Malam itu, Julian duduk bersandar di kursi kulitnya yang mahal, kakinya terangkat santai ke atas meja. Di tangan kanannya, ia memutar-mutar gelas kristal berisi wine engan seringai kemenangan.Akhirnya. Selesai sudah.Rencananya berjalan lebih mulus dari dugaan. Evelyn Sterling ternyata memang sebodoh yang ia kira. Wanita itu hanyalah gadis manja yang rapuh, haus validasi, dan menginginkan jalan pintas. Hanya dengan sedikit ancaman manis dan janji palsu, gadis itu langsung bertekuk lutut."Anjing yang manis" gumam Julian, menyesap winenya. Ia membayangkan wajah hancur Victor besok pagi saat putrinya sendiri memberikan kesaksian yang memberatkan Adriana.BRAK!Pintu ruang kerja itu dibanting terbuka dengan kasar, menghantam dinding hingga membuat getaran yang menghentikan lamunan Julian seketika.Julian menurunkan gelasnya perlahan. Matanya menyipit tajam, menatap sosok yang berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Nolan, asisten pribadinya."Kau melupakan sopan santunmu, Nolan?"
Last Updated : 2026-02-03 Read more