Beranda / Romansa / Kekasih Rahasia Tuan Muda / Bab 1 Tidurlah Denganku!

Share

Kekasih Rahasia Tuan Muda
Kekasih Rahasia Tuan Muda
Penulis: Ratu Syakrila

Bab 1 Tidurlah Denganku!

Penulis: Ratu Syakrila
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-22 06:29:21

BRAK!

Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging.

Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi.

"Lin? Astaga, Lin!"

Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es.

"Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?"

"Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Perutku..."

"Iya, aku tahu. Tahan sebentar. Jangan merem, Lin. Awas kalau kamu merem!" ancamnya, tapi tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku.

Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membuatku mual sejak tadi.

Aku reflek mencengkeram kerah kemejanya.

"Dev, badanku berat, tu-turunin..." racauku lirih.

"Diem! Nggak usah ngomong," potongnya tajam.

Deva, membawaku keluar dari toilet wanita dengan langkah lebar dan tergesa. Aku bisa mendengar suara ribut di koridor. Beberapa orang mungkin sedang melihat kami, tapi Deva tidak peduli. Dia justru mengeratkan dekapannya, menyembunyikan wajahku di dada bidangnya seolah tidak ingin ada satu orang pun yang melihat kondisiku yang kacau.

"Pak, tolong bukain pintu lobi! Sekarang!" teriak Deva. Aku merasakan getaran suaranya merambat dari dadanya ke pipiku.

"Siapin mobil di depan. Saya nggak mau nunggu taksi. Bodo amat punya siapa, pake aja dulu!"

Dia sedang bicara dengan siapa? Kenapa dia berani sekali membentak orang kantor?

Kesadaranku makin tipis. Rasa sakit di perutku semakin menjadi-jadi, seolah sedang mencabik-cabik kesadaranku.

Hal terakhir yang kuingat hanya suara Deva yang berbisik tepat di telingaku, nadanya berubah drastis dari bentakan tadi. Menjadi begitu lirih dan takut?

"Tahan ya, Lin, bentar lagi sampai."

***

Bunyi bip-bip ritmis dan hawa dingin yang menusuk kulit menjadi hal pertama yang menyambutku.

Aku mengerjap pelan. Langit-langit ruangan ini tinggi sekali, dengan lampu tanam yang memberikan pencahayaan temaram dan elegan. Bukan lampu neon putih menyilaukan yang biasa kulihat di puskesmas.

Aku menoleh perlahan. Ada sofa kulit panjang berwarna beige di sudut, TV layar datar yang menempel di dinding ber-wallpaper, dan kulkas dua pintu di dekat lemari pakaian.

Ini di mana? Hotel?

Aku mencoba bangun, tapi selang infus di punggung tangan menahanku. Rasa nyeri di ulu hati masih ada, tapi sudah jauh lebih mendingan dibanding tadi siang.

"Udah sadar?"

Suara itu membuatku menoleh cepat.

Deva, baru saja keluar dari pintu kamar mandi di dalam ruangan ini. Dia sedang mengeringkan tangan dengan tisu, terlihat jauh lebih segar meski wajahnya masih menyisakan guratan lelah. Lengan kemejanya digulung sampai siku, jam tangan mahalnya berkilau tertimpa cahaya lampu.

Dia berjalan mendekat, menarik kursi di samping ranjangku dengan gerakan santai, lalu duduk menyilangkan kaki.

"Dev, ini rumah sakit mana?" tanyaku langsung. Tenggorokanku kering. "Kenapa kamarnya begini? Ini VIP, kan?"

Deva, menuangkan air putih ke dalam gelas di nakas, lalu menyodorkannya padaku lengkap dengan sedotan. Aku menurut karena memang haus setengah mati. Setelah meneguk air itu sampai setengah, aku kembali menatapnya menuntut penjelasan.

"Jawab, Dev. Ini pasti mahal banget. Kita harus pindah sekarang. Aku pake BPJS aja, serius. Duitku nggak bakal cukup buat bayar depositonya doang!"

