Masuk"Gila! Nggak mungkin..."
"Nggak ada penolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkan urgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasa aja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat."
Begitu masuk, mataku tidak tahan untuk menyisir ke sekeliling. Apartemen Deva, bisa dibilang besar dan punya fasilitas lengkap. Ada sofa ruang tamu, ruang santai, kamar mandi, dapur dan dua kamar tidur. Segalanya tampak pas dan tidak berlebihan. Meskipun terlihat sederhana, aku tahu harga bangunan ini tidaklah murah. Apalagi semua perabotan di sini terlihat masih baru.
"Ternyata kamu lumayan kaya juga, ya?" Komentarku yang entah mengapa membuat Deva, salah tingkah. Ia tampak tidak nyaman kusebut sebagai "orang kaya."
"Kaya dari mana? Apartemen aja masih sewa," ujarnya segera membantah. "Kamu mandi duluan aja sana! Baju-bajunya taruh aja di situ. Basah, kan?" Katanya, menunjuk sebuah keranjang di dekat kamar mandi.
Meskipun agak kecewa karena Deva, mengalihkan pembicaraan. Tapi yang ia bilang betul juga. Kecerobohan membuatku menjatuhkan tas ransel berisi baju-bajuku hingga terjatuh di genangan banjir. Tanganku yang masih lemas ternyata belum mampu mengangkat beban yang seingatku tidaklah seberat itu.
Padahal, sebelumnya Deva, sudah menawarkan bantuan untuk membawakannya. Dan sekarang, aku bahkan tidak punya baju ganti.
"Oke deh, aku duluan, ya!"
Demi rambutku yang sudah lepek dan tubuhku yang lengket, aku langsung setuju begitu Deva, mempersilahkan aku mandi. Meski hanya sedikit, siraman air hujan di tubuhku sempat membuatku menggigil setengah mati. Untung saja, aku bisa berendam air hangat dalam bathtub. Rasanya, seluruh beban di tubuhku terangkat seketika.
Sambil berendam, aku meraih baju yang tadi kupakai. Ada banyak noda cipratan lumpur dan agak bau.
Untungnya tanpa sengaja, aku menemukan kemeja putih Deva, yang digantung di balik pintu. Aroma segar parfum Deva, menempel di tubuhku begitu aku memakainya. Memang kebesaran dan sedikit menerawang, tapi tetap lebih baik dibanding baju kotorku yang sudah bau keringat.
"Deva, marah nggak ya, kalau aku pinjam sebentar bajunya?" Aku tahu pasti jawabannya tidak. Lagipula, dia juga tahu baju-bajuku basah dan kotor terendam banjir.
Begitu keluar kamar mandi, pandanganku langsung bertumbukan dengan Deva. Dia menatapku begitu lekat. Untuk sesaat, kedua matanya bahkan terkunci pada separuh pahaku yang tidak tertutupi apapun.
Demi Tuhan, aku sangat malu dilihat Deva, dalam kondisi seperti ini.
"Um... Udah mandinya?" Deva, akhirnya bersuara, memecah keheningan yang sempat membuat canggung suasana di antara kami. "Rambut kamu basah banget. Sini aku bantu keringin!"
Tanpa aba-aba, laki-laki itu langsung menyambar handuk dan dan mengusap-usapkannya ke kepalaku.
Aku tahu dia melakukan itu hanya agar suasana lebih mencair dan kami bisa berbincang akrab seperti biasanya. Tapi untuk kali ini hal itu tidak membantu sama sekali. Yang ada, jantungku malah berdebar-debar karena ketiadaan jarak di antara kami. Pandangan kami kembali bertubrukan begitu aku mendongak.
"Eh, sorry,” ujar Deva, yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya. "Kalau gitu, gantian aku yang mandi."
Agak lucu melihatnya salah tingkah seperti itu. Deva, yang selama ini kulihat sebagai pahlawan tanpa cela, kini tampak begitu manis.
Seingatku, Deva punya treadmill di ruang tengah. Setidaknya, itulah niatku pada awalnya. Tapi begitu aku keluar kamar, niatku langsung berubah. Bagaimana tidak? Piring bekas makan malam belum dicuci, bantal-bantal sofa berserakan dimana-mana, lantai kotor seperti tidak pernah disapu. Mana tahan aku melihat semua ini?
Beginilah kalau laki-laki tinggal sendirian.
