutan menyamarkan teriakan Deva, di luar kamar. Aku menutup kedua telingaku, tidak mau mendengar apapun yang Deva, katakan.

Entah kenapa suara hujan badai di luar sana tidak mampu menutupi suara lirih Deva, yang meminta maaf dan memohon agar aku segera keluar. Aku tidak mau mendengar maafnya. Deva tidak salah, aku yang salah.

Melihat Deva sibuk membalas pesan di ponselnya sambil tersenyum tipis dari balik pintu kamar, rasanya seperti ada jarum halus yang menusuk ulu hatiku. Siapa perempuan itu? Pacarnya? Tunangannya?

Tentu saja dia punya seseorang. Laki-laki sesempurna Deva, mustahil masih sendiri. Dan aku? Aku cuma gadis baginya; perempuan udik yang kebetulan dia tolong karena kasihan.

Blar!

Kilatan cahaya putih menyilaukan membelah langit malam, disusul suara hantaman yang membuat jantungku nyaris berhenti.

Aku menutup mataku rapat-rapat, berharap kekalutanku sedikit mereda. Tapi, begitu membuka mata, seluruh ruangan menjadi gelap total, menjadikan petir di luar sebagai satu-satunya sumber cahaya.

Seketika memori itu kembali. Aku teringat ketika ayahku begitu sering pulang malam dalam keadaan mabuk dan memukuliku dengan alasan tidak jelas. Ia bahkan sering menyeretku ke dalam gudang gelap yang kotor jika sedikit saja berani melawan.

"AAAAAAAAAAAAAA!!!" Aku berteriak tanpa bisa kukendalikan. Rasanya, kamar ini tiba-tiba berubah menjadi gudang sempit yang kotor itu!

"Lin, kamu kenapa?" Deva yang muncul begitu aku berteriak, langsung membawaku ke dalam dekapannya. Tubuhku yang berkeringat dingin dan bergetar ketakutan tentu saja membuat Deva, seketika panik.

"Gelap Dev, aku takut!" Begitu erat aku membalas pelukannya. Deva, berapa kali mengusap kepalaku sebelum akhirnya menjauh dan segera kembali dengan lilin di tangannya.

Cahaya kecil kekuningan itu langsung membuatku tenang. Aku sudah kembali melihat dengan jelas dan ruangan ini bukanlah gudang gelap penuh barang-barang rusak kotor berdebu dengan ular hitam  yang sempat ia pergoki keberadaannya itu. Tempat ini hangat dan nyaman, tempat tinggalku selama seminggu terakhir.

"Listriknya mati, mungkin gara-gara hujan badai di luar. Biasanya sebentar lagi nyala," ujar Deva, semakin membuatku tenang.

Deva kemudian membawa lebih banyak lilin ke kamar, menyalakannya satu persatu dan menyusunnya rapi di hadapanku. Nyala lilin yang kekuningan membuat wajah Deva, berubah sewarna madu.

"Kamu tadi ngangkat telepon dari Meera?" Deva, bertanya padaku dengan nada penuh hati-hati. Dagunya, kini ia letakkan di puncak kepalaku hingga dahiku, kini sempurna menyandar di ceruk lehernya. "Aku udah bilang, Meera itu bukan siapa-siapa. Aku nggak pernah punya perasaan sama dia."

Aku masih terdiam, merasa tidak pantas menjawab apalagi membantah.

"Jawab aku, Lin! Aku minta maaf."

Mendengar permohonan maafnya sekali lagi, sontak membuatku menjauhkan diri dari tubuhnya. Sekuat tenaga aku menahan laju air mataku untuk tidak kembali jatuh. Tapi, seberapapun menyangkal rasanya tetap sakit dan air mataku tetap saja jatuh.

"Gak usah minta maaf, Dev. Kamu nggak salah apa-apa. Kamu udah baik banget sama aku." Jawabku pada akhirnya dengan suara bergetar. "Aku nggak berhak melarang kamu punya pacar atau semacamnya, kita memang cuma temenan aja."

"Tapi aku pengin kamu tahu kalau aku udah suka sama kamu sejak hari pertama kita jadi anak magang."

Aku masih ingat bagaimana kedatangan Deva, menarik banyak perhatian orang kala itu. Meski ia memakai baju hitam putih yang sama seperti pemagang lain, auranya terlihat berbeda. Tubuhnya yang tinggi tegap, mata dalamnya yang tajam dan rahangnya yang tegas sanggup memikat siapa saja yang melihatnya.

"Banyak cewek-cewek yang diam-diam ngomongin kamu. Mereka semua cantik-cantik dan aku merasa nggak pantes deketin kamu," sakit hati rasanya menyadari bahwa aku hanyalah perempuan udik yang datang dari desa. Anak perantauan yang datang ke kota untuk mengadu nasib, berharap kehidupanku jadi lebih baik.

