เข้าสู่ระบบInsulting berjuntai tajam pada tenggorokan yang tak mampu berucap. Jarang sekali—bisa dihitung jari—Elena begitu cepat kalah debat dengan manusia nomor satu paling dibencinya.
Dokumen itu masih dicengkramnya. Di balik kuku-kuku yang menancap tajam, Elena menahan diri untuk tak menampar wajah cantik yang selalu Ia dambakan. Ujung kertas bergetar bukan karena takut, melainkan, emosi yang tak bisa Ia keluarkan. “Fuck. Do whatever you want.” Sepatu berhaknya turun s—gggrrrr.“Ha—ahhhnnn!”—ddrrrttt.“Ugh.”“Nghhh.”“Huu.”—zzztttttt.“Argh! C-Christ—““Ggrrrhhhh.”—bbzzztt.“Hmpp—AGGHHH.”“Hm.”Buka, tutup, kunci sebelah meja Orlencia Lacquer Console. Sebelah tangan memangku dagu, ekspresi tak puas. Lapisan beludru gelap Noirvelvet Lining di dalamnya—rapi, bagai rak-rak perhiasan kecil. Sang pemilik mendaratkan tatap analisis di sana.“Hm.” Christine bergumam lagi. Latar belakang suara getara, desahan, sentakan, jeritan, erangan, tak dipedulikan. Fokusnya menyerap pada deretan sex toys dalam etalase berlogo Christine’s Intimates Collection. Memilih, menghitung.Sex toys mana lagi yang harus Ia coba ke tubuh J
Cloudrest Premier Layer matrass memantul dari punggung yang diinjak oleh sebuah telapak. Sedikit saja Jonathan bergerak, jari-jemari kaki Christine akan menekan batang lehernya. Jempol kaki ramping menusuk di situ—tepat, menyambung pembuluh darah arteri. Tanda, berani Jonathan melawan, aliran darah di otaknya jadi taruhan.Knot simpul dasi milk cotton dalam sekali tarik lepas. Dari belakang, Christine menarik angkat kemeja putih Jonathan dan membuangnya. Sebelah tangan gadis itu sibuk pada ponsel yang sedang tersambung pada seseorang. Sedikit, Jonathan ingin mengintip. Tau mangsanya berani menantang, Christine injak kepala Jonathan dengan kakinya.Hingga terselundup ke busa ranjang.“Dimana? Di kampus?” Suara Christine, setelah disambar oleh seseorang dari balik sambungan ponselnya.“Tau brankas yang itu? Iya, hitam. Yang itu. Safe code-nya udah kucabut. Kau tinggal ambil, bawa ke alamat
“Mhn.”Sisi sebelah wajahnya berdenyut.Tangan mencengkram. Pecah satu nada forte dari lempengan bibir yang terus menggeser, menyudut, cornered segala kemampuan sang pemuda dari melawan. Ciuman tadi datang berantakan daripada terburu-buru, terkesan sangat provokasinya adalah untuk membuat Jonathan bungkam.Jonathan justru, kehilangan seluruh kata.Paha-pahanya gemetaran. Jari-jemari tadi sempat melawan, jatuh tergeser tanpa tenaga. Di atasnya—menangkup wajah Jonathan dengan kedua tangan—Christine, merasakan itu. Sebagaimana ekor sang pemuda tak berdaya di dalam jaringnya.Gadis itu—di dadanya, perlahan mulai merambat rasa bersalah.Mood-nya untuk mendominasi, jadi pasang surut. Lambat-laun, gerak posisi duduknya bergeser. Christine mengusap wajahnya yang terasa lelah. Bersalah. Lagi, ketidaksabarannya mulai menyetir situasi. Christine kembali ke posisi duduknya setelah meningg
—gulp.Christine menjilat bibir.‘Manis juga,’ pikirnya, ‘cowok ini kalau marah.’“Listen, aku—““Kamu juga enggak harus—““Y-yang tadi, ortu kamu, kan?”“Aku enggak pengen ada trouble in the future. Baiknya mulai sekarang, kita—“‘Yes, yes. Whatever you say, cutie.’ Christine gatal sekali ingin mengatakan itu.Di balik kaca mobil brand Clarion Panoramic Windshield dimana lelampu sekolah terpantul ke wajah mereka. Sisa-sisa pesta pernikahan pada lontano moderato di pita suara para penyanyi harmonic choir. Mobil Jonathan membelakangi para tamu-tamu di gerbang keluar, beberapa dari mereka pulang ke rumah masing-masing.Ributnya, kacaunya, tak satupun singgah di telinga sang gadis. Di dalam kabin mobil, Christine menikmati sang
