LOGINKereta kuda berhenti perlahan di halaman Istana Putra Mahkota. Roda kayunya mengeluarkan suara lirih saat gesekan terakhir dengan batu marmer halaman yang luas dan bersih. Para penjaga istana segera berdiri tegak, menundukkan kepala dengan penuh hormat ketika pintu kereta dibuka.Arthur turun lebih dahulu, langkahnya mantap dan terukur seperti biasa. Topeng emas di wajahnya memantulkan cahaya matahari siang dengan dingin. Diana menyusul beberapa detik kemudian, turun dengan gerakan anggun namun jelas tanpa antusiasme. Begitu kakinya menginjak tanah, ia menghela napas kecil, seolah menyadari satu kenyataan yang tak bisa dihindari.Kepulangannya kali ini terlalu cepat. Terlalu… siang.Belum sempat Diana melangkah jauh, seorang pelayan laki-laki mendekat dan membungkuk hormat. “Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia Putri Mahkota. Makan siang telah disiapkan.”Arthur mengangguk singkat. “Baik.”Diana ikut mengangguk, tetapi matanya bergeser malas ke arah Arthur. Tidak ada alasan untuk
“Sa—salam, Pangeran dan Putri Mahkota….”Pelayan pribadi Selir Shofia membungkuk dengan canggung, suaranya sedikit bergetar. Jelas sekali ia merasa muncul di waktu yang tidak tepat, terlebih setelah merasakan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap di udara sekitar kereta.Diana terbatuk pelan. Ia dengan cepat merapikan ekspresinya, menarik kembali semua emosi yang barusan hampir tumpah. Dalam sekejap, wajahnya kembali menjadi Putri Mahkota yang anggun dan tenang. Ia menoleh, menatap pelayan itu dengan senyum ramah yang terukur.“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lembut.Pelayan itu tampak lega. Ia tersenyum kecil, lalu kembali membungkuk. “Yang Mulia Selir menitipkan ucapan terima kasih kepada Anda karena telah menolong Pangeran Keempat hari ini. Serta… permintaan maaf karena tidak mengucapkan terima kasih secara langsung, karena masih harus mendampingi beliau.”Diana mengangguk pelan, gesturnya penuh pengertian.“Beliau juga berpesan,” lanjut pelayan itu hati-hati, “
“Yang Mulia?” tanya Diana dengan senyum lembut yang nyaris sempurna. Ia melangkah mendekati Arthur tanpa ragu, lalu melingkarkan tangannya di lengan pria itu seolah tindakan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang tak perlu dipertanyakan.Arthur sedikit terkejut.Bukan karena sentuhan itu sendiri, melainkan karena refleks tubuhnya yang hampir menegang. Namun seperti biasa, ia tidak menampilkan reaksi apa pun. Topeng emasnya tetap menyembunyikan ekspresi, sementara matanya justru turun menatap tangan Diana yang melingkar erat di lengannya.“Kalau tahu Yang Mulia ada di sini,” lanjut Diana dengan nada lembut bercampur cemas, keningnya sedikit terlipat dan mata birunya berbinar seolah sedang menatap kekasih sungguhan, “aku akan memilih untuk menunggu lebih lama.”Arthur terbatuk pelan. Ia mengalihkan pandangannya dari Diana dan kini menatap Alon yang berdiri beberapa langkah di depan mereka, memperhatikan interaksi itu dengan raut w
“Maafkan aku karena membuatmu menunggu lama, Putri Mahkota.”Suara Kaisar terdengar hangat ketika pria paruh baya itu akhirnya melangkah masuk ke Paviliun Barat. Jubah kebesarannya bergoyang ringan mengikuti langkahnya, sementara wajahnya menunjukkan sisa kelelahan dari majelis pagi yang jelas tidak berjalan sederhana.“Majelis pagi ini berjalan lebih rumit dari biasanya,” lanjut Kaisar sambil duduk di hadapan meja rendah berlapis ukiran emas.Diana tersenyum anggun. Dengan gerakan tenang, ia menuangkan teh ke dalam cangkir porselen emas, aroma daun teh perlahan memenuhi udara paviliun. “Bukan masalah besar, Yang Mulia,” jawabnya lembut. “Sebaliknya, justru saya yang tidak sopan karena mendadak ingin menemui Yang Mulia seperti ini.”Kaisar tertawa pelan, nada suaranya terdengar tulus. “Kau menantuku. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak permintaanmu.” Ia mengangkat cangkir tehnya. “Katakan, apa yang kau inginkan? Apa
Tangisan Selir Shofia pecah tanpa bisa ditahan lagi. Wanita itu berdiri di sisi pembaringan putranya, kedua tangannya gemetar, matanya merah dan basah oleh air mata yang terus mengalir. Setiap helaan napas Pangeran Keempat terdengar berat, disertai erangan lirih yang membuat dada Selir Shofia terasa seperti diremas kuat-kuat.Seorang tabib tampak tergesa hendak menempelkan kompresan es langsung ke kulit Pangeran Keempat yang memerah dan melepuh.“Tabib,” suara Diana terdengar tegas, memotong gerakan itu dengan cepat. Tangannya terangkat, menghentikan tabib tepat sebelum es menyentuh kulit sang pangeran. “Sebaiknya jangan langsung disentuh dengan kompresan bersuhu dingin.”Tabib itu tertegun. Wajahnya tampak bingung dan cemas di saat bersamaan. “Namun, Putri,” ujarnya gugup, “luka di kulit Pangeran tampak melepuh. Jika tidak segera dikompres—”“Jika dikompres menggunakan es,” potong Diana tanpa ragu, “itu justru akan memperparah gejalanya.”Semua orang di ruangan itu menahan napas.
“Semuanya sudah siap?”Diana berdiri di ambang pintu kediamannya, sorot matanya menyapu cepat ke arah halaman depan yang mulai ramai oleh pelayan dan prajurit pengawal. Nada suaranya tenang, namun ada kilat ketegasan yang jelas terdengar di baliknya.Bibi Erna yang baru saja kembali dari arah belakang mengangguk singkat. “Sudah, Putri. Semua barang yang Anda perintahkan sudah tertata rapi di penyimpanan kereta.”Diana mengangguk puas. Ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ia tahu Bibi Erna bukan tipe orang yang bekerja setengah-setengah. Wanita paruh baya itu sudah bersamanya sejak lama, dan kepercayaan Diana padanya tidak perlu lagi dipertanyakan.“Baik,” jawab Diana singkat.Ia kemudian melangkah keluar dari kediamannya, diikuti oleh Embun dan Bibi Erna di belakang. Langkah Diana ringan namun mantap. Tujuan mereka hari ini jelas—Istana Kaisar. Namun maksud sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar kunjungan sopan.Hari ini, ia datang untuk memancing sesuatu.Saat mereka hampi







