Diana mendorong dada Arthur dengan cepat—bukan keras, hanya cukup agar pria itu memberi ruang untuknya bergerak. Dalam satu langkah ringan yang gemulai, ia memutar tubuh ke samping dan menjauh, pipinya memanas karena kedekatan barusan. “Maaf,” ucapnya cepat, napasnya sedikit naik turun. “Aku tidak bermaksud mengejutkanmu.”Mata biru pucatnya—jernih seperti permukaan danau di musim dingin—menatap mata biru Arthur yang lebih gelap, lebih pekat, lebih angkuh. Dua warna yang sama, tetapi dua dunia yang berbeda.Arthur menghela napas perlahan, ekspresi kerasnya kembali terbentuk di balik dingin tatapannya. Pria itu berbalik dan duduk di kursinya, merapikan posisi mantelnya seakan insiden tadi tidak pernah terjadi. “Untuk apa kau kemari?” tanyanya acuh, nada suaranya datar, seperti tidak ingin mengakui bahwa beberapa detik lalu ia sempat meremas tangan Diana dan hampir seperti… panik.Diana berkedip cepat, lalu teringat tujuannya. Ia meraih jar krim di atas meja, mengangkatnya dengan k
Last Updated : 2025-12-12 Read more