Masuk“Yang Mulia?” tanya Diana dengan senyum lembut yang nyaris sempurna. Ia melangkah mendekati Arthur tanpa ragu, lalu melingkarkan tangannya di lengan pria itu seolah tindakan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang tak perlu dipertanyakan.Arthur sedikit terkejut.Bukan karena sentuhan itu sendiri, melainkan karena refleks tubuhnya yang hampir menegang. Namun seperti biasa, ia tidak menampilkan reaksi apa pun. Topeng emasnya tetap menyembunyikan ekspresi, sementara matanya justru turun menatap tangan Diana yang melingkar erat di lengannya.“Kalau tahu Yang Mulia ada di sini,” lanjut Diana dengan nada lembut bercampur cemas, keningnya sedikit terlipat dan mata birunya berbinar seolah sedang menatap kekasih sungguhan, “aku akan memilih untuk menunggu lebih lama.”Arthur terbatuk pelan. Ia mengalihkan pandangannya dari Diana dan kini menatap Alon yang berdiri beberapa langkah di depan mereka, memperhatikan interaksi itu dengan raut w
“Maafkan aku karena membuatmu menunggu lama, Putri Mahkota.”Suara Kaisar terdengar hangat ketika pria paruh baya itu akhirnya melangkah masuk ke Paviliun Barat. Jubah kebesarannya bergoyang ringan mengikuti langkahnya, sementara wajahnya menunjukkan sisa kelelahan dari majelis pagi yang jelas tidak berjalan sederhana.“Majelis pagi ini berjalan lebih rumit dari biasanya,” lanjut Kaisar sambil duduk di hadapan meja rendah berlapis ukiran emas.Diana tersenyum anggun. Dengan gerakan tenang, ia menuangkan teh ke dalam cangkir porselen emas, aroma daun teh perlahan memenuhi udara paviliun. “Bukan masalah besar, Yang Mulia,” jawabnya lembut. “Sebaliknya, justru saya yang tidak sopan karena mendadak ingin menemui Yang Mulia seperti ini.”Kaisar tertawa pelan, nada suaranya terdengar tulus. “Kau menantuku. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak permintaanmu.” Ia mengangkat cangkir tehnya. “Katakan, apa yang kau inginkan? Apa
Tangisan Selir Shofia pecah tanpa bisa ditahan lagi. Wanita itu berdiri di sisi pembaringan putranya, kedua tangannya gemetar, matanya merah dan basah oleh air mata yang terus mengalir. Setiap helaan napas Pangeran Keempat terdengar berat, disertai erangan lirih yang membuat dada Selir Shofia terasa seperti diremas kuat-kuat.Seorang tabib tampak tergesa hendak menempelkan kompresan es langsung ke kulit Pangeran Keempat yang memerah dan melepuh.“Tabib,” suara Diana terdengar tegas, memotong gerakan itu dengan cepat. Tangannya terangkat, menghentikan tabib tepat sebelum es menyentuh kulit sang pangeran. “Sebaiknya jangan langsung disentuh dengan kompresan bersuhu dingin.”Tabib itu tertegun. Wajahnya tampak bingung dan cemas di saat bersamaan. “Namun, Putri,” ujarnya gugup, “luka di kulit Pangeran tampak melepuh. Jika tidak segera dikompres—”“Jika dikompres menggunakan es,” potong Diana tanpa ragu, “itu justru akan memperparah gejalanya.”Semua orang di ruangan itu menahan napas.
“Semuanya sudah siap?”Diana berdiri di ambang pintu kediamannya, sorot matanya menyapu cepat ke arah halaman depan yang mulai ramai oleh pelayan dan prajurit pengawal. Nada suaranya tenang, namun ada kilat ketegasan yang jelas terdengar di baliknya.Bibi Erna yang baru saja kembali dari arah belakang mengangguk singkat. “Sudah, Putri. Semua barang yang Anda perintahkan sudah tertata rapi di penyimpanan kereta.”Diana mengangguk puas. Ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ia tahu Bibi Erna bukan tipe orang yang bekerja setengah-setengah. Wanita paruh baya itu sudah bersamanya sejak lama, dan kepercayaan Diana padanya tidak perlu lagi dipertanyakan.“Baik,” jawab Diana singkat.Ia kemudian melangkah keluar dari kediamannya, diikuti oleh Embun dan Bibi Erna di belakang. Langkah Diana ringan namun mantap. Tujuan mereka hari ini jelas—Istana Kaisar. Namun maksud sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar kunjungan sopan.Hari ini, ia datang untuk memancing sesuatu.Saat mereka hampi
“Rasanya aku mendengar suara Tuan Sai tadi?” ucap Diana lirih dengan suara serak khas orang yang baru terbangun. Tangannya masih setengah mengusap mata, mantel hitam bersulam naga yang terlalu besar untuk tubuhnya melorot sedikit di bahunya.Arthur menutup pintu ruang kerja tanpa menoleh. Nada suaranya tetap datar ketika ia menjawab hal yang sama sekali tidak berkaitan. “Tingkatkan disiplinmu saat bekerja agar tidak ketiduran lagi.”Kalimat itu jatuh begitu saja, dingin dan tajam, seolah tidak ada ruang untuk dibantah.Diana yang mendengar itu langsung melotot kesal. Kantuknya menguap seketika, digantikan rasa jengkel yang sudah sangat familiar. Baru bangun tidur, dan orang pertama yang berbicara padanya justru memberi ceramah bijak—dan dari siapa lagi kalau bukan dari pria paling menyebalkan di hadapannya.Disiplin?Memangnya karena siapa dirinya sampai selelah ini?Sudah berkali-kali ia katakan bahwa hari ini ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk meneliti tanaman herbal b
Aktivitas di Istana Putra Mahkota akhirnya kembali seperti semula setelah apa yang oleh para pelayan disebut dengan penuh kehati-hatian sebagai permasalahan internal rumah tangga antara Diana dan Arthur. Tidak ada yang berani bertanya lebih jauh, tidak pula ada yang mencoba berspekulasi secara terbuka. Di balik tembok tinggi Istana, setiap bisikan selalu menemukan jalannya sendiri untuk mati sebelum sempat tumbuh menjadi gosip.Langit di luar jendela ruang kerja telah berubah menjadi biru gelap yang pekat. Lampion-lampion istana mulai menyala satu per satu, cahaya kuningnya memantul lembut pada kisi jendela kayu berukir naga. Namun meski malam hampir sepenuhnya turun, dua sosok di dalam ruang kerja itu masih duduk bersebelahan, tenggelam dalam kesunyian yang anehnya tidak terasa canggung.Diana duduk di kursi kecil di samping meja kerja Arthur, posisi yang kini terasa semakin akrab baginya. Kedua tangannya terus bergerak menggiling tinta di atas batu tinta hitam, gerakannya mekan







