MasukMatahari siang memancarkan terik yang membakar aspal ibu kota, namun di dalam kamar Executive Suite lantai atas hotel bintang lima itu, aroma parfum mahal berpadu desau penyejuk udara.Di atas ranjang king-size bernuansa putih, Valerie Collins bersandar pasrah dalam dekapan Dimitri. Rambutnya berantakan di atas bantal, dan napas dosen cantik itu terengah-engah keras. Kulit mulusnya merona merah, sementara matanya terpejam dengan binar kepuasan."Dimitri..." desah Valerie, mengusap dada bidang pemuda yang berada di atasnya. "Kamu... kamu benar-benar pria yang mengerikan..."Dimitri tidak membalas desahan wanita itu. Jemari tangannya yang panjang meremas seprai sutra di bawah tubuhnya.Meskipun tengah menyalurkan hasrat di atas ranjang, pikiran Dimitri sama sekali tidak berada di sini.Skenario penghancuran nama Aira berjalan seratus persen sempurna. Penetapan status tersangka, cercaan media, hingga raut wajah Aira yang pucat pasi di samping Adriel sudah berhasil ia lihat. Kemenangan ha
"Aira... dengarkan Kakek secara bijak, Nak," tukas Guntur. "Adriel tidak mungkin ikut pergi meninggalkan Indonesia saat ini."Aira mendongakkan kepalanya, bingung. "Kenapa, Kek? Kenapa Adriel tidak bisa ikut bersamaku dan EJ? Bukankah kalau kita pergi, kita harus pergi bersama sebagai satu keluarga?"Guntur mengelus punggung tangan Aira."Adriel bukan sekadar suamimu, Aira. Dia adalah CEO Varmadeo Group," tegas Guntur. "Saat ini, posisinya memegang kendali penuh atas puluhan anak perusahaan, ribuan karyawan, dan pergerakan bursa saham yang sedang diguncang oleh aksi borong saham dari perusahaan gelap di belakang Dimitri.""Tapi Kakek, perusahaan itu punya banyak direksi! Ada tim hukum, ada Marcus!" seru Aira, matanya memerah menahan tangis. "Kenapa harus Adriel yang mengorbankan keberadaannya di sini?!""Karena Adriel adalah wajah utama dari klan Varmadeo saat ini, Aira!" jawab Guntur dengan tenang.Guntur menarik napas dalam-dalam."Jika Adriel tiba-tiba melepaskan jabatannya dan men
Aira terpaku. "K-Kakek... bicara apa...?" tanya Aira syok. "Pergi... pergi ke luar negeri...?"Guntur memegang tangan Aira yang dingin, meremasnya. "Ini demi kebaikanmu, Aira. Demi kebaikanmu dan EJ."Aira menggelengkan kepalanya pelan, lalu menarik tangannya dari genggaman Guntur. "Aku tidak paham, Kek," ungkap Aira. "Bukankah Kakek baru saja bilang... bahwa Kakek dan tim hukum Ragendra akan mengambil alih berkas lima puluh miliar itu? Bukankah nama baikku akan dibersihkan dan kas pribadi klan yang akan mengganti kerugian yayasan?""Memang benar, Nak," sahut Guntur pelan. "Skenario hukum itu sudah dipersiapkan.""Lalu kenapa aku harus pergi?!" potong Aira cepat. "Jika masalah hukumnya sudah selesai... jika status tersangkaku sudah dicabut... untuk apa aku harus melarikan diri ke luar negeri?" Guntur menghembuskan napas panjang, meratapi kepolosan cucunya."Pembersihan nama itu tidak akan pernah menghentikan dendam di dalam kepala Dimitri, Aira..." tutur Guntur.Aira menelan ludah.
Aira duduk terpaku di salah satu sisi meja, mengaduk-aduk bubur ayam di mangkuk porselennya tanpa selera. Di seberang meja, Adriel menyantap rotinya secara teratur, namun tatapan matanya menatap lurus ke depan.Keduanya tenggelam dalam pusaran emosi masing-masing.Siti, salah satu pelayan mansion, melangkah masuk ke ruang makan."T-Tuan... Nyonya..." panggil Siti dengan suara bergetar. "Tuan Besar Guntur Ragendra datang. Beliau... beliau ingin bertemu sekarang juga."Aira seketika mendongak, menatap Adriel terkejut. Adriel berdiri dari kursi makan tanpa membuang waktu."Bawa Kakek ke ruang keluarga utama," perintah Adriel.Roda besi kursi roda itu berderit sewaktu Prabu mendorongnya melintasi karpet tebal ruang keluarga mansion.Guntur Ragendra duduk termenung di atas kursi roda tersebut. Adriel dan Aira melangkah masuk ke ruangan."Aira... cucuku..." tukas Guntur dengan suara parau.Aira tidak sanggup menahan rasa harunya. Wanita itu berlari kecil mendekati kursi roda kakeknya, lalu
Suasana di dalam kabin sedan mewah yang melaju membelah ibu kota menuju mansion terasa begitu dingin. Tidak ada percakapan antara pasangan suami istri yang duduk berdampingan di jok belakang tersebut.Adriel bersandar kaku, menatap lurus ke luar jendela. Di sebelahnya, Aira meremas gaun dengan kedua tangan yang gemetar. Wanita itu terus menundukkan kepala, menahan isak tangis.Begitu mobil berhenti di pelataran mansion dan pengawal membukakan pintu, Adriel langsung melangkah keluar tanpa sedikit pun membantu Aira.Aira menyusul dari belakang. Langkah kakinya terasa begitu berat.Aira menghentikan langkahnya di dekat ambang pintu, menatap punggung Adriel yang sedang berdiri membelakanginya di dekat meja kerja, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan kasar."Adriel..." panggil Aira.Adriel tidak menyahut. Pria itu melempar dasinya ke atas meja, lalu menghembuskan napas panjang yang amat berat."Sampai kapan kamu mau memperlakukanku seperti ini?!" seru Aira, suaranya bergetar naik sat
Kilatan lampu dari puluhan kamera jurnalis menyala tak henti-hentinya di pelataran pintu masuk, menciptakan gelombang cahaya putih yang menyilaukan mata. Puluhan awak media berebut posisi, menodongkan mikrofon sewaktu rombongan Varmadeo Group melangkah masuk menyusuri lorong utama menuju ruang pemeriksaan.Aira berjalan pelan di samping Adriel.Wajahnya tampak pucat. Di sebelahnya, Adriel berjalan dengan posisi tegap, menatap lurus ke depan. Sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ke arah Aira, tidak pula menggenggam tangan istrinya.Jarak emosional yang memisahkan mereka berdua terasa begitu nyata dan menyiksa hati Aira."Posisikan dirimu di belakang tim pengacara kita, Aira," tutur Adriel sangat pelan. "Jangan menjawab pertanyaan apa pun dari media."Aira menelan ludah, mengangguk pasrah. "Baik..."Saat rombongan mereka mendekati pintu ruang pemeriksaan, Dimitri melangkah mendekat.Di sampingnya, Valerie Collins berjalan menggandeng lengan Dimitri dengan erat, menyunggingkan seny
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Sela







