ANMELDENInsulting berjuntai tajam pada tenggorokan yang tak mampu berucap. Jarang sekali—bisa dihitung jari—Elena begitu cepat kalah debat dengan manusia nomor satu paling dibencinya.
Dokumen itu masih dicengkramnya. Di balik kuku-kuku yang menancap tajam, Elena menahan diri untuk tak menampar wajah cantik yang selalu Ia dambakan. Ujung kertas bergetar bukan karena takut, melainkan, emosi yang tak bisa Ia keluarkan. “Fuck. Do whatever you want.” Sepatu berhaknya turun sJulius menutup separuh wajah pucatnya dengan punggung tangan. ‘Fuck. What did you do to this boy? Fucking chris,’ batinnya memburu. Pemuda bertindik itu mengusap punggung lehernya—kikuk bukan main. “Err, Christ ada di dalam, kan? Kau mau masuk? Atau pulang?” tanyanya. Berbasa-basi. Pandangan Jonathan terbuang pada pekarangan taman yang basah terguyur hujan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, dingin, tanpa minat menjawab. “Pulang,” balasnya, singkat. Lawan bicaranya ditinggal untuk memikirkan alur percakapan sendiri. Julius kembali berdeham. “Oh, begitu,” sahutnya, hilang kata-kata. Kikuk mendadak menyerang tengkuknya. “Kalau gitu, gue—aku masuk duluan. Kau bawa mobil, Jo?” Coat panjangnya dilepas setengah jalan. Setelah masuk ke dalam mansion, udara terasa pengap. Berbeda dengan kondisi di luar yang terus menumpahkan badai hujan. Julius mengamati pekarangan di hadapannya yang hampir tak berbentuk. Lalu, mengamati sosok sauda
Buih cairan antiseptic pencuci mulut menyisakan rasa pahit mengigit sampai ke pangkal lidah. Kepalanya terus merunduk di hadapan ember transparan, hingga seluruh cairan itu keluar. Tetes air matanya jatuh tak beraturan. Sambil terbatuk-batuk, Jonathan paksa wajahnya mendongak. “A-Aku,” pahit di tenggorokan mengacaukan suaranya. “A-aku t-t-tidak—” Christine masih di sana. Tangan melipat depan dada. Tegap. Tidak mencemooh, juga tidak mencaci maki. Kemejanya putih bersih berlawanan dengan kondisi kacau Jonathan. Dari segala macam—hingga pindah ruangan—Jonathan mengira mereka sudah baikan. Rupanya Christine masih menyimpan dendam. Punggung tangannya gemetaran menyeka benang-benang saliva di bibirnya, “S-Sudah k-kubilang, aku enggak bertemu Sie,” ucapnya, bersikeras. Entah Christine mendengar atau tidak, gadis itu berpindah posisi ke sederet benda-benda aneh pada lemari kacanya. Membawa sesuatu—Christine memiring
Cumbu amatir yang mengantarkan ke sekujur tubuhnya.Bibir basah menempel terlalu lama. Tak hanya pinggangnya—pinggulnya, bergetar sebagaimana dansa di lidah mereka. Detik-detik cumbu mereka menekan terlalu lama, bukan sebab sang pemuda dibanjiri nafsu. Melainkan, Jonathan takut Christine tiba-tiba menolak sentuhannya.Masih di atas pangkuan Christine. Masih, dengan cumbunya yang terasa basi. Jonathan menelan benang saliva yang menggantung di antara bibir mereka. Gadis itu tetap diam. Tidak menolak, tidak menyanggah, juga tidak membalas. Kedua tangan Christine terlipat tanpa minat. Dibiarkannya Jonathan yang sibuk menjelajah sesi mulut mereka. Tak satupun undangan cumbu yang Christine terima. Binar hidup di matanya telah meredup, membuat Jonathan mendesah depresi.“Christ…” suara Jonathan merendah. Wajahnya ditidurkan pada dada dingin gadis itu, memohon. “I’ll do whatever you want. Just, please, don’t ignore me.”Jam dinding berdenting. M
Suara krek tadi menyentak Dewi hingga pada delikan mata. “Astaga, Jo—tanganmu!” Wanita itu buru-buru meletakkan garpunya, segera mengambil sesuatu untuk menghentikan pendarahan.Sang mantan ibu mertua terlalu tergesa hingga melupakan kestabilan pijakan kakinya. Kotak obat yang Dewi bawa tersangkut pada pinggiran meja, wanita itu jatuh tersungkur menabrak tubuh sang pemuda. Untung, Jonathan cepat-cepat menangkupkan kedua tangan pada kepala wanita itu.Hampir saja, Dewi Halim menghantam patung kaca milik Henri di ruangan makan. Setelah mengaduh kesakitan, Dewi bangkit dan meminta maaf. Jonathan tak punya cukup waktu untuk membiarkan Dewi mengobati tangannya. Ada sesuatu yang harus Ia pastikan. Malam ini juga.Wanita itu mengerutkan kening, pada Jonathan yang mendorong kursi makannya hingga berdecit nyaring. “Hujan deras begini, betulan kamu mau pulang?” tanyanya. Jonathan, mengangguk cepat. Mengemasi barang-barangnya.“Maaf, Tante. Jo jelaskan nanti
“S-Sebentar—” Tangan Olivia tersendat di udara. Tamunya itu telah mangkir dari ruangan bahkan sebelum memberikan Olivia kesempatan apa-apa. Balon helium yang diikat pada kaki meja tadi, Olivia sambar. Beberapa kotak kado yang—sangat—berat wanita itu peluk. Langkahnya tertatih mengikuti gerak jalan Christine yang pergi dengan emosi.Olivia—Tantenya Jonathan—menyusul hingga ke teras depan. Beberapa kotak hadiah dalam pelukannya berceceran ke tanah. Tak sempat lagi Olivia memungut, cemas Christine langsung meninggalkannya.“Tunggu, Nak,” cegah Olivia, langkahnya terhenti dengan napas tersengal-sengal. Wanita itu melirik lagi ke dalam vila mereka, lalu ke hadapan Christine. “Kadonya, kamu lupa. Dan jangan lupa juga kuenya. Di vila ini tidak ada lemari pendingin, tante takut kuenya jadi rusak…”Langkah Christine berhenti tepat sebelum menjejaki anak tangga pertama. Rumbah gaun di bahunya tersibak akibat tolehan leher tajam. Wajah dingin itu membaur lunak, demi
Insulting berjuntai tajam pada tenggorokan yang tak mampu berucap. Jarang sekali—bisa dihitung jari—Elena begitu cepat kalah debat dengan manusia nomor satu paling dibencinya. Dokumen itu masih dicengkramnya. Di balik kuku-kuku yang menancap tajam, Elena menahan diri untuk tak menampar wajah cantik yang selalu Ia dambakan. Ujung kertas bergetar bukan karena takut, melainkan, emosi yang tak bisa Ia keluarkan. “Fuck. Do whatever you want.” Sepatu berhaknya turun satu tangga lebih jauh. Cahaya pada samping jendela besar ujung koridor memotong raut wajah memerahnya—setengah matang, gagal membawa throphy yang diinginkan. Milky tak lupa Ia sambar. Elena tak menunggu para pelayan mengantar untuk dibanting kasar pintu besar itu, hingga seluruh mansion menggema oleh kemarahannya. Bungkus-bungkus amplop tadi berserakan di bawah tempat Christine berdiri. Gadis itu mengusap wajahnya lagi. Pagi belum berakhir, hidupnya sudah penuh dengan tinta drama