“Please, satu jam—bukan, setengah jam. Aku minta setengah jam break. Nanti susul Louis lagi.” Lengan ramping terangkat, jarum panjang arloji Vertaine Lumière Rose Edition tampak. Christine geser digital alarm jam tangannya turun beberapa milisenti. Sisi lain dari dirinya, masih menghadapi sang Papa dengan sejuta kemauan.Matanya ikut terpejam sebentar. Napasnya berkali-kali turun dan tak satupun kecemasan selesai. ‘Louis sialan,’ dalam pikir gadis itu. Ia sambar ponsel satunya untuk menginformasi sekretaris—Cleo—kelabakan. Andai tadi Christine buru-buru bawa Jonathan pergi, Louis tidak perlu melihat, dan dirinya tak perlu disemprot kedua orang tua.Pria lima tahun beda dari dirinya tadi—Louis Xiang, teman masa kecil yang dulu sempat jadi kakak kelasnya. Di antara semua lelaki orang tuanya jodohkan, Louis satu-satunya yang bisa Christine toleransi.Bukan berarti ga
Dua tangan refleks mencari pegangan pada sisi Valmere Gold Crest Chair, tegang napas patah menjadi potongan pendek. Usaha keras Jonathan agar tak terjerembab ke dada gadis di depannya—Christine, menarik leher dasi Jonathan sekuat tenaga. Pemuda itu telah menunjukkan tanda-tanda hilang napas—tercekik, pun, Christine tak mempedulikan belas kasihan.“Coba ngomong,” suara Christine berubah rendah. “Kamu tadi telpon, terus dimatiin. Apa? Ada apa? Cepat ngomong.”“Enggak. Sorry, Christ. Tadi salah pencet,” gemetaran, Jonathan akhirnya bisa jawab. Sebisa mungkin pemuda itu alihkan wajah ke samping. Gestur perintah Christine untuk menatapnya benar-benar di abaikan.“Hah?” Tarikan pada leher dasi Jonathan terlepas, sang gadis mundur sedikit. Belahan samping sanggulnya Ia remas—kencang—sebagai ledakan emosi. Jonathan dilihatnya dari atas; mungkin jika ini adalah hari-hari
Julius menutup separuh wajah pucatnya dengan punggung tangan. ‘Fuck. What did you do to this boy? Fucking chris,’ batinnya memburu. Pemuda bertindik itu mengusap punggung lehernya—kikuk bukan main. “Err, Christ ada di dalam, kan? Kau mau masuk? Atau pulang?” tanyanya. Berbasa-basi.
Buih cairan antiseptic pencuci mulut menyisakan rasa pahit mengigit sampai ke pangkal lidah. Kepalanya terus merunduk di hadapan ember transparan, hingga seluruh cairan itu keluar. Tetes air matanya jatuh tak beraturan. Sambil terbatuk-batuk, Jonathan paksa wajahnya mendongak. “A-A
Cumbu amatir yang mengantarkan ke sekujur tubuhnya.Bibir basah menempel terlalu lama. Tak hanya pinggangnya—pinggulnya, bergetar sebagaimana dansa di lidah mereka. Detik-detik cumbu mereka menekan terlalu lama, bukan sebab sang pemuda dibanjiri nafsu. Melainkan, Jonathan takut Christine
“S-Sebentar—” Tangan Olivia tersendat di udara. Tamunya itu telah mangkir dari ruangan bahkan sebelum memberikan Olivia kesempatan apa-apa. Balon helium yang diikat pada kaki meja tadi, Olivia sambar. Beberapa kotak kado yang—sangat—berat wanita itu peluk. Langkahnya tertatih mengikuti gerak jala