Padahal, pekerjaan-pekerjaan seperti itu tidaklah sulit. Tak sampai sepuluh menit, aku sudah membereskan sofa dan mengepel hampir satu ruangan. Aku baru saja akan menyentuh cucian piring di wastafel sebelum akhirnya sebuah tangan besar menghentikanku.
"Kamu ngapain, Lin? Udah nggak usah!" Aku tidak mengerti kenapa Deva, tampak begitu gusar. Padahal, aku hanya melakukan pekerjaan rumah yang biasa kulakukan.
"Terus siapa yang mau bersihin? Kamu nggak jijik lihat cucian kotor begini? Nanti lama-lama bau, loh!" Balasku tidak mau kalah. Aku tahu ini apartemennya tapi aku juga tidak mau membiarkan ada bebauan aneh yang akan merusak kenyamanan tempat ini.
"Nanti ada yang bersihin."
"Kapan?"
"Besok." Katanya tanpa sara bersalah. Aku memutar bola mataku dan kembali mengambil spons yang penuh dengan busa sabun. Tapi, laki-laki itu masih membuntutiku, membujukku menghentikan kegiatan yang sudah setengah jalan kulakukan. "Kalau di sini biasanya gitu, ada mbak yang datang tiga kali seminggu untuk beresin rumah ini."
Di dapur, aku terdiam dan mengatur nafas berkali-kali, meredam detak jantungku yang berdegup tidak terkendali. Gila, kalau sampai begini terus bisa-bisa aku tidak selamat. Bahaya jika terus-terusan berada di dekatnya!
Karena sudah di dapur, kuputuskan untuk mengambil cemilan seperti alibiku tadi. Seingatku, Deva menyimpannya di laci tinggi yang mengharuskanku berjinjit untuk meraihnya. Agak susah memang, tapi untunglah aku segera menemukannya. Tapi begitu berbalik, aku terpeleset karena ada genangan air di lantai yang tidak kusadari. Untung saja, Deva segera menangkap dan memeluk pinggangku yang hampir saja jatuh ke lantai.
"Tadi pas pulang, aku kelaparan terus bikin mi instan. Kayaknya ada yang tumpah deh, sorry."
Aku tidak bisa fokus pada permintaan maaf Deva, yang kurasakan sekarang hanyalah getaran dari dalam dalam tubuhku. Detak jantung yang beberapa saat lalu sudah mereda kini kembali dengan ritme yang lebih cepat.
"Lin, kamu nggak apa-apa, kan? Gak ada yang luka, kan?" Suara khawatir Deva, membuatku tersadar dari lamunan. Wajahnya yang menatapku begitu dekat seketika membuatku menunduk tidak berani menatapnya.
"Nggak, aku nggak apa-apa. Udah, yuk!"
Kamipun kembali ke ruang TV. Seperti katanya, acara balapan itu sudah selesai begitu aku kembali. Kukira, Deva akan kembali ke kamar. Tapi ternyata, dia malah ikut menonton drama bersamaku.
Deva, tampak menyukainya juga. Sesekali ia tertawa dan menanggapi momen-momen tidak masuk akal dalam drama itu. Semuanya berjalan normal dan begitu menyenangkan. Hanya saja, telepon genggam Deva, terlalu sering berbunyi membuatku agak terganggu.
"Telepon dari siapa, Dev?" Tanyaku penasaran.
"Udah, biarin aja. Paling cuma orang aneh." Jawaban Deva, membuatku agak curiga. Meera, itulah nama yang terpampang nyala di layar ponsel Deva, yang tidak berhenti bergetar. Rasa penasaran begitu menguasaiku sampai-sampai aku tidak tahan untuk mengangkatnya ketika Deva, pergi ke kamar mandi.
"Sayang! Kamu kok tega banget nggak pernah ngangkat telepon aku!"
Suara petir di luar sana, mewakili perasaanku yang tidak bisa lagi aku artikan. Suara perempuan itu masih mengoceh di seberang sana, membuatku semakin terdiam dengan hati dibakar cemburu.
