“Kamu diterima jadi model di sini!” jawab lelaki itu.Aku terkejut, mana mungkin? Mana bisa? Dan … apakah aku tidak salah mendengar? Aku tersenyum getir.“Em … apakah Bapak serius?” tanyaku.“Tidak, saya serius. Kamu cocok menjadi model iklan produk kami. Dari postur tubuh, dan semua yang saya lihat dari dirimu, saya rasa atasan kami akan sangat setuju memilih model sepertimu. Baiklah, Arin … namamu Arin, kan?” Aku mengangguk sebagai jawaban.“Baiklah, Arin … selamat, dari jumlah ratusan pelamar, kamu terpilih menjadi model kami,” ucap lelaki itu.Aku masih bingung, aku masih awam dengan bidang ini.“Rere, kita sudah dapat model yang cocok. Catat, dan nanti kita laporan kepada pak Rivan!” seru lelaki itu.“Em … tapi, Pak Sena, bagaimana dengan Vania? Bukankah tadi Pak Sena sendiri yang memilihnya?” tanya wanita yang bernama bu Rere.“Akan saya urus soal itu. Arin yang lebih cocok membintangi iklan produk perusahaan ini,” jawab lelaki yang bernama pak Sena.Aku menggaruk kepalaku yang
Terakhir Diperbarui : 2026-01-15 Baca selengkapnya