"Kalau kamu nggak ngajak aku ngobrol lebih dulu waktu istirahat makan siang itu, mungkin kita nggak akan sedekat ini sekarang," kataku dengan senyum kecut.

Aku sudah lega bisa mengungkapkan perasaanku kepada Deva. Tapi perasaanku adalah sepenuhnya urusanku. Entah bagaimana Deva membalasnya, aku akan terima. Bukan kewajibannya membalas sebuah perasaan yang aku sendiri tidak mampu mengendalikannya.

Dan aku sudah siap untuk segala kemungkinan. Termasuk segala sakit dan patah hati yang pasti akan menggangguku untuk beberapa saat.

Tapi nyatanya, tangan hangat Deva, malah menangkup wajahku yang basah penuh air mata. Ibu jarinya mengusap pipiku pelan, menghapus jejak air mata yang membuat kedua kelopaknya begitu sembab.

Keheningan di antara kami berubah.

"Jangan natap aku kayak gitu, Lin," bisiknya serak.

"Kenapa?"

"Karena aku laki-laki normal. Dan kamu..." Deva menggantung kalimatnya. "Kamu cantik banget malam ini."

Jantungku berpacu gila-gilaan. Sebelum aku sempat menjawab, Deva sudah memangkas jarak.

Bibirnya menyentuh bibirku.

Awalnya lembut, ragu-ragu, seolah dia sedang meminta izin. Tapi begitu aku memejamkan mata dan sedikit membuka mulut, ciuman itu berubah.

Deva, melumat bibirku. Tangan kanannya menahan tengkukku, memperdalam ciuman kami hingga aku kehabisan napas.

"Enghh..." Lenguhanku tertahan di dalam mulutnya.

Ciuman Deva turun ke rahang, lalu ke leher jenjangku yang terekspos karena kancing atas kemejaku terbuka. Sensasi bibir panas dan basah di kulit leherku membuat seluruh bulu kudukku meremang.

"Dev..."

Tangan besar Deva yang hangat kini menyusup masuk ke balik kemeja kebesaran yang kupakai. Telapak tangannya yang kasar namun mantap menyentuh kulit pinggangku, merambat naik ke punggung, lalu berhenti tepat di pengaitnya.

"Lin, aku nggak bisa nahan lagi," bisiknya di telingaku, napasnya yang memburu membuatku gila. "Boleh?"

Aku tidak bisa bicara karena otakku lumpuh. Yang bisa kulakukan hanya mengangguk samar, menyerahkan diriku sepenuhnya pada kendali laki-laki ini.

Tanpa banyak bicara, Deva mengangkat tubuhku. Kakiku refleks melingkar di pinggangnya. Dia membawaku ke kamar tidur utama, menendang pintu hingga tertutup rapat.

Deva, membaringkanku di atas kasur king size-nya yang empuk. Sprei sutra yang dingin kontras dengan kulit punggungku yang panas.

Dalam keremangan cahaya lilin yang tembus dari pintu luar, aku melihat Deva membuka kaosnya dengan gerakan cepat, memperlihatkan dada bidang dan perut berotot yang selama ini hanya bisa kubayangkan.

Dia menindihku. Berat tubuhnya terasa begitu pas menekan tubuhku.

"Kamu milik aku, Lin. Cuma milik aku," geramnya posesif sebelum kembali menyerang bibirku.

Jemarinya dengan cekatan membuka satu per satu kancing kemejaku. Udara dingin kamar menerpa kulit dadaku, tapi segera tergantikan oleh kehangatan kulit Deva yang bersentuhan langsung denganku.

Saat dia melepaskan penghalang terakhir di antara kami, aku menahan napas. Malu, tapi juga menginginkannya.

Deva, menatap tubuh polosku dengan pandangan memuja. Dia mulai mencumbu setiap inci tubuhku. Dari leher, turun ke dada, meninggalkan jejak kemerahan di sana. Tangannya meremas lembut, membuatku melengkungkan punggung dan meremas rambut tebalnya.

"Dev... ahhh..."

Setiap sentuhannya membakar. Setiap hisapannya membuatku melayang. Aku merasa menjadi wanita paling diinginkan di dunia.

Ketika penyatuan itu akhirnya terjadi, rasa nyeri sekilas langsung tergantikan oleh rasa penuh yang luar biasa. Deva bergerak pelan di awal, memberiku waktu untuk menyesuaikan diri. Matanya terkunci padaku, keringat mulai menetes dari pelipisnya, jatuh ke dahiku.

"Sakit?" tanyanya khawatir.

Aku menggeleng, mataku berkaca-kaca karena luapan emosi. Kupeluk lehernya erat, menariknya semakin dalam. Irama gerakan Deva mulai cepat, teratur, dan menuntut. Suara desah napas kami bersahutan, mengisi keheningan kamar yang gelap. Dunia serasa menyempit, hanya ada aku dan Deva.