*****
Tiga hari setelah malam itu, kita berubah jauh.Di kantor, kami seperti orang asing. Tidak, lebih burukdari orang asing bahkan. Kami adalah dua orang yang saling tahu rasa bibir dankulit masing-masing, tapi berpura-pura tidak saling kenal.Deva, menghindariku habis-habisan.Setiap kali berpapasan di koridor, dia akan membuangmuka atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Di meeting, dia tidak pernahmenunjukku untuk bicara. Dia membangun tembok raksasa yang tidak bisa kutembus.Aku hancur.Tiap malam aku menangis di kamar kos baruku, merutukikebodohanku yang gampang terbawa perasaan. Sudah jelas aku cuma pelarian. Sudahjelas aku tidak pantas buat dia. Kenapa aku masih berharap?Namun, di balik sikap dinginnya yang menyakitkan itu,aku tidak tahu kalau Deva juga sedang hancur.Dia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata,bayangan wajahku dan aroma tubuhku menghantuinya. Rasa bersalah pada Meera danrasa rindu yang menyiksa padaku membuatnya nyaris gila. Dia sadar, dia munafik.
"Goodmorning, babe."Yangpertama kali kulihat ketika membuka mata, adalah Deva, yang terbaringmenyamping menghadap ke arahku sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.Laki-laki itu, mengecup kedua kelopak mataku, menyuruhku segera bangun. Pantassaja, ternyata matahari sudah tinggi. Merasakansilau dan panas dari sela-sela gorden,kuputuskan untuk bangkit dari ranjang dan duduk tegak. Namun, aku segeramerapatkan selimutku lagi ketika menyadari tidak ada apapun yang menutupibagian atas tubuhku. Ingatanku langsung melompat pada kegiatan panas kamisemalam. Deva, yang menyadari kegugupanku malah tertawa gemas. "Ngapainmalu-malu begitu? Aku udah liat, kali!" ucapnya sambil ikut kembali masukke dalam selimut dan kembali mendekapku erat di dalam sana. "Dev,udah, deh!" Aku mendorongnya sedikit menjauh. Bukan karena tidak suka,hanya saja aku malu dilihat dengan muka bantalku pagi-pagi begini. Biasanya,meskipun tanpa riasan tebal, paling tidak Deva, selalu melihatku dengan k
Kuakuiaku memang bodoh. Aku tidak punya hak apapun untuk marah, Deva sama sekalitidak berhutang penjelasan padaku. Tapi tetap saja rasanya begitu sakit.Bagaimanatidak? Perhatian dan kebaikan Deva, padaku selama ini memberikan harapan yangbegitu besar untukku.Akubodoh berpikir kalau Deva, menyukaiku.Akubodoh berpikir semua yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnyapadaku. Padahal, statuspun kami tak punya. Dan kemungkinan buruknya, ia sudahpunya pacar. "Lin,itu hp aku, kan?"Akumembuka ponselnya tanpa izin. Aku tahu seharusnya Deva, yang marah. Tapi justrukemarahanku yang mencuat sampai-sampai tidak tahan berada satu ruangandengannya. Aku meninggalkan Deva, begitu saja dan mengunci diri di dalam kamar.Akutidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Aku sudah berusaha sebisa mungkinuntuk meredam suaraku, tapi nyatanya Deva tetap bisa mendengar suarasesenggukanku yang menyebalkan bahkan di telingaku sendiri. "Lin,aku bisa jelasin, Lin! Meera itu buka
"Gila!Nggak mungkin...""Nggak adapenolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkanurgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasaaja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat."Begitumasuk, mataku tidak tahan untuk menyisir ke sekeliling. Apartemen Deva, bisadibilang besar dan punya fasilitas lengkap. Ada sofa ruang tamu, ruang santai,kamar mandi, dapur dan dua kamar tidur. Segalanya tampak pas dan tidakberlebihan. Meskipun terlihat sederhana, aku tahu harga bangunan ini tidaklahmurah. Apalagi semua perabotan di sini terlihat masih baru. "Ternyatakamu lumayan kaya juga, ya?" Komentarku yang entah mengapa membuat Deva,salah tingkah. Ia tampak tidak nyaman kusebut sebagai "orang kaya.""Kayadari mana? Apartemen aja masih sewa," ujarnya segera membantah. "Kamumandi duluan aja sana! Baju-bajunya taruh aja di situ. Basah, kan?" Katanya, menunjuk sebuah keranjangdi dekat kamar mandi. Meskipun agak kecew
BRAK!Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging.Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi."Lin? Astaga, Lin!"Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es."Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?""Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Perutku...""Iya, aku tahu. Tahan sebentar. Jangan merem, Lin. Awas kalau kamu merem!" ancamnya, tapi tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku.Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membua