Aku sudah bersiap menarik selimut, berniat turun. Gaji magangku cuma UMR, bayar kosan dan makan saja sudah pas-pasan. Kalau harus bayar kamar semewah ini, aku bisa puasa setahun.

"Heh, heh! Mau ngapain?" Deva, menahan bahuku, memaksaku kembali bersandar. "Siapa juga yang nyuruh kamu bayar? Udah dapet fasilitas enak kok malah ngajak susah."

"Maksudnya?"

"Ini ditanggung kantor, Alina," jawabnya enteng. Dia mengambil apel dari keranjang buah di meja, lalu mulai mengupasnya dengan pisau kecil.

"Kantor? Sejak kapan anak magang dapet fasilitas VIP?" Aku menatapnya curiga. "Kamu jangan bohongin aku ya, Dev. Jangan-jangan kamu yang bayarin? Aku nggak mau berhutang budi—"

"Dengerin dulu makanya," potong Deva gemas. Dia menunjuk-nunjuk aku dengan pisau di tangannya. "Tadi HRD panik liat kamu digotong keluar. Kebetulan jatah asuransi kesehatan manajer bulan ini lagi sisa banyak dan nggak kepake. Daripada hangus, mereka alihin buat emergency case kamu. Katanya sih, itung-itung kompensasi karena beban kerja anak magang lagi gila-gilaan."

Alasannya terdengar terlalu teknis dan spesifik. Apa benar begitu?

"Serius? Manajer baik banget mau kasih jatahnya?"

"Ya daripada citra perusahaan jelek gara-gara ada anak magang mati kelaparan di toilet kantor?" Deva menyeringai jahil. "Udah, terima aja. Rezeki anak sholehah."

Aku menghela napas panjang, bahuku merosot lega. Kalau memang dibayari kantor, syukurlah. Aku kembali menatap Deva yang kini sibuk memotong apel menjadi bentuk dadu kecil-kecil.

Jujur saja, sulit untuk tidak overthinking. Aku berbaring di kamar rawat inap VIP yang luasnya dua kali lipat ukuran kamar kosku, diselimuti selimut tebal yang wangi, sementara di luar sana tagihan pasti sedang berjalan seperti taksi argo kuda.

"Dev, ini beneran kantor yang bayar, kan? Nanti gajiku nggak dipotong, kan?" tanyaku cemas. Lidahku terasa pahit, bukan karena sakit, tapi karena takut membayangkan sisa saldo di ATM.

Deva, menghela napas panjang. Ia meletakkan pisau buah di nakas dengan bunyi klotak pelan.

"Kalau sampai gajimu dipotong, aku orang pertama yang bakal demo ke HRD. Udah, percaya sama aku. Tugas kamu cuma sembuh."

***

Dua hari kemudian, aku memaksa masuk kerja. Badanku sebenarnya masih terasa melayang, sisa-sisa demam masih menggantung di pelipis. Tapi absen lama-lama bagi anak magang sama saja bunuh diri karier.

Sialnya, langit hujan turun bukan main derasnya. Angin kencang menampar-nampar jendela kaca gedung kantor, membuat nyaliku ciut untuk pulang naik ojek online.

"Kamu pulang sama aku. Titik."

Deva, muncul di kubikelku bahkan sebelum aku sempat membereskan tas. "Tapi arah kita beda jauh, Dev. Macet juga..."

"Lin, di luar badai. Kamu baru keluar rumah sakit dua hari lalu. Mau pingsan lagi di jalan?" potongnya tajam.

Aku diam. Kalah telak.

Sepanjang perjalanan, kehangatan di dalam mobil Deva yang beraroma musk dan kulit jok mahal sangat kontras dengan kekacauan di luar. Hujan mencambuk kaca mobil tanpa ampun. Aku hanya bisa meremas sabuk pengaman, merasa bersalah karena lagi-lagi merepotkan pangeran kantor ini.

Namun, rasa bersalah itu berubah menjadi horor begitu kami sampai di depan kosanku.

Bahkan dari dalam mobil, aku bisa melihat air selokan meluap sampai ke teras. Firasatku buruk.