*****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 5 Hamil?

    Tiga hari setelah malam itu, kita berubah jauh.Di kantor, kami seperti orang asing. Tidak, lebih burukdari orang asing bahkan. Kami adalah dua orang yang saling tahu rasa bibir dankulit masing-masing, tapi berpura-pura tidak saling kenal.Deva, menghindariku habis-habisan.Setiap kali berpapasan di koridor, dia akan membuangmuka atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Di meeting, dia tidak pernahmenunjukku untuk bicara. Dia membangun tembok raksasa yang tidak bisa kutembus.Aku hancur.Tiap malam aku menangis di kamar kos baruku, merutukikebodohanku yang gampang terbawa perasaan. Sudah jelas aku cuma pelarian. Sudahjelas aku tidak pantas buat dia. Kenapa aku masih berharap?Namun, di balik sikap dinginnya yang menyakitkan itu,aku tidak tahu kalau Deva juga sedang hancur.Dia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata,bayangan wajahku dan aroma tubuhku menghantuinya. Rasa bersalah pada Meera danrasa rindu yang menyiksa padaku membuatnya nyaris gila. Dia sadar, dia munafik.

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 4 Kesalahan Semalam

    "Goodmorning, babe."Yangpertama kali kulihat ketika membuka mata, adalah Deva, yang terbaringmenyamping menghadap ke arahku sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.Laki-laki itu, mengecup kedua kelopak mataku, menyuruhku segera bangun. Pantassaja, ternyata matahari sudah tinggi. Merasakansilau dan panas dari sela-sela gorden,kuputuskan untuk bangkit dari ranjang dan duduk tegak. Namun, aku segeramerapatkan selimutku lagi ketika menyadari tidak ada apapun yang menutupibagian atas tubuhku. Ingatanku langsung melompat pada kegiatan panas kamisemalam. Deva, yang menyadari kegugupanku malah tertawa gemas. "Ngapainmalu-malu begitu? Aku udah liat, kali!" ucapnya sambil ikut kembali masukke dalam selimut dan kembali mendekapku erat di dalam sana. "Dev,udah, deh!" Aku mendorongnya sedikit menjauh. Bukan karena tidak suka,hanya saja aku malu dilihat dengan muka bantalku pagi-pagi begini. Biasanya,meskipun tanpa riasan tebal, paling tidak Deva, selalu melihatku dengan k

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 3 Penyatuan

    Kuakuiaku memang bodoh. Aku tidak punya hak apapun untuk marah, Deva sama sekalitidak berhutang penjelasan padaku. Tapi tetap saja rasanya begitu sakit.Bagaimanatidak? Perhatian dan kebaikan Deva, padaku selama ini memberikan harapan yangbegitu besar untukku.Akubodoh berpikir kalau Deva, menyukaiku.Akubodoh berpikir semua yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnyapadaku. Padahal, statuspun kami tak punya. Dan kemungkinan buruknya, ia sudahpunya pacar. "Lin,itu hp aku, kan?"Akumembuka ponselnya tanpa izin. Aku tahu seharusnya Deva, yang marah. Tapi justrukemarahanku yang mencuat sampai-sampai tidak tahan berada satu ruangandengannya. Aku meninggalkan Deva, begitu saja dan mengunci diri di dalam kamar.Akutidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Aku sudah berusaha sebisa mungkinuntuk meredam suaraku, tapi nyatanya Deva tetap bisa mendengar suarasesenggukanku yang menyebalkan bahkan di telingaku sendiri. "Lin,aku bisa jelasin, Lin! Meera itu buka

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 2 Kekasih Rahasia

    "Gila!Nggak mungkin...""Nggak adapenolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkanurgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasaaja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat."Begitumasuk, mataku tidak tahan untuk menyisir ke sekeliling. Apartemen Deva, bisadibilang besar dan punya fasilitas lengkap. Ada sofa ruang tamu, ruang santai,kamar mandi, dapur dan dua kamar tidur. Segalanya tampak pas dan tidakberlebihan. Meskipun terlihat sederhana, aku tahu harga bangunan ini tidaklahmurah. Apalagi semua perabotan di sini terlihat masih baru. "Ternyatakamu lumayan kaya juga, ya?" Komentarku yang entah mengapa membuat Deva,salah tingkah. Ia tampak tidak nyaman kusebut sebagai "orang kaya.""Kayadari mana? Apartemen aja masih sewa," ujarnya segera membantah. "Kamumandi duluan aja sana! Baju-bajunya taruh aja di situ. Basah, kan?" Katanya, menunjuk sebuah keranjangdi dekat kamar mandi. Meskipun agak kecew

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 1 Tidurlah Denganku!

    BRAK!Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging.Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi."Lin? Astaga, Lin!"Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es."Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?""Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Perutku...""Iya, aku tahu. Tahan sebentar. Jangan merem, Lin. Awas kalau kamu merem!" ancamnya, tapi tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku.Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status