"Astaga! Pemandangan apalagi ini?!" seru Chloe., terkejut. Di ujung meja resin hitam berukir panjang, duduklah Lorenzo. Pria paruh baya dengan garis wajah sigma dan setajam silet itu tengah menyesap ABIDIN (Anggur merah Bir Dingin) dengan santai. Bukan Lorenzo yang menarik perhatian Chloe. Tepat di tengah-tengah meja makan yang seharusnya berisi paella pesanan Bumil, malah terbaring tubuh seorang pria dengan keadaan babak belur, terikat kuat pada sebuah nampan perak raksasa, dan bersimbah darah segar. Pria itu adalah Lucas, sang komandan elit penembak roket. "Selamat datang di rumah, Putraku," sambut Lorenzo dengan tawa serak basah yang menggema, seraya menempelkan moncong pistol tepat di dahi Lucas yang mengerang kesakitan. "Sebelum calon menantuku makan malam, bagaimana kalau kita bermain satu permainan kecil lagi?"Wajah Jordan mengeras seketika. Urat-urat di lehernya jelas kentara. Dalam satu kedipan mata, pria itu mengangkat Desert Eagle-nya dan membidik lurus ke arah sang aya
Mehr lesen