"Tunggu di sini, biar aku cek," perintah Deva. Dia menerobos hujan dengan payung, tapi aku nekat mengikutinya.

Begitu pintu kamar kubuka, bau apek yang menyengat langsung menonjok hidung.

"Ya Tuhan..."

Lantaiku hilang. Tergenang air keruh setinggi mata kaki. Ember yang kusiapkan tadi pagi sudah terguling tak berdaya. Yang paling parah, atap tepat di atas kasurku jebol. Kasur busa tipis satu-satunya milikku kini basah kuyup, berwarna cokelat kotor karena air hujan bercampur debu plafon.

Hancur sudah tempat istirahatku.

Satu-satunya tempatku pulang, kini mirip kolam comberan.

Aku berdiri mematung. Dingin air di kaki merambat naik sampai ke ulu hati. Mau tidur di mana aku malam ini? Uangku pas-pasan.

"Kemas barang-barang penting kamu, sekarang!"

Suara Deva terdengar rendah, tapi ada amarah yang tertahan di sana.

Aku menoleh, mendapati rahang Deva mengeras saat matanya menyapu sekeliling kamarku yang menyedihkan. Dia tidak marah padaku, aku tahu. Dia marah pada keadaan.

"Dev, aku bisa bersihin ini kok. Nanti dipel..."

"Dipel gimana, Alina?!" bentaknya. Ini pertama kalinya dia meninggikan suara. "Kasur kamu basah, atap bocor, terus airnya kotor banget! Kamu mau tidur di sini terus sakit lagi? Atau kamu mau mati kedinginan?"

Mataku memanas. Dibentak Deva rasanya lebih sakit daripada melihat kamarku kebanjiran.

"Terus aku harus ke mana?" cicitku, air mata mulai bercampur dengan tetesan air hujan di pipi.

Deva, membuang napas kasar, menyugar rambutnya yang basah. Dia melangkah mendekat, mencengkeram bahuku—bukan kasar, tapi tegas.

"Ikut aku. Malam ini kamu tidur di tempatku!"

*****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 5 Hamil?

    Tiga hari setelah malam itu, kita berubah jauh.Di kantor, kami seperti orang asing. Tidak, lebih burukdari orang asing bahkan. Kami adalah dua orang yang saling tahu rasa bibir dankulit masing-masing, tapi berpura-pura tidak saling kenal.Deva, menghindariku habis-habisan.Setiap kali berpapasan di koridor, dia akan membuangmuka atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Di meeting, dia tidak pernahmenunjukku untuk bicara. Dia membangun tembok raksasa yang tidak bisa kutembus.Aku hancur.Tiap malam aku menangis di kamar kos baruku, merutukikebodohanku yang gampang terbawa perasaan. Sudah jelas aku cuma pelarian. Sudahjelas aku tidak pantas buat dia. Kenapa aku masih berharap?Namun, di balik sikap dinginnya yang menyakitkan itu,aku tidak tahu kalau Deva juga sedang hancur.Dia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata,bayangan wajahku dan aroma tubuhku menghantuinya. Rasa bersalah pada Meera danrasa rindu yang menyiksa padaku membuatnya nyaris gila. Dia sadar, dia munafik.

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 4 Kesalahan Semalam

    "Goodmorning, babe."Yangpertama kali kulihat ketika membuka mata, adalah Deva, yang terbaringmenyamping menghadap ke arahku sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.Laki-laki itu, mengecup kedua kelopak mataku, menyuruhku segera bangun. Pantassaja, ternyata matahari sudah tinggi. Merasakansilau dan panas dari sela-sela gorden,kuputuskan untuk bangkit dari ranjang dan duduk tegak. Namun, aku segeramerapatkan selimutku lagi ketika menyadari tidak ada apapun yang menutupibagian atas tubuhku. Ingatanku langsung melompat pada kegiatan panas kamisemalam. Deva, yang menyadari kegugupanku malah tertawa gemas. "Ngapainmalu-malu begitu? Aku udah liat, kali!" ucapnya sambil ikut kembali masukke dalam selimut dan kembali mendekapku erat di dalam sana. "Dev,udah, deh!" Aku mendorongnya sedikit menjauh. Bukan karena tidak suka,hanya saja aku malu dilihat dengan muka bantalku pagi-pagi begini. Biasanya,meskipun tanpa riasan tebal, paling tidak Deva, selalu melihatku dengan k

