MasukBibir Dimitri yang kering bergetar pelan, sebelum akhirnya sebuah tawa penuh kepahitan meledak. Rantai borgol di pergelangan tangannya bergemerincing sewaktu bahunya berguncang."Halo?" kekeh Dimitri dengan suara serak yang memuakkan, menatap Aira dengan kebencian. "Hanya itu? Setelah semua yang kamu dan suami iblismu itu lakukan padaku, kamu datang hanya untuk berbasa-basi?"Aira tidak terpancing. Ia duduk tenang. "Aku datang untuk melihat keadaanmu, Dimitri. Dan untuk menyelesaikan satu urusan terakhir yang masih mengikat kita berdua.""Menyelesaikan urusan?" potong Dimitri cepat. Matanya berkilat beringas. "Apalagi yang mau kamu selesaikan, Aira?! Apalagi yang mau kamu ambil dariku?! Rumah Menteng sudah jatuh ke tangan pesuruh itu! Seluruh harta Guntur sudah masuk ke kantongmu! Rekeningku dibekukan! Aku sudah membusuk di tempat jahanam ini! Apalagi yang kamu inginkan?!""Aku tidak pernah berniat mengambil apa pun yang bukan hakku. Semua yang terjadi padamu saat ini adalah hasil dar
Pagi yang cerah di awal bulan Desember terasa begitu hangat, setelah tiga bulan berlalu sejak badai besar mereda."EJ! Sayang, pelan-pelan larinya! Nanti kamu menabrak meja, Nak!" seru Aira, setengah berlari menyusuri lorong berlantai marmer.Si kecil EJ kini sudah genap berusia satu tahun. Ia tampak berlari lincah dengan kaki-kaki mungilnya. Balita cantik yang mengenakan gaun katun bermotif bunga matahari itu tertawa kegirangan, menoleh ke belakang untuk melihat ibunya yang kewalahan mengejar."Nona EJ! Ya ampun!" seru Nora yang ikut berlari kecil dari arah berlawanan, mencoba mencegat laju si balita.EJ memekik girang. Ia tiba-tiba berbelok tajam ke arah pintu kamar utama yang terbuka separuh, mencoba menghindari hadangan Nora.Namun, sebelum tubuh mungil itu berhasil menerobos masuk, Adriel sudah lebih dulu menangkapnya dari ambang pintu. Adriel mengangkat tubuh putrinya tinggi-tinggi ke udara, membuat EJ kembali tertawa yang nyaring."Mau lari ke mana jagoan kecil Papa, hm?" goda
Aira berdiri diam bersandar pada kusen pintu kaca balkon yang terbuka separuh. Ia membiarkan angin pagi membelai helai-helai rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia menatap jauh ke hamparan langit. Pagi ini, langit ibu kota tampak begitu cerah dan bersih, seolah badai yang sempat mengguncang telah disapu bersih tanpa menyisakan awan sedikit pun.Aira menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan.Klek.Suara putaran kenop pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunan Aira. Ia memutar tubuhnya perlahan.Adriel melangkah keluar dari balik pintu kaca buram tersebut. Ia baru saja selesai mandi. Langkah kaki Adriel melambat saat matanya menangkap siluet sang istri.Aira berdiri di ambang balkon, bermandikan pendaran cahaya keemasan pagi yang membuat gaun satin gadingnya seolah bercahaya. Wajah cantik istrinya itu tampak begitu damai.Adriel mendekat tanpa bersuara.Aira tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya memiringkan kepala, menyunggingkan senyuman manis sewaktu melihat su
"Apa maksudmu jadwalku dibatalkan?!" jerit Dimitri. "Minggir! Singkirkan barikade itu sekarang juga!"Marcus tidak bergeser. Pria bertubuh raksasa itu hanya melipat kedua tangannya di belakang punggung, membiarkan air hujan menetes membasahi kemejanya."Berapa Adriel membayarmu, hah?!" gertak Dimitri. "Katakan padaku! Berapa nilai kesetiaanmu pada pria sombong itu?! Sepuluh miliar?! Dua puluh miliar?! Buka jalannya sekarang juga, dan aku akan mentransfer lima puluh miliar ke rekening pribadimu! Kau bisa pensiun dan hidup seperti raja!"Marcus perlahan memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyuman tipis yang mencemooh."Anda benar-benar tidak memahami cara kerja dunia ini, Tuan Dimitri," ucap Marcus. "Kesetiaan tidak memiliki harga. Dan terlebih lagi, dengan apa Anda akan membayar saya? Apakah dengan rekening cangkang Anda yang satu jam lalu telah dibekukan?"Dimitri tersentak. "K-Kau...""Simpan marah Anda, Tuan," potong Marcus tenang, melangkah mundur.Dari balik barikade tersebut,
Adriel duduk di balik meja kerjanya. Matanya fokus menatap layar ponsel.Di layar tersebut, tampak wajah Notaris Hendrawan dan Prabu yang masih berada di dalam ruang kerja kediaman Menteng."Laporan diterima, Prabu," timpal Adriel. "Apakah tikus kecil itu menyerangmu saat diusir?""Dimitri sempat mengamuk, Tuan Adriel," lapor Prabu. "Namun tim keamanan telah menyeretnya keluar."Adriel menyunggingkan sebuah senyuman tipis."Kerja yang sangat luar biasa, Prabu, Bapak Hendrawan," puji Adriel. "Ini adalah kehormatan bagi saya untuk menjaga rumah almarhum Tuan Besar, Tuan Adriel," sahut Prabu. "Saya hanya berharap Nyonya Aira bisa menemukan kedamaian setelah semua badai ini berlalu.""Akan saya pastikan istri saya mendapatkan kedamaian itu, Prabu," sahut Adriel. "Marcus akan mengirimkan satu kompi tambahan dari pasukan Varmadeo untuk berjaga di sana malam ini.""Siap, Tuan Adriel. Terima kasih banyak."Layar monitor mati setelah panggilan diakhiri.Adriel menarik napas perlahan, merapika
"BAJINGAN KALIAN SEMUA!"Jeritan histeris Dimitri menggelegar."Pak Dimitri... tolong tenangkan diri Anda!" bisik salah satu pengacaranya dengan nada panik, berusaha menarik lengan kliennya agar mundur selangkah."Lepaskan tanganku!" sentak Dimitri kasar, menepis tangan pengacaranya hingga pria berjas itu terhuyung ke belakang."Kalian pikir aku bodoh, hah?!" desis Dimitri. "Surat wasiat itu pasti hasil rekayasa kalian! Guntur Ragendra tidak mungkin menyerahkan seluruh aset klan kepada Aira, apalagi menyerahkan rumah tua ini kepada seorang pesuruh sepertimu, Prabu! Aku akan menuntut kalian ke pengadilan! Aku akan membawa tim untuk membongkar kebohongan ini!"Notaris Hendrawan membenarkan letak kacamata tipisnya dengan gerakan yang teramat tenang. Pria paruh baya itu sama sekali tidak gentar."Silakan saja jika Anda ingin menempuh jalur hukum," sahut Notaris Hendrawan. "Namun, saya ingatkan kembali, dokumen ini telah melewati uji forensik negara dan disaksikan oleh penyidik resmi saat
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Sela







