“Mau ke mana, Bi?” tanyaku, saat kulihat bi Saroh menenteng sebuah tas berukuran cukup besar.Kami saling berpapasan saat aku menginjakkan kaki di lantai bawah.“Maaf, Mas Malik. Saya sudah lancang ngomong blak-blakan kepada Mas. Jadi … lebih baik saya angkat kaki dari rumah ini. Sekali lagi saya minta maaf,” jawab bi Saroh.Aku berdiri menghadangnya, berkacak pinggang menatapnya tajam.“Taruh lagi tasnya, saya tidak memecat bi Saroh,” ucapku.“Tapi–”“Saya bilang taruh ya taruh! Saya tidak bisa masak, saya tidak mau mencari ART baru, dan saya ingin bi Saroh tetap bekerja di sini. Saya tidak ada waktu untuk berdebat dengan Bibi, saya harus segera mencari Arin,” tukasku, membuat bi Saroh membeliak.“Jadi … Mas Malik mau mencari mbak Arin?” tanyanya.“Ya, saya akan mencarinya. Bi Saroh tidak perlu pergi dari sini. Saya masih membutuhkan Bibi di sini. Kalau begitu saya pergi dulu!” jawabku.Aku melanjutkan langkahku, kunaiki mobilku seorang diri, tanpa mengajak sopir.“Arin, di mana kamu
Read more