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 3 Penyatuan

    Kuakuiaku memang bodoh. Aku tidak punya hak apapun untuk marah, Deva sama sekalitidak berhutang penjelasan padaku. Tapi tetap saja rasanya begitu sakit.Bagaimanatidak? Perhatian dan kebaikan Deva, padaku selama ini memberikan harapan yangbegitu besar untukku.Akubodoh berpikir kalau Deva, menyukaiku.Akubodoh berpikir semua yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnyapadaku. Padahal, statuspun kami tak punya. Dan kemungkinan buruknya, ia sudahpunya pacar. "Lin,itu hp aku, kan?"Akumembuka ponselnya tanpa izin. Aku tahu seharusnya Deva, yang marah. Tapi justrukemarahanku yang mencuat sampai-sampai tidak tahan berada satu ruangandengannya. Aku meninggalkan Deva, begitu saja dan mengunci diri di dalam kamar.Akutidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Aku sudah berusaha sebisa mungkinuntuk meredam suaraku, tapi nyatanya Deva tetap bisa mendengar suarasesenggukanku yang menyebalkan bahkan di telingaku sendiri. "Lin,aku bisa jelasin, Lin! Meera itu buka

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 2 Kekasih Rahasia

    "Gila!Nggak mungkin...""Nggak adapenolakan," potongnya final. Tatapannya mengunci mataku, menyalurkanurgensi yang tidak bisa kutawar. "Aku punya unit apartemen sewaan. Biasaaja, nggak mewah, tapi kering dan layak. Anggap aja kamu ngungsi darurat."Begitumasuk, mataku tidak tahan untuk menyisir ke sekeliling. Apartemen Deva, bisadibilang besar dan punya fasilitas lengkap. Ada sofa ruang tamu, ruang santai,kamar mandi, dapur dan dua kamar tidur. Segalanya tampak pas dan tidakberlebihan. Meskipun terlihat sederhana, aku tahu harga bangunan ini tidaklahmurah. Apalagi semua perabotan di sini terlihat masih baru. "Ternyatakamu lumayan kaya juga, ya?" Komentarku yang entah mengapa membuat Deva,salah tingkah. Ia tampak tidak nyaman kusebut sebagai "orang kaya.""Kayadari mana? Apartemen aja masih sewa," ujarnya segera membantah. "Kamumandi duluan aja sana! Baju-bajunya taruh aja di situ. Basah, kan?" Katanya, menunjuk sebuah keranjangdi dekat kamar mandi. Meskipun agak kecew

  • Kekasih Rahasia Tuan Muda    Bab 1 Tidurlah Denganku!

    BRAK!Pintu toilet mendadak terbuka kasar, menghantam dinding pembatas dengan suara nyaring yang membuat telingaku berdenging.Deva, berdiri di sana dengan napas memburu. Kemejanya sedikit berantakan, rambutnya mencuat aneh seolah baru saja ia acak-acak karena frustrasi."Lin? Astaga, Lin!"Deva, langsung menerjang masuk. Dia tidak peduli lantai toilet ini kotor atau basah saat lututnya menghantam ubin untuk sejajar denganku. Tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipiku yang mungkin sudah sedingin es."Hei, lihat aku, Lin? Denger suara aku, nggak?""Sakit., Dev..." Aku merintih, suaraku nyaris tidak keluar. "Perutku...""Iya, aku tahu. Tahan sebentar. Jangan merem, Lin. Awas kalau kamu merem!" ancamnya, tapi tangannya gemetar saat menyeka keringat di pelipisku.Tanpa permisi, Deva menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Seketika tubuhku melayang. Aroma citrus dan keringat laki-laki itu langsung memenuhi rongga hidungku, mengusir bau obat pel yang membua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status