Tangan kiriku bergerak perlahan menyisir rambut hitam Shella yang sekarang terasa agak lembap karena keringat. Aku memainkan ujung rambutnya, memilin-milinnya pelan, lalu menyelipkannya ke belakang telinganya agar aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.Posisi kami masih sama, dia menyandarkan kepalanya di bahu kananku, menempelkan pipinya di dada telanjangku, sementara tangannya melingkar erat di pinggangku seolah takut aku akan lari.Aku menundukkan kepala sedikit, lalu mengecup ubun-ubun kepalanya dua kali, cukup lama."Kamu tuh cewek paling keras kepala yang pernah aku kenal, Shell. Tapi sekuat-kuatnya batu karang, kalau dihantam ombak terus ya pasti kegerus juga," bisikku tepat di telinganya. "Nggak usah sok kuat terus di depan aku. Sekarang cuma ada kita berdua, nggak ada mama kamu, nggak ada Bu Darmi, Mbak Inem, Pak Budi, sama dua adikmu. Kamu bebas mau ngeracau kayak gimana, aku bakal dengerin semua keluh kesahmu!"Shella diam saja, tapi aku bisa merasakan bahunya mulai berget
Last Updated : 2026-01-05 Read more